
Hampir subuh Zahrana belum juga tersadar. Mata Ajis telah sembab menungguinya, berharap bisa dengan segera meminta maaf kepada istri tercantik dan tercintanya itu.
Ia hanya berkata-kata sendiri mengucapkan kata maaf sambil menggenggam tangan Zahrana yang lemah. Terkadang ia berdiri mengitari ruangan sambil tersenyum-senyum sendiri membaca buku yang diberikan Hidayat kemarin sore. Ia sama sekali belum tertidur barang sepejam pun dari semalam.
Berkali-kali ia menyeka air matanya, meski bibirnya itu menyunggingkan senyuman mengingat masa-masa indah yang ia lewati bersama istrinya, karena membaca tulisan istrinya itu sendiri.
Hidayat juga masih berada di rumah sakit itu. Hanya saja ia lebih tabah. Ia memerhatikan kakak iparnya yang terlihat lebih menyedihkan darinya. Ia tidak mampu menjadi penenang, karena ia sendiri juga tidak tenang melihat kondisi kakaknya.
Telepon Hidayat bergetar, ternyata ayahnya yang menelepon. Keluarganya dari kampung baru saja sampai di parkiran rumah sakit.
Semalam Hidayat mengabarkan kepada ayahnya bahwa Zahrana sakit dan dibawa ke rumah sakit. Ia belum menceritakan secara detail tentang penyakit kakaknya itu, hanya saja ia meminta semuanya datang ke sana.
Ia juga mengabarkan Maira dan meminta adik dari suami kakaknya itu untuk datang bersama orang tuanya. Hidayat tahu, yang dibutuhkan kakaknya hanyalah berkumpul bersama orang-orang yang disayanginya, mengingat parahnya kondisi kakaknya saat itu.
"Bang Ajis, Hidayat keluar dulu. Keluarga kita sudah berada di parkiran." Pamit Hidayat.
"Bang Ed jadi carter mobil, Yat?" Tanya Ajis terdengar parau.
"Iya, Bang... Alhamdulillah muat semua. Ada Maira dan ayah ibu Abang juga..." Jawab Hidayat.
"Alhamdulillah... Terima kasih, Yat..." Ucap Ajis tampak sendu.
Hidayat hanya tersenyum kemudian berlalu keluar ruangan menuju parkiran. Setiap langkah, ia merasa dadanya begitu sesak. Pikirannya mencoba merangkai kata-kata untuk ia utarakan kepada keluarganya tentang kondisi kakaknya saat itu.
Ia tahu, setelah mendengar penjelasannya nanti, orang tuanya pasti akan terpukul dan bersedih hati. Tidak hanya ayah dan ibunya, akan tetapi juga mertua kakaknya itu.
Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika matanya mendapati suami Rianur dari kejauhan tengah menunggui dirinya. Ia menarik napas dalam-dalam lalu melanjutkan kembali langkahnya.
"Bu, Yah... Itu Hidayat..." Seruan Edi terdengar memanggil mertuanya.
__ADS_1
Para orang tua itu bergegas mengejar posisi Hidayat. Mereka seolah tidak sabaran menanyai keadaan Zahrana.
"Bagaimana keadaan kakakmu, Yat? Kok tiba-tiba mendadak sakit begitu?" Tanya bu Zainab dengan bibir bergetar.
Hidayat hanya tersenyum lalu menyalami ibunya itu. Ia kemudian memeluk ibunya dengan sangat lama. Matanya kembali basah dan memerah.
"Bagaimana dalam perjalanan kesini, Bu? Aman?" Tanya Hidayat mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulillah, aman..." Jawab ibunya.
Hidayat bergantian menyalami ayahnya lalu mertua kakaknya dan semua yang datang. Ia lalu mengambil alih Faiz yang tertidur dalam gendongan kakaknya.
"Kita duduk disana saja dulu ya, Bu..." Ajak Hidayat sembari menunjuk kearah bangku panjang di lorong rumah sakit.
Ibunya mengangguk. Mereka semua berjalan ke bangku panjang yang berada tidak jauh dari posisi mereka semula.
"Kak Zahra menderita kanker lambung stadium akhir, Bu, Yah..." Ucap Hidayat dengan bibir bergetar. Tangis yang dari semalam ia tahan, akhirnya pecah juga. Tubuhnya bergetar hebat. Ia peluk Faiz semakin erat ke dadanya.
Semua ternganga mendengar penjelasan Hidayat mengenai kondisi Zahrana. Maira tampak menggeleng-gelengkan kepala seolah tidak percaya akan penuturan Hidayat.
"Sejak kapan kakakmu sakit begitu, Yat? Kakakmu biasanya selalu sehat? Ia tidak pernah mengeluhkannya kepada Ibu..." Entah sebuah pertanyaan, entah pula sebuah protes yang diucapkan ibunya, namun raut paruh baya itu benar-benar terlihat terpukul.
"Ibu kan tahu, kak Zahra memang selalu begitu... Kak Zahra tidak pernah membagi kepedihannya kepada siapapun, bahkan kepada bang Ajis sekalipun. Kak Zahra selalu menanggungnya sendiri..." Tekan Hidayat.
"Tapi kak Zahra bisa sembuh lagi kan, Bang?" Tanya Maira menyeruak. Ia terlalu menyayangi kakak iparnya itu, sehingga ia tampak berharap dengan pertanyaannya sendiri akan dijawab bisa oleh Hidayat.
Hidayat menggeleng pelan. "Entahlah, Maira... Doakan kakak kita ya..." Tampak keputusasaan pada wajah Hidayat.
"Boleh kami melihat nak Zahra, Nak? Ibu merindukan menantu ibu..." Tanya ibu Ajis seolah memohon.
__ADS_1
"Kak Zahra belum sadar, Bu... Sebentar lagi azan subuh, kita mending ke musholah saja dulu. Yang mau mandi bisa mandi disana. Pasti gerah, kan? Semalaman di dalam mobil? Nanti habis shalat, kita bisa lihat kak Zahra..." Bujuk Hidayat.
Semua mengangguk setuju lalu bersiap ke musholah rumah sakit yang berada di paling ujung.
*****
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh..." Desir Ajis sembari menolehkan wajahnya ke kanan, lalu bergantian ke kiri sambil mengucapkan kalimat yang sama.
Ajis baru saja usai melaksanakan shalat subuh di dalam ruangan tempat Zahrana dirawat. Ia menoleh dengan begitu lama kearah istrinya. Air matanya kembali berlinangan menatap istrinya yang masih dalam keadaan tidak sadar.
Lalu ia kembali menghadap ke sajadah di depannya. Ia menampung kedua tangannya, meminta kepada Sang Pemberi.
"Ya Allah yang Maha Menyembuhkan, sembuhkan lah istri hamba... Angkatlah segala derita dan penyakitnya, Ya Allah... Aamiin ya Mujib..." Ajis mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia terisak karena merasa hatinya begitu pedih, hingga bahunya sampai bergetar hebat.
Ia melipat sajadah dan meletakkannya ke sandaran kursi, lalu ia duduk di kursi itu. Ia mengambil tangan Zahrana dan menggenggamnya dengan erat.
"Abang mohon, Sayang... Bangunlah... Abang tidak kuat melihat sayang terbaring begini. Abang minta maaf, Abang janji Abang tidak akan mengulanginya lagi... Bangunlah bidadari Abang... Abang rindu senyum Adik... Bangunlah, Sayang..." Merintih Ajis dalam doanya. Ia mengecup tangan Zahrana bertubi-tubi, sampai tangan itu basah oleh air matanya.
Sementara di luar, semua keluarganya menyaksikannya. Mereka semua terisak melihat dua insan yang saling mencintai itu berada di dalam ruangan pesakitan, yang kedua-duanya sama-sama sakit, namun berbeda penyakit.
.
.
.
.
.
__ADS_1