
"Zahrana...!" seru Arya, artis terkenal itu dengan cepat menghampiri Zahrana ketika dirinya dan Hidayat sampai di lokasi syuting.
Ya, pemuda itu sudah sedari tadi menunggu kedatangan Zahrana, karena sejak keputusan di kantor pH pada waktu lalu, Arya merasa tidak ada alasan untuk menghubungi Zahrana lagi. Dan entah mengapa? Ia malah merasa merindukan perempuan itu terlalu dalam.
"Hai, kamu sudah dari tadi ya? Aku tidak terlambat, bukan?" Tanya Zahrana memang tidak pernah mengerti arti tatapan Arya kepadanya, selain dari tatapan pertemanan semata.
"Oh, tidak kok... Gua memang sengaja datang lebih awal, karena gue mau mempelajari sequence-nya lebih dalam lagi. Scene ini agak susah menurut gue... Kan Lo tau sendiri, gua nggak terlalu paham betul agama, dan di novel Lo ini banyak tentang agamanya..." Ujar Arya beralasan.
"Oh, gitu..." Sahut Zahrana sembari mengangguk.
"Oh ya... Lo datang dengan siapa nih?" Tanya Arya sambil menunjuk ke arah Hidayat yang berada di samping Zahrana.
"Oh, ini..."
"Hidayat, Bang... Saya Hidayat, adik kak Zahrana..." Potong Hidayat dengan cepat sambil menyambar tangan Arya Irawan. Hal itu membuat Arya dan Zahrana terkejut karenanya.
"Hehehe... Sorry, Bang, saya begitu Senang bisa bertemu dengan artis terkenal seperti Abang..." Tambah Hidayat lagi. Wajahnya tak mampu menyembunyikan perasaan kagumnya kepada sosok Arya yang pada saat itu berada tepat di hadapannya.
Hidayat dari awal sudah tahu akan bertemu dengan lelaki itu, karena Zahrana sudah memberitahukan kepadanya pada saat memintanya untuk menemani kakaknya itu ke lokasi syuting. Namun berbeda dengan kenyataan, Hidayat memang tidak bisa menyembunyikan kekagumannya. Ia serasa bermimpi dapat menemui orang terkenal seperti Arya Irawan secara langsung.
Sementara, banyak orang yang ngefans sama lelaki itu, namun tidak seberuntung dirinya. Mereka akan sangat sulit untuk bertemu Arya Irawan secara langsung seperti itu. Hidayat benar-benar merasa ketiban durian runtuh.
"Owh, adiknya Dia..." Tunjuk Arya ke arah Zahrana dengan berlagak sombong.
__ADS_1
"Iya, Bang..." Angguk Hidayat cepat.
"Suami Lo kemana? Dia nggak ikut?" Tanya Arya celingak-celinguk ke setiap arah untuk mencari sosok Ajis di sana.
"Suami aku ada kerjaan di ruko, makanya aku ditemani Hidayat ke sini." Ujar Zahrana.
Jadi suaminya nggak ikut? Bagus deh... Batin Arya merasa senang.
"Owh..." Gumam Arya bersikap santai. "Ayo..." Ajaknya seraya melangkah ke dalam.
"Kak Zahra... Hidayat ketemu Arya Irawan, Kak..." Sorak Hidayat tertahan berganti bisikan girang di samping zahrana.
"Sssttt..." Zahrana menempelkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri dengan mata membulat, mengisyaratkan agar Hidayat bersikap tenang dan biasa-biasa saja.
*****
Orang-orang di lokasi syuting begitu sibuk, mereka tampak profesional dengan pekerjaan masing-masing yang mereka geluti. Di pojok, terlihat Hidayat menunggu dengan santai setelah lelah berkeliling sambil mengajak para kru mengobrol ringan tadinya.
Zahrana tersenyum, latar pantai kali itu bukan membuatnya ingat akan masa lalunya yang sesuai dalam kisah novel yang dibuatnya, melainkan ia berpikir bahwa dirinya bersama suaminya akan bersama-sama di sana suatu hari nanti.
Jika mereka sama-sama tidak lagi sibuk, Zahrana berencana akan merengek agar suaminya mau mengajaknya ke tempat yang menyenangkan itu. Pantai. Ya, pantai adalah tempat yang paling menyenangkan menurutnya.
Memang cintanya telah mantap kepada Ajis seorang, namun hobinya masih sama, menikmati keindahan di tepi pantai. Dan semenjak menikah dengan Ajis, dia sama sekali tidak pernah ke pantai lagi. Bagi Zahrana, di dekat suaminya saja, lalu bermesraan dengan suaminya itu sudah lebih dari cukup.
__ADS_1
"Kamera, rol... Action!!" Sutradara berteriak, dan akting para pemain 'bukan salah ibu menyusui' pun di mulai.
"Habibah..." Arya berteriak girang memanggil perempuan di hadapannya itu.
"Yansyah?" Gadis itu bereaksi dengan wajah terkejut melihat Arya.
Syuting berjalan.
Zahrana mematung menyaksikan setiap adegan yang bermain di depan matanya. Mau tidak mau, Zahrana kembali ingat dengan masa lalu yang benar-benar bodoh menurutnya.
Dia terkadang tersenyum geli melihat tingkah Arya memerankan Yansyah, yang sebenarnya adalah Aridiansyah, mantan pacarnya dulu. Dan terkadang pula menatap dengan mata setengah memicing melihat adegan aktris perempuan yang memerankan sosok Habibah.
Habibah, benar-benar mirip seperti dirinya. Begitu labil dan kekanak-kanakan, dan pada saat itu dirinya mampu menilai dirinya di masa lalu.
Aku nggak nyangka, ternyata aku segila itu dulunya...~ Batin Zahrana tak mampu menyembunyikan rasa malunya melihat adegan demi adegan. Wajahnya bahkan sampai memerah mengingat hal itu.
.
.
.
.
__ADS_1
.