SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
KISAH CINTA DI TEPIAN PANTAI


__ADS_3

Keinginan Zahrana yang selama itu terpendam, akhirnya tercapai. Ia sore itu bersama suaminya jadi untuk mampir ke pantai setelah bertamu dari rumah Ihsan, sahabat Ajis. Meski masih di pantai yang biasa ia kunjungi, namun suasananya begitu berbeda.


Sudah setengah jam berlalu ia habiskan hanya bersenda gurau dengan suaminya di pasir pantai itu, namun keinginannya untuk pulang belum muncul juga. Ajis pun begitu, sifat kekanak-kanakan Zahrana ketika bermanja dengan dirinya, membuat ia betah berada disana.


"Abang... Abang... Abang..." Panggil Zahrana dari jarak tiga meter di hadapan suaminya. Ia berjalan mundur sembari terus menjauhi Ajis yang berusaha tengah menggapainya.


"Hati-hati, Adik... Nanti Adik jatuh..." Ucap Ajis memperingati.


"Anaa uhibbuka fillaah..." Seru Zahrana dengan tersenyum riang tanpa memerdulikan peringatan Ajis. Ia terus berjalan mundur hingga tanpa sadar kakinya bersilangan dan saling menyentuh.


"Yaa Allah, Adiiik..." Pekik Ajis. Zahrana oleng, beruntung Ajis yang ikut terkejut, malah refleks mengejar posisinya dan menarik tangannya hingga mereka sama-sama terjatuh di atas pasir pantai yang basah itu.


BAAAMMM...


"Aaaaaa..."


Tubuh Zahrana menimpuk dada Ajis. Mata mereka sama-sama terpejam, pasrah dengan apa yang akan terjadi.


Perlahan, mata mereka sama-sama terbuka kembali. Tatapan mereka beradu pada jarak yang begitu dekat, membuat dada mereka bergemuruh bagai ombak di lautan itu. Lama mereka terhanyut dalam perasaan yang masih nyala meski usia pernikahan mereka sudah mencapai tiga tahunan, namun mereka seakan masih merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya lagi.


Ajis yang berada di bawah tubuh Zahrana segera menggelinding tubuh mungil itu hingga posisi mereka berganti. Mereka masih saja betah untuk saling tatap, karena di dalam diri mereka masing-masing ada hasrat yang semakin memuncak.


"Adik tidak apa-apa? Apa ada yang sakit?" Tanya Ajis berusaha menangkap kesadarannya yang sempat melayang. Ia sekuat tenaga menahan gejolak yang tiba-tiba tumbuh dalam dirinya.


Beruntung ia seorang Muslim yang paham akan larangan Tuhan, sehingga ia harus meredam keinginannya sebagai lelaki yang halal untuk Zahrana, walau mereka tengah berada di tempat yang tak dikunjungi manusia lain yang tampak oleh mata mereka.


"Zahra tidak apa-apa, Abang... Maaf..." Jawabnya dengan nada bersalah.


Ajis bangkit dan menarik lembut tubuh istrinya untuk ikut berdiri kembali. Ia membersihkan pasir-pasir yang menempel di bajunya, lalu berganti membersihkan punggung Zahrana.


"Apa hari ini Adik begitu senang?"

__ADS_1


Zahrana malu-malu mengangguki pertanyaan Ajis. "Terima kasih, Abang..."


"Sama-sama..." Ajis menjawab sembari menggamit pipi Zahrana. Ia terus menatap lekat mata istrinya itu dengan perasaan yang begitu sulit diartikan olehnya.


Wajahnya terus mengikis jarak dengan wajah istrinya itu, hingga bibir mereka hampir beradu. Sementara Zahrana telah bersiap menunggu aksi suaminya dengan memejamkan kedua matanya.


Lama Zahrana tidak merasakan sentuhan apa-apa, namun ketika ia hendak membuka matanya, sesuatu yang hangat menempel di keningnya. Matanya kembali terpejam merasakan hal itu.


"Abang juga mencintai Adik karena Allah..." Bisik Ajis membalas ucapan Zahrana tadi.


Zahrana tersenyum, ia kembali membuka matanya lebar-lebar lalu melingkarkan kedua tangannya ke pinggang suaminya itu. "Sudah sore, ayo kita pulang, Abang..." Ajak Zahrana. Ia begitu puas senja itu.


Ajis mengangguk lalu meraih sebelah tangan Zahrana dan menggandengnya keluar dari pantai.


Sementara di sisi lain, tampak Aridiansyah memerhatikan mereka berdua sedari tadi.


Aridiansyah yang berniat ke pantai sore itu untuk terakhir sebelum ia memutuskan pindah bersama orang tuanya besok, malah tidak sengaja melihat Zahrana dan Ajis disana.


"Ternyata kamu bahagia bersama suamimu, Zahra. Dugaan ku salah jika kamu tidak bahagia karena mengingat kata ibu, kamu terlihat kurus dan pucat. Selamat Zahra, meski saat ini aku sakit melihat kebahagiaanmu, tapi aku yakin esok sudah tidak lagi. Karena sebenarnya cinta, bahagia ketika melihat orang yang dicintainya bahagia, bukan? Meski orang yang dicintainya itu bahagia bersama orang lain. Terima kasih Zahra, kamu sudah menyadarkan aku tentang kekeliruanku. Aku janji, aku akan bahagia sesuai dengan keinginanmu, dan melupakanmu sesegera mungkin."


Aridiansyah menatap sendu kearah sepasang manusia yang saling mencintai itu beranjak meninggalkan pantai.


*****


Sepulang dari pantai, Zahrana dan Ajis kembali ke rumah orang tua Zahrana. Faiz dan Faiza yang baru saja datang tampak begitu bahagia ketika menemukan Zahrana dan Hidayat kembali ke sana, ditambah lagi mereka juga menemukan Ajis.


Ajis yang tipe pemalu dan tidak banyak bicara, malah asik mengobrol dengan kedua bocah itu. Karena jarang bertemu, dua bocah itu tampak malu-malu menyahuti banyak pertanyaan darinya.


"Senang ya, ngobrol bareng O'om Ibu? Ibu sampai dilupakan deh?" Rengut Zahrana berpura-pura kepada kedua bocah itu.


Zahrana begitu bahagia, keluarganya utuh kembali malam itu, apalagi Rianur berniat akan menginap.

__ADS_1


Ia melihat kearah Maira yang begitu akrab dengan ibunya. Tampak rasa iba pada raut wajah Zahrana mengingat bagaimana besarnya rasa suka Maira kepada Hidayat, dan pada hari itu ia baru menyadari bahwa ia sangat mendukung perasaan Maira.


Yaa Allah, meski sulit, tolong satukan mereka kelak. Hamba ingin Maira bahagia memiliki Hidayat, begitu juga sebaliknya. Hidayat hanya belum bisa melihat sisi perasaan Maira yang tulus kepadanya. Tapi hamba mohon agar Engkau beri mereka kehidupan yang baik...


"Jadi kalian besok naik travel?" Tanya Marwan malam itu ketika mereka berkumpul di ruang keluarga. Lelaki paruh baya itu menatap heran bercampur cemas kepada putrinya, Zahrana.


Zahrana tersenyum sambil mengangguk membenarkan pertanyaan ayahnya itu. Seolah mengisyaratkan sesuatu.


"Iya, Yah... Kasihan dik Zahra. Dik Zahra pasti capek naik motor." Jawab Ajis tanpa menyadari tatapan istri dan ayah mertuanya.


"Kamu gimana, Yat?" Tanya Marwan lagi beralih kepada Hidayat.


"Terserah gimana bang Ajis saja, Yah..."


"Loh, Kok?"


"Iya, Yah... Ajis sudah sewa mobil travel untuk kami bertiga. Motor Hidayat naik mobil itu saja. Kebetulan sopirnya kenal dekat dengan Ajis, Yah. Ajis biasa makai jasa travel itu..." Papar Ajis yang menjelaskan kebingungan orang rumah.


"Owh begitu..." Gumam mereka mulai mengerti, meski masih ada raut cemas dan keberatan pada wajah keluarga Zahrana.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2