SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
MASA LALU 9


__ADS_3

"Aku tahu, kamu pasti datang ke sini..." Sapa Zahrana dari belakang Aridiansyah. Awalnya dia ragu, namun karena niatnya untuk berdamai dan meyakinkan pria itu, Zahrana akhirnya menguatkan hati untuk menghampiri saudara sesusuannya itu.


"Aku selalu datang ke sini untuk mencarimu dan menunggumu, Zahra... Seperti kamu yang datang untuk mencari ketenangan di pantai ini ketika hatimu dilanda kegundahan..." Sahut Ari lirih. Ia tidak menoleh sama sekali, pandangannya nanar menatap ke laut lepas di hadapannya.


Sesaat, mereka terdiam sambil berdiri tenang. Mereka seakan mencoba merangkai kata-kata dalam benak mereka masing-masing.


"Pantasnya kita hanya sebatas adik kakak, Ari... Kita tidak boleh menikah..." Ujar Zahrana memulai obrolan di antara mereka.


Ari tidak menggubris. Ia masih diam di posisinya.


"Pergilah yang jauh, Zahra..." Tak lama, terdengar pinta Ari Seraya menoleh kepadanya.


"Hah?" Zahrana membalas tatapan Ari dengan raut wajah tampak bingung.


"Pergilah yang jauh dari keluarga kita... Nanti aku akan datang menyusulmu ke sana, dan kita menikah di tempat itu. Aku janji, aku akan membahagiakan kamu..." Cetus Ari dengan keseriusan.


Zahrana tersurut, lalu kepalanya menggeleng dengan cepat. Ia menolak keras permintaan lelaki itu.


"Zahra... Aku mohon, jangan patahkan hatiku..." Pinta Ari terdengar memelas Seraya mengambil tangan Zahrana, lalu menggenggamnya dengan penuh harap.


"Tidak, Ari... Kita tidak bisa hidup hanya dengan berdua saja... Kita masih labil... Kita belum cukup dewasa untuk menjalani kehidupan ini. Kita butuh orang tua... Kita tidak akan pernah bisa..."

__ADS_1


Ari dengan cepat menarik tengkuk Zahrana, lalu ******* bibir gadis itu dengan perasaan yang menggebu penuh birahi.


Zahrana terkejut, perasaannya bergemuruh bagai ombak yang bergulung di tepian pantai itu. Refleks ia memejamkan matanya dan menikmati permainan yang dibuat Ari. Buliran bening menetes dari kelopak matanya yang terpejam. Tangannya tanpa sadar meremas dada Ari dengan kuat. Ia terus hanyut dan terbuai akan kenikmatan dosa yang ia rasakan bersama lelaki itu.


Cakrawala, laut, pasir dan semua di sekitar mereka senja itu, ikut menjadi saksi bahwa mereka memang belum dewasa untuk memahami bagaimana sebenarnya cinta yang mereka rasakan pada saat itu.


Telah cukup lama, Zahrana mulai tersadar. Kelopak matanya kembali terbuka lebar, lalu ia mendorong dada Ari dengan sekuat tenaganya.


"Ini tidak benar, Ari..." Ucapnya dengan nada marah penuh penyesalan.


"Yang penting itu perasaan kita, Zahra... Kita saling mencintai... Kamu mencintai aku, dan aku juga mencintai kamu... Itu sudah cukup sebagai kebenarannya... Kenapa kamu menolak tawaranku, Zahra? Kita bahkan bisa hidup bahagia nantinya, jika kita menikah meski tanpa restu orang tua kita..." Ucap Ari masih dalam keegoisan-nya.


"Kita punya Tuhan, Ari... Allah sudah melarang kita untuk melakukan hal itu. Ketentuannya sudah ada dalam surah An-Nisa ayat dua puluh tiga, bahwa ada tiga belas perempuan yang tidak boleh kamu menikah dengannya, dan salah satunya adalah aku, Ari... Saudara sesusuan dengan kamu..." Tegas Zahrana dengan berurai air mata.


"Maaf, Ari... Maaf..." Ucap Zahrana tersedu. Ia kemudian mengusap kasar pipinya yang basah, lalu menatap Ari dengan kekuatan yang kembali penuh. "Anggap saja kita telah keliru karena telah melakukan hal ini... Dan juga, karena kita telah merasakan perasaan yang konyol selama ini..." Sambung Zahrana.


"Jadi kamu mundur, Zahra?" Tanya Ari bernada kecewa.


"Ini bukan masalah hanya sekadar mundur, Ari... Kita tidak boleh berjuang untuk hal yang pada kenyataannya salah..." Ujar Zahrana semakin mempertegas.


Ari menggeleng. "Aku belum bisa terima, Zahra... Aku belum bisa... Dan sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa terima kenyataan ini..." Serunya marah.

__ADS_1


"Ariiii!" Seru Zahrana pula terdengar membentak.


"Tolonglah, Zahra..." Ari terus memelas.


"Yaa Allah, Ariii..." Zahrana mengusap kasar wajahnya. Ia mulai terlihat kesal dan menyerah menyikapi kegigihan Ari. "Aku sudah tidak bisa lagi mengertikan kamu. Aku hanya bisa berdoa, agar kamu bisa melupakan ini suatu hari nantinya, dan berbahagia dengan perempuan pilihan Allah untukmu..." Ucap Zahrana seraya berbalik hendak meninggalkan Aridiansyah.


"Zahra..." Panggil Ari memelas, namun Zahrana sama sekali tidak menggubrisnya.


"Zahrana..." Ulangnya lagi, namun tetap saja Zahrana terus melajukan langkahnya tanpa menoleh sama sekali.


" Zahrana, kembaliiii..." Seru Ari terdengar memerintah, namun terdengar serak seperti sedang menangis. Zahrana terenyuh, namun tetap saja pendirian Zahrana begitu kokoh. Dia menahan rasa sakit di dalam hatinya mendengar panggilan lelaki itu, dan malah semakin mempercepat ayunan langkahnya. Zahrana tidak ingin menoleh, karena Zahrana tidak mau perasaannya terhadap Ari menang.


Dia tidak ingin Ari merasa di beri harapan lagi olehnya. Dia tidak tega, karena dia sendiri begitu lemah pada saat itu oleh perasaannya sendiri terhadap Ari. Mereka benar-benar berpisah sejak saat itu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2