SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
KISAH KAK ZAHRA


__ADS_3

Yaa Allah, jika memang lelaki ini jodoh Zahra, maka pertemukanlah kami dalam ikatan yang suci. Tetapi jika bukan, maka jangan biarkan hatinya dan hati keluarganya terluka oleh Zahra... Beri Zahra petunjuk yaa Allah...


Zahrana melirik sebentar kepada lelaki asing di hadapannya saat itu, lalu ia kembali menundukkan pandangan dengan perasaan berat yang membuncah di dalam dadanya.


"Dik Zahra..." Panggil seorang lelaki lain di sebelah pemuda yang datang untuk melamarnya hari itu.


"I-iya, Bang Ihsan...?" Jawab Zahrana begitu gugup.


"Perkenalkan, ini teman Abang dari kampung seberang. Namanya, Muhammad Ajis Andika." Tutur lelaki yang dipanggil Ihsan memperkenalkan pemuda itu kepada Zahrana.


"Maksud kedatangan Abang kesini bersama Ajis dan kedua orang tua Ajis, untuk memperkenalkan Dik Zahra kepada mereka. Teman Abang ini sudah berkeinginan mantap untuk menjalin hubungan serius dengan seorang perempuan, dan Abang melihat Dik Zahra adalah perempuan yang tepat untuk teman Abang ini. Insya Allah jika Dik Zahra menerimanya, Abang sendiri sebagai teman baiknya dan juga tetangga dekat Dik Zahra yang akan menjaminnya."


Tangan Zahrana terasa dingin. Mendadak tubuhnya menjadi kaku. Tadinya ia sudah tahu niat orang-orang itu datang ke rumah dari ibunya, namun dadanya tetap berdebar. Ada perasaan aneh yang sulit ia mengerti. Bahkan niatnya menolak pun tiba-tiba urung.


"Apa Dik Zahra mau menerima teman Abang menjadi suaminya Dik Zahra?"


Deg.


Jantung Zahrana semakin berdebar kuat. Semua tatapan mata tertuju kepadanya, kecuali tatapan pemuda yang melamarnya itu sendiri. Pemuda itu hanya menunduk pasrah menantikan jawaban darinya. Tampak jemari pemuda itu saling berkatup mengharapkan jawaban yang memuaskan darinya.


"Bismillahirrahmaanirrahiim..." Desir Zahrana pelan. "Zahra terima..." Jawabnya jelas tanpa keraguan.


"Alhamdulillah..." Ucap Ihsan dan kedua orang tua pemuda itu sembari mengusap wajah mereka dengan telapak tangan mereka masing-masing. Mereka begitu senang mendengar jawaban dari mulut Zahrana.


Seulas senyum penuh ketulusan juga terpancar dan mengambang di bibir pemuda itu. Ia tampak bahagia karena Zahrana tidak menolaknya. Dan Zahrana melihat sendiri senyuman itu, sehingga ia sendiri ikut tersenyum karenanya.


"Kalau begitu Zahra kembali ke dalam, sekarang semuanya Zahra serahkan sama ayah dan ibunya Zahra. Assalamu'alaikum..." Pamit Zahrana, kemudian ia bersalaman dengan kedua orang tua pemuda itu yang akan menjadi mertuanya.


Zahrana sedikit berlari mencapai kamarnya, lalu mengunci diri dan bersandar di pintu kamarnya itu.


Zahrana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tubuhnya masih berasa dingin dan kaku.


Yaa Allah, semoga Zahra tidak pernah menyesal nantinya. Sungguh, Zahra percaya bahwa ini kekuatan dari Engkau, sehingga Zahra memerima lelaki yang sebelumnya tidak pernah Zahra kenali. Bimbing Zahra yaa Allah, agar kami dalam hubungan pernikahan nanti tidak akan pernah saling menyakiti satu sama lain...


Tidak lama, terdengar ketukan halus dari luar kamarnya.


Zahrana masih gugup, namun ia tetap membukakan pintu.

__ADS_1


"Hai, Kak Zahra..." Tampak Hidayat menyapa dari depan pintu kamarnya dengan senyuman menyeringai menggodai dirinya.


"Hidayat? Ngapain disini?" Tanya Zahrana pura-pura tidak menyukai kedatangan adik bungsunya itu.


"Cieee... Main terima-terima aja nih... Berarti sebentar lagi Kak Zahra mau nikah dong..." Ledek Hidayat yang sebenarnya juga ikut senang akan keputusannya itu.


"Apaan sih, Yat? Sana, pergi..." Usir Zahrana dengan pelan.


"Oke, oke... Orang yang berbunga-bunga, kan tidak boleh diganggu..." Seru Hidayat sembari berjalan menjauhi kamar Zahrana.


"Eh, Yat... Tunggu, tunggu..." Panggil Zahrana lagi.


"Apa lagi, Kak?" Hidayat berbalik lalu mendekati Zahrana kembali.


"Sini deh..." Zahrana menarik lengan Hidayat untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Ada apa, Kak? Serius amat kayaknya..."


"Begini, sebentar lagi Kak Zahra kan nikah..."


"Sssttt... Dengerin dulu..."


"Iya, iya... Teruus..." Sahut Hidayat mulai serius.


"Kak Zahra numpang poster-poster Arya Irawan ya..." Pinta Zahrana memelas.


"Hah? Buang aja kenapa sih, Kak? Ngapain masih disimpan segala?" Ketus Hidayat.


"Ah, Yat... Pleasee... Sayang kalau dibuang. Kak Zahra ngefans banget sama dia, Yat... Kakak mohon..." Rengek Zahrana setengah memaksa.


"Ya ampuun... Iya deh..." Jawab Hidayat juga terlihat sedang terpaksa.


"Yeey... Terima kasih Adik Kak Zahra yang ganteeng..."


"Huuu... Giliran ada maunya saja Hidayat malah dibilang ganteng..." Protes Hidayat.


*****

__ADS_1


"Hahaha... Lucu banget ya Kak Zahra... Masih inget ini... Bahkan sampai sama-sama kemasi tuh poster..." Gelak Hidayat ketika membaca buku tulis Zahrana yang pernah ditemuinya pada saat mereka pulang kampung bersama.


Ia terus membaca lembar demi lembar tulisan kakaknya itu, dan ia benar-benar menyadari bahwa itu memanglah kisah nyata kakaknya.


"Hahaha... Jadi, begini malam pertama mereka? Dosa nggak ya, kalau aku baca? Tapi penasaran juga. Bang Ajis benar-benar memperlakukan Kak Zahra layaknya bidadari. Ah sweet banget..."


Hidayat mengoceh sendiri ketika membaca kisah Zahrana dalam buku itu.


Sesekali ia berhenti, karena memang bukunya yang tebal membuat ia tidak bisa membaca secara tuntas pada saat itu.


Sudah hampir tengah malam, Hidayat bahkan masih betah membalikkan lembar demi lembar buku yang berisikan tulisan kisah hidup kakaknya itu.


"Yaa Allah, kirimkan Hamba satu seperti kak Zahra. Kak Zahra benar-benar istri idaman. Kasihan kak Zahra, ia menanggung semuanya sendirian. Semoga kak Zahra bahagia ya Allah..." Hidayat mengusap air matanya yang ikut keluar ketika membaca kisah pedih yang pernah dilalui Zahrana kala itu, lalu mulai menutup buku dan bersiap untuk tidur.


.


.


.


.


.


Itu dulu ya teman2...


Radetsa kurang sehat.


Episode2 berikutnya adalah detik2 mau tamat.


Jadi, supaya tidak terlalu kecewa, Radetsa usahakan up 3 eps pada up berikutnya


Sabar ya😉


Salam satu layar...


Oh ya, Terima kasih buat kakak2 yg udah rekomendasikan karya2 Radetsa dalam komentar grub... Mudah2an diberi balasan berupa kebaikan yang berlipat ganda oleh Allah. Radetsa jani, Radetsa nggak akan lupa jasa kakak2😗

__ADS_1


__ADS_2