SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
MASA LALU 8


__ADS_3

Ardiansyah tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Setelah mendapat restu dari ibunya tadi, ia langsung meminta kedua orang tuanya itu melamar kan Zahrana untuk dirinya, sebelum ibunya kembali berubah pikiran.


Ibu Ari sebenarnya masih belum sepenuhnya rela atas keputusannya itu. Namun memang kasihnya sebagai Ibu tiada tara kepada anaknya, dengan terpaksa ia ridha memenuhi keinginan Putra semata wayangnya.


Zahrana yang melihat kedatangan Ari bersama kedua orang tuanya dari jendela kamar, segera Ia berlari keluar untuk menyambut kedatangan kekasihnya itu. Zahrana begitu bahagia, karena dia yakin bahwa Ari telah mampu melunakkan hati kedua orang tuanya.


"Assalamualaikum..." Ucap Ari ketika telah berada di depan rumah Zahrana.


"Waalaikumsalam..." Jawab Zahrana begitu antusias. Mereka saling pandang dengan tangan juga saling menggenggam satu sama lainnya, membuat wajah Ibu Ari tampak tidak senang.


"Waalaikumsalam... Zahra ,siapa yang datang, Nak?" Dari dalam terdengar bu Zainab juga ikut menyahuti sembari menghampiri mereka keluar. Namun ketika beliau sampai di luar, beliau begitu terkejut melihat tingkah putrinya.


"Zahrana!!!" Seru beliau seraya menepuk tangan Zahrana yang memegangi tangan Ari, sehingga tangan mereka berdua terlepas. "Kalian sudah bukan anak-anak lagi yang bisa seenaknya pegang-pegangan begitu..." Tegur bu Zainab dengan nada marah.


"Maaf, Ibu..." Ucap Zahrana seraya menunduk karena merasa bersalah.


"Tuh, kan... Ibumu selalu begitu. Sekarang malah berubah posesif pula lagi... Tidak tahu saja kalau aku datang untuk melamar putri beliau yang cantik ini..." Bisik Ari ke telinga Zahrana.


"Ssst..." Zahrana malah mencubit halus pinggang Ari, karena ia merasa lelaki itu telah dengan sengaja menggoda dirinya yang baru saja dimarahi.


"Bu Aulia, Pak Miko... Ayo masuk, Bu, Pak..." Ajak bu Zainab mulai ramah kepada tamunya itu.


"Terima kasih, Bu Zainab..." Ucap pak Miko sembari menarik lengan istrinya dengan lembut untuk masuk ke dalam, sementara Ibu Ari hanya mengikut dengan malas.


"Zahrana, buatkan tamu kita minum, Nak... Dan sekalian, tolong panggil ayahmu terlebih dahulu ke belakang..." Perintah bu Zainab kembali melunak kepada Zahrana.


"Baik, Bu..." Sahut Zahrana dengan patuh. Ari menatap Zahrana dengan nakal, membuat Zahrana mencibir jengkel kearahnya, lalu Zahrana beranjak ke belakang untuk memenuhi perintah ibunya tadi.


Umayyah datang setelah dipanggil Zahrana dan bergabung di ruang tamu rumahnya yang sederhana itu.


"Ada tamu rupanya, Bu..." Ucap beliau dengan ramah.


"Iya, Pak... Ari tumben datang ke sini bersama Bu Aulia dan Pak Miko. Ibu jadi senang..." Ujar bu Zainab tampak bahagia menyahuti ucapan suaminya.


"Jadi, ngomong-ngomong ada perlu apa ya, Bu, Pak...?" Tanya Umayyah memulai obrolan di antara mereka.


Ari melirik kedua orang tuanya seakan mengisyaratkan sesuatu, lalu tampak pak Miko mengangguk kecil. Beliau menghela napas dalam-dalam sebelum mengutarakan niat kedatangan mereka ke rumah itu. Sejenak, pak Miko menoleh kepada istrinya yang masih diam di sampingnya.


"Begini, Pak Umayyah... Sebenarnya, maksud kedatangan kami ke sini untuk melamar nak Zahrana..."


"Apa, Pak Miko??? Melamar Zahrana?" Bu Zainab begitu terkejut mendengar penuturan Ayahnya Ari.


"Betul, Bu Zainab... Putra Kami, Ari, sudah bertekad untuk berumah tangga dengan putri Pak Umayyah dan Bu Zainab..." Jawab Pak Miko sembari tersenyum kecil.

__ADS_1


Bu Zainab menggeleng dengan raut tampak menegang.


"Tapi mereka kan sudah seperti adik-kakak Pak..." Protes bu Zainab lirih.


"Iya, bu... Tapi sekarang kami sudah dewasa. Sudah tidak wajar lagi jika kami bertingkah seperti itu, bukan? Sedangkan tadi saja Ibu sampai marah karena kami pegangan tangan..." ucap Ari menyela.


"Tidak, nak Ari... Kalian tidak bisa menikah..." Ucap Bu Zainab menekan.


Dahi Ari mengerinyit, dia heran mengapa bu Zainab tidak menyetujui hubungan mereka. Padahal baru saja Ia mendapat restu dari ibunya sendiri, setelah tiga hari merajuk dengan mengurung diri di kamar, bahkan sampai mengancam untuk pergi dari rumah.


"Tapi kenapa, Bu..." Tanya Ari memelas.


"Pokoknya tidak bisa... Zahrana sudah ada calonnya..." Ketus Bu Zainab tampak menahan perasaan setelah mengucapkan hal itu.


PRAAAANKK


Nampan beserta beberapa gelas yang dibawa Zahrana untuk disuguhkannya berjatuhan di lantai. Ia ikut terkejut mendengar alasan ibunya itu menolak Ari. Dua adik lelaki Zahrana juga ikut menguping dari dalam kamar mereka sembari menenangkan kedua ponakannya yang tadi dititipkan Rianur sebelum pergi bersama suaminya keluar.


"Apa, Bu? Zahra sudah punya calon? Siapa, Bu? Kenapa Zahra sendiri tidak tahu?" Tanya Zahrana dengan air mata bersimbah membasahi kedua pipinya.


"Kamu tidak perlu tahu sekarang... Sebaiknya kamu masuk ke dalam kamarmu, Zahra..." Ketus ibunya begitu keras. Sementara ayah Zahrana hanya terdiam di posisinya.


Zahrana menggeleng. Dia semakin mendekati posisi ibunya itu. "Zahrana tidak mau menikah dengan siapapun kecuali Ari, Bu..." Tegas Zahrana.


"Sudah Ibu bilang masuk, ya masuk, Zahra!!" Seru bu Zainab dengan suara semakin meninggi.


"Tidak, Bu... Ari juga tidak akan menikah dengan perempuan mana pun, jika bukan dengan Zahrana..." Elak Ari bersikukuh. Ia bangkit dari duduknya lalu melangkah ke tempat Zahrana berdiri.


"Ariii!" Bentak bu Aulia tampak habis pikir dengan keras kepala anaknya itu.


"Zahra... Ayo kita pergi saja dari sini... Orang tua kita tidak akan pernah mengerti dengan perasaan kita..." Ajak Ari seraya menarik lengan Zahrana.


"Nak Ariiii...!" Panggil Bu Zainab dengan air mata mulai berlinangan.


Mereka menghentikan langkahnya, karena Zahrana kembali menoleh ketika mendengar suara ibunya yang mulai serak karena menangis. Zahrana masih sama, tidak mampu jika menyaksikan orang-orang yang disayanginya menangis begitu.


"Apa alasan ibu menolak hubungan kami, Bu?" Tanya Zahrana tampak menyerah dan melepas genggaman tangan Ari dari lengannya.


Bu Zainab terdiam. Beliau hanya terisak-isak.


"Bu?" Ulang Zahrana seraya mendekati ibunya.


"Maafkan saya, Bu Aulia... Saya bersalah..." Bu Zainab malah berucap kepada ibunya Ari yang juga ikut tersulut emosi pada saat itu.

__ADS_1


"Nak Ari bahkan saya susui sepuas-puasnya ketika ia masih bayi..." Ungkap Bu Zainab dalam isaknya.


"Apa???" Bu Aulia begitu terkejut mendengar pengakuan bu Zainab.


"Saya minta maaf karena menyembunyikan itu dari Bu Aulia dan Pak Miko..." Tambah Bu Zainab lagi.


Ari dan Zahrana hanya menggeleng tak percaya. Tubuh mereka lunglai seketika.


"Nggak mungkin... Ini pasti tidak mungkin..." Elak Ari masih tak percaya. "Zahra... Ayo kita pergi saja... Orang tua kita benar-benar tidak akan menyetujui hubungan kita..." Ajak Ari bersikukuh ingin mempertahankan keinginan hatinya untuk menikah dengan Zahrana.


"Jangan bertindak bodoh dengan melanggar aturan Allah, Nak... Kalian sudah dewasa..." Pinta bu Zainab memelas.


"Lancang kamu ya, Zainab!" Maki bu Aulia. "Saya sudah memberi banyak uang untuk membelikan keperluan Ari waktu itu, lalu kenapa kamu masih menyusuinya?" Tanya bu Aulia dengan garang.


"Maafkan saya, Bu... Saya terpaksa... Nak Ari waktu itu tidak mau meminum susu bantu, sementara ia terus menangis tak henti-hentinya. Saya merasa iba, karena saya pada saat itu belum memiliki anak laki-laki. Saya begitu sangat menyayangi Ari seperti saya menyayangi Zahrana dan Rianur, Bu... Saya menyusui nak Ari karena saya merasa memiliki dua anak kembar. Saya tidak membedakan keduanya, bahkan untuk berpikir bahwa hal ini akan terjadi..." Isak bu Zainab menjelaskan mengapa ia menyusui Aridiansyah pada waktu bayi.


Zahrana terhenyak mendengar pengakuan ibunya itu, sementara Ari masih menggeleng tidak percaya.


"Keterlaluan kamu, Zainab... Seharusnya saya tidak menitipkan Ari kepadamu waktu itu... Kamu tidak bisa dipercaya untuk menepati janjimu..." Ketus bu Aulia begitu marah. Rasa tidak sukanya mendengar penjelasan bu Zainab, membuat wajahnya terlihat memerah murka.


"Ini salah Ibu... Kenapa Ibu berbalik menyalahkan Bu Zainab?" Teriak Ari di luar kesadarannya. Kekecewaannya membuat ia lupa akan kuadratnya sebagai seorang anak.


Bu Aulia beralih menatap putranya dengan sendu.


"Ibu yang tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk Ari..." Bentak Ari semakin menjadi-jadi.


Zahrana tertegun. Dia benar-benar melihat kegilaan pada lelaki itu.


"Ari bahkan serasa tidak punya Ibu selama ini..." Tambah Ari lagi.


PLAAAK


Semua terkejut. Bu Aulia menahan suaminya dengan kuat yang hendak melayangkan tamparan lagi kepada putranya itu.


"Cukup, Ari... Kamu sudah dewasa yang seharusnya mengerti bagaimana kondisi dan perasaan orang tua kamu, tanpa harus kami jelaskan. Asal kamu tahu, Ibumu sampai koma selama hampir satu bulan hanya demi mempertahankan kamu agar terlahir ke dunia ini..." Ucap pak Miko menggebu.


Wajah Ari melunak setelah beberapa saat lalu sampai menegang penuh amarah karena ditampar ayahnya di depan Zahrana dan kedua orang tua Zahrana. Dia mulai menatap iba kepada perempuan yang telah berjuang keras untuk melahirkan dirinya, yang selama itu ia berpikir buruk tentang ibunya itu. Yang tidak menyayanginya, namun malah sampai bertaruh nyawa untuk dirinya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2