SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
KE RUMAH SAKIT


__ADS_3

"Hidayaaat!" Seru seorang gadis yang memerankan tokoh Habibah dalam film yang diangkat dari novel Zahrana.


"Hey, Habibah..." Sahut Hidayat seraya menghentikan langkahnya. Ia menunggui gadis itu berjalan kearahnya dan Zahrana.


"Apaan sih, Yat? Nama asliku itu Kirana..." Sungut gadis itu tampak memanyunkan bibirnya.


"Hehehe... Aku suka saja memanggilmu dengan nama itu, cocok denganmu... Dan aku suka melihat penampilanmu ketika syuting film bukan salah ibu menyusui ini, Kiran... Cantik dengan hijab yang menutupi mahkotamu itu..." Tutur Hidayat begitu serius dengan perkataannya memuji artis Kirana.


"Aku belum siap melakukannya, Yat..." Ucap Kirana dengan wajah tertunduk malu.


"Aku tahu, Kiran... Aku jika memerintahkan kamu untuk melakukannya, sama saja sulitnya menghitung pasir di tepian pantai, karena ada yang lebih berhak dan berkewajiban untuk melakukan itu. Aku sebagai teman kamu yang bisa dihitung berapa kalinya kita bertemu, hanya bisa memujimu dengan sebenarnya yang aku lihat padamu, tanpa menambah dan mengurangi." Ujar Hidayat berharap gadis itu mengerti ucapannya.


Kirana mengangguk pelan.


"Maaf..." Ucap Hidayat lagi. Dia tahu, gadis di hadapannya itu pasti salah tingkah karena ucapannya itu.


"Tidak mengapa kok, Yat... Aku senang jika kamu peduli begitu..." Ucap Kirana mulai memberanikan diri menatap Hidayat.


Zahrana tersenyum, lalu mengusap lembut bahu Kirana. Dia tidak mampu mencegah ucapan adiknya yang seolah mengkritik Kirana, seorang artis, apalagi artis itu telah menjadi akrab dengan mereka.


"Kalian mau kemana? Kok tampaknya terburu-buru begitu?" Tanya Kirana setelah suasana kembali menghangat.


"Ini, Kiran... Kami mau ke toko buku, Hidayat mau beli buku untuk keperluan kuliahnya..." Jawab Zahrana cepat sebelum adiknya itu menjawab terlebih dahulu.


"Kenapa tidak tunggu nanti saja? Biar Kiran bisa ikut juga temani kalian..." Protes Kirana terlihat merengut dan berharap.


"Mana muat, Kiran? Aku pakai sepeda motor..." Bantah Hidayat.

__ADS_1


"Pakai mobilku saja, biar motormu sopirku yang bawa, Yat..." Usul Kirana.


"Tidak usah, Kiran... Lain kali saja ya... Kak Zahra harus cepat, soalnya suami Kak Zahra hari ini pulang lebih awal. Sudah lama kami tidak makan siang bersama semenjak Kak Zahra ikut andil dalam penulisan skenario film ini." Elak Zahrana. Entah kenapa wajahnya tiba-tiba terlihat gugup sehingga tidak hanya Kirana yang terlihat bingung olehnya, melainkan Hidayat juga.


Di sisi lain, Arya berdiri sambil memerhatikan mereka dan berusaha mendengar percakapan mereka bertiga. Ia tampak mendengus kesal mendengar Zahrana mengatakan akan makan siang bersama Ajis pada hari itu.


Dia tidak berhak cemburu, namun perasaan cemburu di dalam hatinya ada saja tanpa dimintainya. Dia benar-benar sudah tergila-gila kepada perempuan yang sudah bersuami itu.


Bagaimana gue bisa menawarkan diri buat mengantarkan mereka? Sementara tawaran Kirana saja mereka tolak begitu... Batin Arya sembari mengepal kuat tangannya.


*****


"Ke rumah sakit? Buat apa, Kak? Kak Zahra sakit?" Hidayat begitu terkejut mendengar permintaan Zahrana yang ingin diantar ke rumah sakit terdekat dari posisi mereka saat keluar dari toko buku.


"Nggak, Dek... Kak Zahra cuma mau periksa saja kok. Beberapa hari ini Kakak, kan kelelahan... Bolak-balik terus ke lokasi syuting. Kakak takut drop, dan hal itu pasti buat bang Ajis cemas nantinya..." Ucap Zahrana beralasan.


"Tapi Kak Zahra tidak apa-apa, kan? Kak Zahra tidak sedang sakit, kan?" Desak Hidayat begitu mencemaskan Zahrana.


"Eng-gaak..." Jawab Zahrana dengan wajah benar-benar terlihat serius.


Hidayat menatap wajah Zahrana dengan tatapan matanya yang tajam dan dahi berkerut.


"Kenapa melihat Kakak begitu, Dek? Kamu tidak percaya dengan Kakak, hmm?" Tanya Zahrana berusaha menggoda adiknya itu.


"Kak Zahra suka sekali menyembunyikan penderitaan Kak Zahra kepada kami, makanya Hidayat kali ini jadi sulit buat percaya ucapan Kak Zahra..." Ucap Hidayat berdumel.


"Kakak tidak menyembunyikan apa-apa, Sayang... Percaya deh, Kakak hanya mau periksakan diri serta konsultasi juga tentang program hamil... Kamu nggak mau punya keponakan dari kakak?" Tanya Zahrana masih saja menggoda adiknya itu. Dia berusaha membujuk Hidayat agar tidak terlalu mencemaskan dirinya.

__ADS_1


"Jadi kakak mau program hamil?" Tanya Hidayat dengan wajah tampak terkejut.


"Iya..." Angguk Zahrana pelan.


"Kenapa nggak sama bang Ajis saja sih, Kak? Nanti dokter di rumah sakit itu malah mengira Hidayat yang jadi suami Kak Zahra, lagi..." Sungut Hidayat.


"Ish, apaan sih, Dek? Nggak bakalan... Kamu bisa tunggu Kak Zahra di ruang tunggu saja kok..." Bantah Zahrana sambil menyeringai kecil melihat tingkah adiknya yang malu karena membayangkan hal itu.


"Terus, kalau Kak Zahra ditanya dimana suami Kak Zahra, gimana?" Tanya Hidayat lagi masih belum percaya diri.


"Kak Zahra bisa jelasin kalau suami Kak Zahra sedang sibuk, dan lain kali kami akan datang bersama ke sana..." Jawab Zahrana berlagak jengah.


"Tapi, Kak..." Ucap Hidayat bersiap hendak membantah kembali.


"Ayo buruan, Dek... Jangan protes terus, ah..." Dengus Zahrana seraya menarik kuat lengan Hidayat.


"Hehehe... Iya, iya, Kak Zahra yang cantik..." Cengir Hidayat. Dia menurut saja tanpa mengajak kakaknya itu berdebat lagi.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2