
Sudah beberapa menit mereka masih mematung di posisi mereka masing-masing. Ajis memang tidak mampu untuk berkata-kata pada saat itu, namun ia takut kehilangan kesempatan jika kali ini adalah kali yang terakhirnya.
Ajis perlahan mendekat dengan langkah gontai. Ia mengapit kedua pipi Zahrana, lalu menangkupkan wajahnya ke dada istrinya itu.
"Begitu lemahnya Abang di mata Adik, sehingga Adik tidak mau berbagi derita kepada Abang, hmm?" Tanya Ajis dengan berusaha keras menahan isak tangis.
Zahrana menggeleng. "Bukan begitu, Abang..."
"Lalu? Bukankah Adik sendiri yang meminta agar kita saling terbuka dan tidak boleh menyembunyikan apa pun, Kan? Tapi ini apa?" Napas Ajis tersengal mempertanyai Zahrana. Dadanya begitu sesak menahan kepedihan melihat istrinya yang pucat dan memandangi dirinya dengan susah payah.
"Zahra... Zahra..." Zahrana gugup. Ia tidak punya alasan lain selain tidak ingin membebani suaminya, dan hal itu akan membuat suaminya akan terus merasa hina di hadapannya.
Ajis memberanikan dirinya menatap lekat wajah Zahrana yang tergambar raut kecanggungan. Namun hatinya kembali pedih mendapati wajah putih pasi tak berdarah itu.
Ia tersedu, lalu membenamkan wajah Zahrana ke dalam dadanya.
"Tolong... Tolong demi apa pun, sembuhlah, Sayaaang... Abang mohon... Abang tidak kuat melihat istri yang Abang cintai ini sakit..." Isaknya terdengar getir.
Di luar keluarganya ikut terisak melihat mereka dari balik jendela kaca pemisah ruangan itu.
"Zahra tidak sakit, Abang... Zahra sehat..." Dalih Zahrana memperkuat genggamannya ke pinggang Ajis.
"Sudah, Adik... Jangan berkilah lagi... Abang sudah tahu semuanya. Dokter telah memberitahukan Abang tentang kondisi Adik..." Tegas Ajis.
"Do-dokter? Ke-kenapa ada dokter, Abang?"
"Ketika Adik pingsan kemarin, Hidayat datang dengan tiba-tiba. Dia mendengar semua ucapan Abang... Dia begitu marah dan mengatakan bahwa Sayang sakit..." Ucapan Ajis terjeda. Ia tersedu-sedu sebelum melanjutkan ucapannya.
"Abang bingung, lalu dia berteriak meminta agar sayang dibawa ke rumah sakit secepatnya. Dan dokter mengatakan bahwa Sayang sebelumnya sudah pernah datang memeriksakan diri kesini..." Lanjut Ajis.
"Jadi, Abang sudah tahu?" Tanya Zahrana terlihat gusar. Ia mengeluarkan wajahnya dari dekapan Ajis.
"Kenapa Sayang tidak menceritakannya kepada Abang, hmmm...? Apa Sayang benar-benar meremehkan Abang...?" Kecam Ajis memelas.
"Bukan begitu, Abang..." Jawab Zahrana dengan lemah.
"Lalu apa?" Tanya Ajis meninggi.
__ADS_1
Zahrana terkejut merasa Ajis meneriakinya. "A-abang?"
Ajis dilema. Ia kembali membenamkan wajah Zahrana ke dalam dadanya. "Maafin Abang, Sayang... Abang tidak bermaksud membentak Sayang..." Sesal Ajis merasa bersalah.
"Zahra tahu itu, Abang... Abang begitu karena Abang sayang Zahra, kan?" Tanya Zahrana. Ia tampak tersenyum mengatakannya.
"Iya... Abang sayang Adik... Abang cemas..." Jawab Ajis sembari mengecup lama pucuk kepala Zahrana.
"Jangan menangis, Abang... Zahra tidak apa-apa... Semuanya akan baik-baik saja setelah ini... Zahra mohon jangan menangis Abang..." Ucap Zahrana menguatkan hati suaminya itu.
Zahrana menutup matanya erat-erat. Ia mengeluarkan wajahnya dari dekapan Ajis. "Bismillahirrahmaanirrahiim..." Desirnya. Pelan-pelan ia membuka matanya.
Zahrana tampak tersenyum memandangi wajah Ajis. Lalu pelan-pelan mengangkat tangannya dan mengusap wajah suaminya itu dengan jemarinya. "Masyaa Allah... Zahra melihat suami Zahra tampan sekalii... Masyaa Allah..." Ucapnya kegirangan.
"Sayang sudah bisa melihat Abang dengan jelas?" Tanya Ajis ikut kegirangan.
Zahrana mengangguk tanpa mengedipkan matanya. Ia masih saja tersenyum. "Cuma wajah Abang... Zahra cuma melihat wajah Abang..." Ucapnya lagi.
"Alhamdulillah... Sayang bisa melihat dengan jelas lagi..." Ucap Ajis begitu senang lalu kembali memeluk Zahrana dengan erat.
"Hari apa sekarang, Bang?" Tanya Zahrana tiba-tiba.
"Dia sudah datang..." Ucap Zahrana.
Deg.
Jantung Ajis berdetak keras. Ia terpaku mendengar ucapan Zahrana.
"Siapa, Sayang... Siapa yang datang?" Tanyanya dengan gusar.
Zahrana tidak menyahut. Dia hanya tersenyum. Namun beberapa saat, ia menggeliat keras.
"Abang, dingin... Abang... Peluk Zahra... Zahra kedinginan, Abang... Laa ilaa ha illallah... Laa ilaa ha illallaah, Muhammadarrasulullah..." Ucap Zahrana dengan bibir bergetar dan tubuh menggigil.
Ajis ketakutan. Ia menurut dan memeluk tubuh Zahrana dengan kuat.
Yaa Allah, tolong... Tolong Yaa Allah... Tolong jangan ambil istri hamba... Pinta Ajis dalam hatinya. Ia mulai tak tenang merasakan kegusaran yang diciptakan oleh tubuh istrinya itu.
__ADS_1
"Tenang, Sayang... Iya, iya... Ini Abang peluk... Abang bacakan Zikir ya..." Ucap Ajis gelagapan. Ia memeluk tubuh Zahrana dengan kuat, lalu melantunkan zikir dengan merdu seperti suara Khai Bahar.
"Hasbi robbi Jalallah, Ma Fi Qalbi Ghairullah
Nur Muhammad Shalallah, Laa Ila Ha Ilallah
Hasbi robbi Jalallah, Ma Fi Qalbi Ghairullah
Nur Muhammad Shalallah, Laa Ila Ha Ilallah"
Air mata Ajis tidak berhenti sambil melantunkan Zikir itu. Ia merasakan tubuh istrinya begitu dingin dan tidak bergerak lagi.
Ia terisak dan mengerang dalam kesedihan yang mendalam.
"Tidurlah, Sayang... Sayang pasti lelah..." Bisiknya. Ia meletakkan kepala Zahrana ke atas bantal lalu memperbaiki posisi tidur istrinya itu.
Tampak wajah Zahrana telah kaku dan pucat, namun Ajis tetap tersenyum dengan derai air mata yang menderas, karena bibir istrinya itu juga terlihat tersenyum dalam damainya.
"Tidur ya, Sayang... Abang keluar dulu. Abang mau bicara sama keluarga kita, tadi Abang belum sempat bicara apa-apa. Nanti Abang akan temui Sayang lagi." Ucapnya dengan lembut. Ia kembali mengecup dahi Zahrana, lalu menyelimuti tubuh istrinya itu.
.
.
.
.
.
Maaf teman2...
Sebelum novel ini ditulis, Radetsa sudah mikirin matang-matang tentang episode ini.
Mungkin tidak terlalu meresap ya...
Tapi saran Radetsa, dengar langsung Zikir Khai Bahar Hasbi Rabbi jalallah itu.
__ADS_1
Salam satu layar🤗