SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
BERTEMU


__ADS_3

Sore itu Zahrana keluar rumah. Ia begitu merindukan suasana desanya. Dia berjalan-jalan sendiri untuk menikmati keindahan pantai yang sudah lama tidak ia jelang semenjak Ia menikah dengan Ajiz.


Sebelum keluar, ia sempatkan menulis pesan kepada suaminya untuk meminta izin.


Kebetulan, Nur dan Muslim juga belum pulang mengajar pada jam segitu. Sementara Faiz dan Faizah ikut kedua orang tua Zahrana ke pasar untuk belanja tambahan. Sedangkan Hidayat, ia pastilah akan menemui teman-temannya karena sudah lama pula mereka tidak berkumpul bersama-sama.


Karena dari itulah ia berniat keluar. Zahrana begitu girang ketika ia baru saja mendengar deru ombak di Pantai itu seolah memanggil-manggil dirinya agar segera datang kesana. Tapi perlahan, senyumnya memudar. Sosok pemuda yang baru saja keluar dari pantai itu berjalan berpapasan dengan dirinya.


"A-Ari..." Panggilnya Lirih. Sebuah perasaan bersalah timbul dalam dirinya ketika melihat raut datar pada wajah orang itu yang tidak lain mantan kekasihnya, sekaligus saudara sesusuan dengannya. Lelaki yang sudah tidak lagi tinggal, dan bahkan sudah lama terdepak jauh dari lubuk hatinya.


Ari menyeringai kecut penuh ejek.


"Bagus ya, kamu akhirnya mendapatkan keuntungan dari kisah kita. Bahkan kamu tidak mengingatnya sebagai kenangan terindah sedikitpun. Kenapa kamu begitu kejam, Zahrana?" Ucap lelaki itu menyindir dan terdengar tajam di telinga Zahrana.


Hati Zahrana terasa remuk bagai diremas kencang oleh kata-kata lelaki di hadapannya itu.


"A-Ari..." Zahrana menyebut nama lelaki itu sekali lagi dengan gugup. Perasaan bersalah semakin membuncah di hatinya. Ya, karena lelaki itu adalah masa lalunya. Lelaki sebenarnya dalam peran yang dimainkan Arya pada kisah novel 'bukan salah ibu menyusui', tulisannya sendiri.


"Aku bahkan belum mampu mencari penggantimu, Zahrana... Tetapi kenapa kamu malah begini? Kamu pikir tidak ada yang sakit, hah? Aku persis seperti itu. Kenapa tidak sekalian saja kamu buat lelaki dalam tokoh novel 'mu itu bunuh diri? Biar sempurna kamu memperolok-olok diriku..." Tuding Ari lagi seakan melepas uneg-uneg di hatinya.

__ADS_1


"A-Ari... Bu-bukan begitu, Ari..."


"Lalu apa, Zahra... Harga diriku serasa tercabik membaca novel kamu..."


"Aku terpaksa, Ari... Aku terpaksa menjadikannya sebagai pundi-pundi uang..."


"Terpaksa?" ucap Aridiansyah bernada cemooh.


"Ari..." Panggil Zahrana lirih. "Kamu tahu, kan, permasalahan apa yang saat ini menimpa kedua orang tuaku ulah Kak Rianur?" Ujar Zahrana berusaha mencoba menjelaskan mengapa ia melakukan hal itu.


"Sudahlah, Zahrana... Bahkan kamu tertawa menikmati hasilnya... Bagaimana? Kamu puas? Hasilnya pasti banyak, bukan? Bahkan sampai diangkat ke layar lebar oleh produser terbaik di negeri ini." Tahan Ari. Ia seolah tidak bersedia mendengar penjelasan apa pun yang keluar dari mulut Zahrana.


Hati Zahrana semakin terasa perih. Air matanya bergulir ketika mendengar tuduhan-tuduhan yang dilontarkan Ari kepadanya secara pedas.


"Ariii..." Zahrana mendekat perlahan. Ia mengangkat tangannya hendak mengusap bahu lelaki itu, namun diurungkannya kembali.


"Kenapa kamu ragu? Bukankah kamu tidak akan menikah dengan lelaki mana pun selain aku? Apa kamu masih mencintai aku?" Tanya Ari mulai melunakkan suaranya. Ia memelas, mengharapkan cinta Zahrana kembali kepadanya.


Zahrana menggeleng keras membantah pemikiran Ari tentang perasaannya.

__ADS_1


"Kamu bohong, kan? Kebenarannya kamu masih mencintai aku, kan Zahra? Dia tidak ada apa-apanya dengan aku. Bahkan aku lebih tampan dan lebih muda darinya. Aku bisa memberi apa pun yang kamu mau, bahkan untuk mengeluarkan kak Rianur dari permasalahannya." Ucap Ari seperti orang hilang akal. Terlihat sekali dari caranya memaksa agar Zahrana mengaku masih mencintai dirinya.


"Tidak, Ari... Aku mencintai suamiku, bahkan lebih cepat dari yang aku kira." Tutur Zahrana membantah ucapan-ucapan Ari mengenai perasaan dirinya.


Ari terdiam. Tatapannya yang memelas berubah murka. "Munafik..." Ketus Ari dengan amarah menggebu Seraya berlalu meninggalkan Zahrana.


"A-Ari... Ari... Ariiii..." Panggil Zahrana, namun Ari tak lagi menyahut, bahkan untuk menoleh sekalipun.


"Ya Allah... Ari tidak Ridho kisah kami hamba bukukan dan diperjualbelikan. Apa aku berdosa, ya Allah?" Zahrana menjatuhkan lututnya perlahan ke atas pasir pantai.


"Sungguh, tidak ada niat hama kecuali hanya untuk mengembalikan perekonomian keluarga hamba yang sempat terpuruk waktu itu... Bahkan penghasilan yang dikumpulkan Bang Ajis dari kiosnya, tidak bisa hamba gunakan untuk biaya pengobatan sakit yang hamba alami saat ini. Hamba masih merahasiakan penyakit hamba, ya Allah, karena hamba tidak ingin membebani keluarga hamba. Apalagi suami hamba..." Rintih Zahrana.


Zahrana berkali-kali mengusap air matanya meratapi perasaan bersalahnya terhadap Aridiansyah yang terluka karenanya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2