
Baru saja Ajis ke depan, suara mesin motor terdengar memasuki pekarangan rumahnya. Ajis bergegas membukakan pintu, karena dia yakin itu adalah adik iparnya yang datang.
"Assalamualaikum..." Ucap lelaki muda menghampiri dirinya sembari menyodorkan tangan.
"Waalaikumsalam..." Jawab Ajis menyambut kedatangan lelaki yang merupakan adik iparnya itu. "Ayo masuk, Yat..." Ajak Ajis seraya masuk kembali ke ruang tamu, dan diikuti Hidayat dari belakangnya.
"Sudah sarapan kamu, Yat?" Tanya Ajis dengan akrabnya.
"Sudah, Bang..."
"Beneran? Kakakmu lagi di belakang tuh... Kalau belum, sarapan dulu lah..." Suruh Ajis.
"Tidak usah, Bang... Hidayat sudah sarapan tadi di kos. Kebetulan ibu kos jualan sarapan di depan kos-kosan kami." Elak Hidayat menolak tawaran Ajis.
"Oh, ya sudah... Kamu tunggu saja sebentar ya... Sebentar lagi kakakmu selesai." Ujar Ajis.
"Iya, Bang... Abang tidak ke kios?" Tanya Hidayat tiba-tiba.
"Iya, sebentar lagi. Abang sengaja nungguin kamu, biar kita sama-sama berangkatnya. Lagian mobil yang membawa barang, palingan belum datang jam segini."
"Abang belanja? Ramai kios Abang ya?"
"Abang kan ulang dari nol, Yat... Jadi, kios Abang yang terbakar sudah dibangun ruko oleh pemilik tanah. Dan Alhamdulillah, kakak kamu mampu mengontraknya kembali." Ujar Ajis santai.
"Apa, Bang? Kios Abang terbakar? Kapan, Bang? Kok Hidayati tidak tahu?" Tanya Hidayat berentetan, ia begitu terkejut mendengar pengakuan kakak iparnya itu.
"Kamu nggak tahu, Yat? Kok bisa? Kakak kamu tidak pernah cerita kah?" Tanya Ajis tak kalah terkejut mendengar pertanyaan Hidayat.
Hidayat menggeleng pelan. Matanya berkaca-kaca mengenang satu hal yang hanya dia sendiri yang tahu itu.
"Astaghfirullah, kak Zahra... Pantas saja..." Ucap Hidayat.
"Pantas saja? Maksudnya apa, Yat?" Tanya Ajis semakin tidak mengerti.
"Nggak, Bang... Bukan apa-apa... Kak Zahra memang selalu begitu orangnya. Dia tidak pernah mau sedikit pun membagi bebannya kepada siapapun. Tapi giliran bahagianya, semua orang dapat..." Ujar Hidayat lirih.
"Maksud kamu?" Ajis masih tidak mengerti dengan penuturan Hidayat. Dia tahu, istrinya itu perempuan yang lembut dan penuh pengertian. Tapi, masa hal sebesar itu Zahrana tidak membaginya sedikitpun kepada keluarganya? Yang benar saja?
__ADS_1
Apa Zahrana tidak ingin merepotkan keluarganya? Atau, ia hanya tidak ingin keluarganya tahu bahwa ia sedang susah bersama suaminya?
Ya, pemikiran kedua-duanya memang baik. Hanya saja, Ajis tidak tahu bahwa keluarga Zahrana sendiri sedang dihadapkan permasalahan pelik pada saat itu. Zahrana tidak hanya memikirkan hal itu saja, dia hanya tidak mau menambah beban suami atau pun keluarganya, jika kedua belah pihak saling mengetahui permasalahan satu sama lainnya.
"Kak Zahra tidak cerita apa-apa, Bang... Dia seperti dirinya biasa setiap kali menelpon. Seakan semuanya baik-baik saja. Ceria dan selalu tertawa..." Ungkap Hidayat berusaha kembali menetralkan perasaannya.
"Ya Allah... Kakak kamu itu, dia berusaha menyembunyikan ceritanya bersama Abang kepada kalian semua, seperti halnya kakakmu itu menyembunyikan tentang permasalahan kak Rianur dari Abang..." Ucap Ajis mendengus.
"Kak Zahra sudah cerita ke Abang tentang masalah kak Rianur?" Tanya Hidayat begitu terkejut seolah tak percaya.
"Sudah... Itu pun karena Abang tidak sengaja mendengar kakakmu sedang teleponan dengan Muslim waktu itu..." Sahut Ajis mengenang. "Sekarang bagaimana? Apakah kak Rianur masih marahan dengan Muslim?"
"Masih, Bang..." jawab Hidayat polos.
"Tapi kalau boleh Abang tahu, sebenarnya permasalahan mereka apa? Kok sampai kak Rianur pergi dari rumah, dan malah ngontrak di desa seberang?" Tanya Ajis tampak bingung dan penasaran.
Apa? Jadi Bang Ajis belum tahu cerita sebenarnya tentang permasalahan yang terjadi dengan Kak Rianur?
Yaa Allah, kak Zahra... Kak Zahra memang tidak pernah mau membebani orang-orang yang kak Zahra sayangi. Dan pada akhirnya, Kak Zahra sendiri yang selalu berjuang untuk menjadikan semuanya kembali baik-baik saja...
"Eh... I-iya, Bang?"
"Sebenarnya ada apa?" Ulang Ajis menanyakan perihal yang sama.
Hidayat termangap hendak mengatakan sesuatu, namun tiba-tiba Zahrana datang dari arah dapur.
"Hidayat... Sudah dari tadi, Dek?" Sapa Zahrana kepada adik bungsunya itu.
"Baru saja, Kak... Kakak sudah selesai?"
"Sudah... Ayo berangkat. Abang sampai terlambat loh, karena menunggu kita." Ucap Zahrana.
Sekali lagi pertanyaan Ajis ditangguhkan. Dia belum mendapat jawaban yang sebenarnya, tentang permasalahan apa yang sebelumnya itu telah menjadi beban istrinya.
"Ayo, Bang... Nanti karyawan Abang malah nunggu lama di depan ruko..." Ajak Zahrana seraya menarik lembut lengan suaminya itu.
"Iya, Adik..."
__ADS_1
Di depan pagar, mereka berpisah arah. Ajis ke kiri, sementara Zahrana dan Hidayat ke arah kanan.
"Jagain kakak kamu, Yat... Jangan biarkan dia digoda lelaki mana pun di luar sana." Pesan Ajis dengan nada bergurau.
"Siap, Bang..." Sahut Hidayat begitu semangat.
"Siapa juga yang bakal menggoda kakakmu ini, Dek?" Geleng Zahrana melihat tingkah suami dan adiknya berkomplotan di depannya.
"Bisa saja, Kak Zahra... Secara, kak Zahra kan cantik dan ramah..." Ucap Hidayat yang mampu mengukir raut gelisah di wajah Ajis. Sungguh, hatinya kembali was-was mendengar hal itu dari adik iparnya langsung.
"Tapi tenang saja, Bang... Hidayat akan jaga Kak Zahra untuk Abang seorang. Orang yang sudah membuat bahagia kakak Hidayat selama ini..." Tukas Hidayat lagi.
Ajis tersenyum lega. "Saya percaya kamu, Yat..." Ucap Ajis berpura-pura kalau ia baik-baik saja.
Zahrana mencium tangan Ajis sebelum menaiki motor Hidayat, dan Ajis menyambutnya dengan sebuah kecupan di kepala Zahrana.
"Hem... Hem... Hemm..." Hidayat berdehem. Dia memalingkan pandangan ke sembarang arah seolah-olah enggan melihat kemesraan kakak dan kakak iparnya itu.
"Abang pamit ya... Adik hati-hati..."
"Iya, Abang... Abang juga hati-hati, dan semangat... Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumussallam..." Jawab Ajis sembari mengusap lembut kepala Zahrana.
"Yat, Abang pergi. Assalamu'alaikum..."
"Iya, Bang... Wa'alaikumsalam..."
.
.
.
.
.
__ADS_1