SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
MASA LALU 6


__ADS_3

"Apa, Nak? Ibu tidak salah mendengar, kan? Kamu ingin menikah dengan putrinya Bu Zainab?" Reaksi keterkejutan terpancar dari raut wajah wanita paruh baya itu, sementara suaminya hanya diam, tenang duduk di sofa ruang tamu tempat mereka berbincang sore itu.


"Bu... Namanya Zahrana... Memangnya kenapa dengan bu Zainab, Bu? Kenapa Ibu selalu itu tidak suka jika tentang keluarganya bu Zainab?" Tanya Ari.


"Dia itu hanya pengasuh kamu, Ari... Tidak sepadan dengan keluarga kita. Apa gunanya kamu sekolah tinggi-tinggi, jika ujung-ujungnya berjodoh dengan gadis biasa?" Ketus ibu Ari tanpa memikirkan perasaan Zahrana yang juga berada di sana.


Ari terenyak mendengar ucapan ibunya bagai tak berperasaan itu. Ia meraih tangan Zahrana yang berada di sampingnya, dan menggenggamnya. Ia mengisyaratkan agar Zahra tidak menyerah dan terus berjuang bersama dirinya.


"Jadi kamu lebih memilih menikahinya daripada mendengar kata-kata ibumu ini?"


"Iya, Bu... Ari mau menikahi Zahra..." Jawab Aridiansyah dengan tegas.


Zahrana hanya menunduk penuh ketakutan disamping Ari.


"Zahrana..." Panggil Ibu Ari mengarah kepada gadis itu.


Zahrana mengangkat pandangannya secara perlahan ke arah ibu Ari. "I-iya, Bu..." Sahutnya dengan bibir bergetar.


"Saya akan beri kamu uang seberapapun yang kamu mau, tapi tolong tinggalkan anak saya..." Tukas Ibu Ari penuh penekanan.


"Buuu...." Ari bangkit menentang ucapan ibunya itu. Tatapannya tajam penuh kemarahan.


Air mata Zahrana bergulir. Harga dirinya seakan baru saja ditawari oleh seseorang yang akan menjadi calon mertuanya itu. Hatinya terasa sakit ketika Ibu Ari menghargai cintanya hanya dengan sebatas uang semata.


"Maaf, Bu, Pak... Saya permisi, Assalamualaikum..." Ucap Zahrana ikut bangkit dan segera meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


"Za-Zahraaa..." Panggilan Ari mencoba menahannya. Namun Zahrana sama sekali tidak menoleh, ia malah mempercepat langkahnya untuk pergi dari sana.


"Ibu benar-benar keterlaluan..." Ketus Ari seraya berlari mengejar Zahrana.


"Ariiii..." Seru ibunya berusaha menahan kepergian Ari. Namun ia sama sekali tidak mengindahkan panggilan ibunya itu. "Dasar! Lihat, Yah... Anakmu yang keras kepala itu..." Umpat beliau seraya merentak masuk ke dalam kamarnya.


Ardiansyah begitu kesal melihat Zahrana diperlakukan seperti tadi oleh ibunya sendiri. Ia terus mengejar Zahrana sampai keluar rumahnya.


"Zahranaaa... Aku mohon berhenti..." Serunya.


Zahrana menghentikan langkahnya lalu menoleh kepada Ari yang tampak putus asa pada saat itu. Zahrana menunggu Ari dari posisinya.


Ari tersenyum melihat Zahrana yang mau berhenti atas panggilannya tadi. Ia berlari semakin cepat ke arah Zahrana dan memeluk Gadis itu dengan erat.


"Kamu percaya aku, bukan?" Tanya Ari begitu cemas dengan perasaannya jika Zahrana kembali berubah pikiran.


Ari beringsut mundur, mengendurkan dekapannya ke tubuh Zahrana.


"Jadi, kamu akan bersedia melewati ini semua bersama-sama dengan ku?" Tanya Ari begitu riang.


"Bukankah kamu sudah mengatakan bahwa tidak akan ada penghalang untuk cintamu kepadaku? Dan aku butuh bukti untuk hal itu, Ari... Aekarang masuklah... Bujuk Ayah dan ibumu untuk bisa merestui hubungan kita. Aku akan menunggumu datang untuk melamarku..." Perintah Zahrana membujuk lelaki yang tiba-tiba berubah cengeng pada hari itu.


Ari tampak muram kembali. Dia ragu, namun dia tetap mengangguk. Dia tahu Zahrana bukanlah perempuan yang akan membiarkan dirinya melakukan sesuatu tanpa restu orang tua.


"Kamu harus janji untuk menunggu sampai aku datang melamarmu ya..." Pinta Ari berharap.

__ADS_1


"Iya... Aku janji, Ari... Aku akan mempersiapkan diriku atas kedatangan mu. Tapi jangan biarkan aku menunggu terlalu lama lagi. Sampai itu terjadi, aku akan menerima lamaran lelaki lain..." Ancam Zahrana menggoda.


"Coba saja, kubunuh lelaki itu..." Balas Ari mengancam.


Zahrana tergelak. "Aku tidak akan membiarkan kamu menjadi pembunuh... Aku akan menunggumu..." Ikrar Zahrana sembari menggamit pipi Aridiansyah.


Setelah kepergian Zahrana, Ari kembali masuk ke dalam rumahnya. Di dalam, ia hanya menemui ayahnya yang masih saja duduk di sofa semula.


"Tidak bisakah Ayah sedikit mengerti? Kenapa Ayah hanya selalu diam?" Ari bertanya dengan nada memelas kepada sosok pria yang masih bersikap tenang di hadapannya itu.


Ayah Ari tanpa menggeleng, "Semua keputusan hidupmu, Ayah serahkan kepadamu, Nak... Kamu sudah cukup dewasa." Ayah Ari bangkit meninggalkan ruangan itu menuju ke kamarnya.


"Yah... Setidaknya bicaralah kepada ibu. Aku hanya butuh bahagia, Yah... Dan kebahagiaanku terletak pada Zahrana..." Ucap Ari membuat langkah ayahnya berhenti sesaat, namun kemudian kembali melanjutkan langkahnya tanpa meninggalkan penjelasan apa pun.


"Kalian tidak pernah ada untukku selama ini, kecuali uang yang menggantikan sosok kalian di sisi aku..." Teriak Ari mengiba.


Ari terisak, lalu perlahan menjatuhkan dirinya ke sofa.


Yaa Allah... Lunakkanlah hati mereka...~ Batin Ari. Ia mengusap kasar kepalanya hingga ke seluruh wajahnya yang terasa panas dan lembab.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2