SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
PERASAAN BERSALAH


__ADS_3

Zahrana pulang dengan langkah gontai. Bukan kesenangan yang ia terima senja itu, melainkan kepedihan karena tidak sengaja bertemu pemuda yang pernah mengisi hatinya dulu.


Ia juga tidak menyangka akan bertemu kembali, setelah dari lama ia tidak mengingat masa lalunya itu lagi.


Bukan ia lupa sepenuhnya, hanya saja masa lalu itu tidak lagi berarti seperti berartinya Ajis dalam hidupnya.


"Kakak, pulang?" Teguran Muslim membuat dirinya bergeming. Ia lupa segalanya selain rasa bersalahnya kepada Aridiansyah tadi.


"Kakak?" Ulang Muslim memanggili dirinya.


"Oh... Hem.. Mus...? Kamu sudah pulang mengajar, Dek?" Tanya Zahrana gugup.


"Baru saja. Kakak pulang? Bang Ajis mana?" Tanya Muslim lagi sembari celingak-celinguk ke belakang Zahrana mencari sosok kakak iparnya.


"Kakak pulang bareng Hidayat, Mus... Kebetulan Bang Ajis sedang bepergian ke luar kota untuk dua hari ini buat berbelanja barang di kios." Jawab Zahrana mulai mengambil penuh kesadarannya.


"Owh... Lalu orang rumah pada kemana, Kak? Pintu kekonci dari luar."


"Ayah dan ibu ke pasar bawa Faiz dan Faiza. Kak Rianur sama bang Edi pergi cari kelapa katanya. Kalau Hidayat, kamu kan tahu sendiri dia..." Papar Zahrana.


"Ini kunci rumah, Dek... Kamu masuk saja duluan, kakak masih ingin di luar..." ucap Zahrana seraya menyodorkan seutas kunci kepada Muslim.


Hubungan mereka masih sedikit canggung akibat perdebatan mereka beberapa waktu lalu lewat telepon. Namun mereka tetap adik kakak yang menghargai arti sebuah hubungan.


*****

__ADS_1


Aridiansyah.


Pemuda itu mengetuk pintu kamar yang biasa dihuni oleh orang tuanya apabila mereka berada di rumah, dengan jantung yang berdebar. Perasaan bersalah membuncah, mengenang betapa ia keras hati ketika di masa lampau terhadap ibunya yang semestinya ia kasihi.


Tak ada sahutan, tangannya menarik gagang pintu itu dengan perlahan. Daun pintu terbuka sedikit, membuat tubuh ibunya terlihat jelas sedang menangis sambil memeluk sebuah pigura berukuran kecil di dadanya.


"Ibu..." Panggilnya dengan suara serak tersekat kepedihan melihat wajah lelah ibunya.


"Ibu..." Ulangnya seraya membuka lebar daun pintu itu lalu terus berjalan pelan mendekati sosok ibunya yang juga menatap bingung bercampur sejuta kerinduan terhadap dirinya.


"Ibu..." Perasaan emosional dalam dirinya, membuat ia bergegas mempercepat langkahnya mengejar posisi ibunya itu.


"A-Ariii... Ibu... Ibu..." Ibu Ari bangkit dari duduknya hendak menyambut kedatangan putra semata wayangnya itu.


"Sssttt..." Ari menempelkan jari telunjuknya ke bibir ibunya itu, lalu ia mendekap ibunya dengan erat.


"Maaf... Maaf, Ibu... Maaf, Ari telah bersikap egois dan keras kepala selama ini... Maafkan anak Ibu yang tidak pernah melihat duka Ibu selama ini. Maaf, Ibu..." Ucapnya lirih sambil terus menguatkan pelukannya.


Ibu Ari memaksa melepas pelukan mereka. Ia mendekap pipi Ari dengan kedua tangannya, lalu menggeleng cepat, membantah pengakuan Ari.


"Kamu tidak salah, Sayang... Ibu yang salah, Nak... Ibu yang tidak bisa menjadi Ibu yang baik untuk kamu selama ini..." Ucap ibunya dengan derai air mata yang semakin menjadi-jadi.


"Tidak, Ibu... Berhentilah Ibu menyalahkan diri Ibu kepada Ari, jika Ibu tidak ingin membuat Ari semakin lemah karena perasaan dosa ini. Andai waktu bisa diputar kembali, ingin sekali Ari menebus kesalahan Ari, dan menapaki rasa pedih yang selama ini Ibu tanggungkan. Ari berdosa, Ibu... Ari berdosa karena telah menjadi durhaka selama ini. Ampuni Ari Ibu... Ampuni Ari..." Ari menjatuhkan dirinya dan berlutut di hadapan ibunya itu.


"Ini bukan salah Ari, Nak... Jangan menyalahkan diri sendiri untuk ini. Tidak ada yang salah, biar keadaan yang mengalah. Ibu percaya, setelah ini semua akan baik-baik saja." Ucap ibu Ari seraya menarik bahu Ari bangkit, dan membawanya ke tepi tempat tidur untuk duduk bersama.

__ADS_1


"Jika saja Ari bisa lebih memahami Ibu, mungkin Ibu tidak akan sesakit ini menanggung semuanya sendiri." Ucap Ari masih dengan perasaan bersalahnya.


"Sudahlah, nak... Putra Ibu mau memeluk Ibu seperti ini saja, sudah cukup bagi Ibu. Dan rasa sakit selama ini serasa sudah terobati karenanya." Ia tersenyum sedikit. Senyum yang telah lama tidak tampak di bibirnya itu.


Ibu Ari, perempuan yang sudah terlihat paruh baya itu mengamati raut wajah Ari dengan seksama. Mencoba menelaah perasaan yang bersarang di dalam dada buah hatinya itu. Lalu ia menarik lembut tangan Ari dan mencium telapak tangan putranya dengan lama.


"Kamu pasti sedang bersedih... Coba ceritakan pada Ibu, Nak..." Pinta ibunya. Berharap menjadi ibu seutuhnya yang selama ini tidak terwujud dalam dirinya.


Perasaan Ari semakin membuncah ketika ibunya menanyai hal demikian. Hal yang dia rindukan dari sesosok ibu selama itu. Seperti bu Zainab, yang dapat melihat duka dalam matanya.


"Ibu dapat melihatnya?" Tanya Ari sendu.


"Maafkan Ibu, Nak... Ibu baru menanyainya. Pasti selama ini kamu kesulitan menahan semua ini sendiri." Ucap ibunya sembari menyeka air mata yang masih nakal menyelinap keluar dari ruas-ruas matanya itu.


Ari tersenyum, lalu membalas genggaman tangan ibunya. Ia menaikkan kedua kakinya ke atas tepi tempat tidur itu, kemudian merebahkan kepalanya ke paha ibunya.


"Dengan begini saja perasaan Ari bisa lebih baik, Bu..." Ucap Ari. Ia merasakan elusan lembut tangan ibunya bermain di kepalanya. "Ari sayang Ibu..." Ungkapnya sambil bersidekap erat di paha ibunya itu. Dia sudah banyak mengeluarkan air mata bersalah dan kerinduan sedari ia melihat wajah ibunya pertama kali tadi.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2