
Sore semakin membuat cahaya mentari meredup. Namun mereka, Zahrana dan Aridiansyah, masih saja terlihat enggan beranjak dari sana. Yang mereka berdua lakukan, hanya duduk dan diam menatap ombak yang hampir menerpa kaki mereka.
Beberapa saat dari sebelumnya di antara mereka hanya hening. Sebenarnya Aridiansyah lah yang paling sedih. Rasa takut jika Zahrana tidak lanjut, maka gadis itu akan menikah dengan lelaki lain, pikirnya.
Mata Zahrana juga terlihat sembab setelah menangis melepaskan beban kesedihan di dalam hatinya kepada temannya itu.
"Apa perlu aku bicara Pada Ibuku, Zahra? Ibuku, kan banyak uang..." Tanya Ari berusaha mencari jalan keluar permasalahan yang dihadapi oleh Zahrana.
"Tidak, Ri... Jangan..." Cegah Zahrana cepat seraya menolehkan wajahnya menatap keseriusan di wajah Ari.
"Kenapa, Zahra?" Ari membalas tatapan Zahrana dengan pandangan memelas. "Kamu segan? Nanti biar aku yang bicara pada ibuku... Apa keinginanku yang tidak terpenuhi oleh kedua orang tuaku? Semuanya, ibu dan ayahku lakukan untukku..." Ujar Ari berusaha meyakinkan Zahrana.
"Bukan begitu, Ri... Aku tidak mau merepotkan siapa-siapa dalam meraih keinginanku, termasuk ibu dan ayahmu... Aku tidak bisa menerima walau kamu memaksa..." Tegas Zahrana menolak tawaran Ari.
"Tidak merepotkan, Zahra... Atau kamu takut? Yaa Allah, Zahra... Kamu tidak perlu takut, Ibuku baik kok... Pasti Ibuku dengan senang hati mau membantu kamu..." Ucap Ari seraya meraih tangan Zahrana yang bertopang di pasir pantai.
"Pokoknya tidak perlu Ari... Aku sekarang sudah tidak lagi ingin. Aku lebih baik nganggur saja, bantu ibu dan ayah ke ladang..." Bantah Zahrana bersikeras menolak.
"Tapi, Zahra..."
"Ari..." Zahra lebih cepat memotong sanggahan Ari. "Aku tidak mau bersitegang dengan kamu, ya... Please, tolong jangan bahas ini lagi. Keputusanku sudah bulat untuk berhenti sampai di sini."
"Baiklah... Terserah kamu..." Dengus Ari terlihat pasrah. "Tapi sebagai pelengkap tubuhku selama ini, kamu jangan pernah menikah sebelum aku lulus kuliah, mengerti..." Tekan Ari terdengar memaksa.
__ADS_1
"Loh, kenapa?" Dahi Zahrana mengerinyit, ia bingung dengan ucapan bernada perintah itu.
"Pokoknya tidak boleh, titik..." Tegas Ari lagi.
"Aneh kamu, Ri... Suka-suka aku dong... Itu, kan hak aku..." Sungut Zahrana merasa kesal. Entah kenapa, temannya itu seolah-olah mengatur dirinya sampai kepada hal pribadi sekalipun.
"Jangan membantah..." Tukas Ari bersitegang.
"Baiklah... Sebagai teman yang selalu mentraktirku di jam istirahat sekolah, terus sering membagi ku oleh-oleh yang dibawa ibumu setiap kali ibumu pulang dari tugas luar kota, dan juga sering memberiku kado di hari-hari spesial, aku siap turuti perintah..." Sahut Zahrana terdengar pasrah, meski sebenarnya ia Ingin mengeluh.
"Nah, itu baru temanku..." Puji Ari kembali tersenyum.
"Tapi..." Zahrana tersenyum jahil.
"Tapi apa? Aku siap penuhi syarat darimu..." Ucap Ari menunggu penjelasan lanjut dari Zahrana.
"Zahra... Tidak bisa begitu, kamu harus janji dong..." Seru Ari seraya ikut bangkit dan mengejar gadis itu.
Zahrana menoleh kearah Ari, lalu tertawa keras sembari berjalan mundur tetap menjauhi posisi Ari yang masih mengejar dirinya.
"Jika aku dijodohkan oleh orang tuaku, gimana? Atau kalau jodohku sudah datang, nggak mungkin Aku menolaknya, bukan?" Zahra terkekeh lalu kembali berlari sekencang-kencangnya.
"Tidak boleh.... Pokoknya tidak boleh... Kamu bahkan bisa menolaknya, Zahra..." Ari mulai mendengus kesal.
__ADS_1
"Kamu aneh... Masa aku tidak kamu bolehin menikah? Padahal, perempuan itu tidak boleh singgel terlalu lama, loh..." Teriak Zahrana sekeras-kerasnya. Deru ombak membuat suara Zahrana kalah, sehingga ia harus berteriak mengatakannya kepada Ari.
Zahrana lengah, dan kesempatan bagi Ari berlari sekencang-kencangnya untuk mengejar posisi gadis itu.
"Nah, dapatkan..." Seru Ari menarik lengan Zahrana. Zahrana berteriak, tawa mereka menyembur, menambah kehangatan suasana pantai senja itu.
"Kamu kenapa sih, Ri? Aneh tau..." Sungut Zahrana di sela-sela gelak tawanya.
"Aku serius, Zahra... Aku tidak mau kamu menikah sebelum aku lulus... Please, untuk sekali ini lagi, dengarkan saja... Lagian, apa salahnya jika kamu tidak menikah sampai aku lulus, hmm? Kamu belum menjadi perawan tua karenanya hingga saat itu tiba..." Ari berucap lirih penuh permohonan. Kedua tangannya menggamit lembut pipi Zahrana, dan menghadapkan wajah gadis itu ke hadapannya. Ia memperlihatkan, bahwa ia sungguh-sungguh serius meminta.
Zahrana terdiam. Senyumnya memudar. Dia merasakan ada perasaan yang tidak biasa ia rasakan pada saat itu ketika mendengar permintaan Ari.
"Baiklah... Aku akan menunggumu sampai kamu lulus dan menjadi sarjana, biar kita bisa bersama-sama untuk sebelum perpisahan kita. Karena suatu hari nanti, kamu akan menikah dengan seseorang yang sederajat dengan kamu, seperti yang diimpikan ibu kamu..." Ucap Zahrana.
Ari menggeleng. "Yang pasti, kita akan selalu bersama..."
Zahrana begitu polos untuk mengartikan perasaannya sendiri, bahkan juga permintaan Ari. Dia hanya mengangguk, menyetujui hal yang menurutnya sudah biasa.
.
.
.
__ADS_1
.
.