
Sepuluh jam perjalanan yang mereka tempuh, lebih lambat dari pada biasanya mereka melakukan perjalanan. Ya, karena berbagai tragedi yang mereka lewati hari itu.
Mereka sampai di rumah sudah hampir maghrib, sementara Hidayat langsung minta diantar sopir travel ke kos-nya, karena ia sendiri harus menyiapkan diri untuk kuliah besok.
Malamnya ketika hendak beristirahat, Ajis malah merengkuh Zahrana ke dalam dekapannya.
"Kenapa tidak pernah bilang kalau Adik pobia jika naik mobil?" Tanya Ajis terdengar merasa bersalah.
"Zahra sendiri tidak tahu kalau Zahra memiliki pobia. Tapi yang jelas, Zahra takut jika sudah naik mobil." Jawab Zahrana apa adanya.
"Kenapa Adik tidak protes waktu Abang mutusin naik travel?" Tanya Ajis lagi masih belum puas mendengar jawaban Zahrana.
"Ya, mana Zahra tau... Zahra pikir rasa takut Zahra bakal hilang kalau naik mobilnya bersama Abang..." Jawab Zahrana tanpa rasa bersalah.
"Hemmm... Maafin Abang ya, Dik... Abang nggak pernah tahu apa pun tentang perasaan Adik... Mulai dari sekarang, cobalah untuk berbagi kepada Abang... Abang ini kan suami Adik..." Tutur Ajis.
"Iya, Abang... Maaf... Zahra tidak menyembunyikan apa pun kok..." Ucap Zahrana. Meski berbohong, ia tetap bersikap sesantai mungkin.
"Abang..." Panggil Zahrana manja.
"Hemmm?"
"Zahra jadi kepikiran tentang kejadian di jalan lintas tadi. Serem ya, Bang..." Ujarnya.
"Iya, Adik... Kalau serem, jangan dipikirkan lagi ya. Lupakan..." Ucap Ajis semakin mempererat dekapannya ke tubuh Zahrana.
"Gimana Zahra bisa melupakan nikmat Allah yang begitu besar kepada kita, Abang?" Ungkap Zahrana lagi.
"Nikmat Allah? Itu kan kecelakaan loh, Adik..." Protes Ajis terlihat kebingungan.
__ADS_1
"Abang tidak ingat kalau ban travel yang kita tumpangi meletus?" Tanya Zahrana bersungut.
"Iya, Abang ingat... Kenapa?"
"Allah memberi kita sedikit ujian, demi menjauhkan kita dari cobaan yang lebih besar... Seandainya saja ban mobil yang kita tumpangi tadi tidak meletus, kemungkinan besar kita juga berada di tempat kejadian itu, kan? Dan kejadian itu terjadi se-jam sebelum kita sampai disana." Tutur Zahrana.
"Astaghfirullah..." Desir Ajis dengan wajah menegang. Ia baru saja menyadari akan hal itu setelah Zahrana yang mengatakannya. "Kenapa Abang bisa begitu abai terhadap pertolongan Allah? Ya Allah... Ampuni hamba..." Ucap Ajis dipenuhi rasa berdosa.
"Iya, Abang... Itu pertolongan Allah untuk kita. Kita yang kadang di posisi seperti itu kerap mengeluh, padahal sudah ada rencana Allah untuk menyelamatkan kita dari bahaya besar." Imbuh Zahrana.
"Hanya saja, Zahra masih tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana besarnya kepedihan yang dirasakan korban dan keluarga yang kehilangan dari kejadian itu." Tambah Zahrana lagi dengan pikiran yang melayang-layang.
"Ya Allah... Semoga Engkau beri ketabahan kepada mereka yang ditinggal, dan juga semoga Engkau mengampuni dosa-dosa mereka serta menerima mereka di sisi-Mu..." Ucap Ajis berdo'a dengan penuh rasa harap dan takut
"Aamiin Yaa Mujiib..." Ucap Zahrana mengaminkan do'a yang diucapkan Ajis.
"Kita shalat yuk, Dik... Untuk rasa syukur kita kepada Allah dan juga untuk orang-orang yang mengalami kecelakaan tadi." Ajak Ajis.
Mereka kembali meninggalkan tempat tidur untuk melakukan shalat dan memanjatkan do'a kepada yang Kuasa.
Usai shalat, mereka kembali ka atas tempat tidur. Bukannya beristirahat, Ajis malah menggerayangi tubuh istrinya itu. Namun meski lelah, Zahrana tidak menolaknya. Ia tahu bahwa itu adalah kewajiban baginya, yang apabila ia menolak, maka ia akan berdosa.
"Adik capek?" Tanya Ajis dengan nafas tersengal.
"Jika Abang belum puas, Zahra akan tetap layani Abang..." Jawab Zahrana begitu lembut.
"Benar, tidak mengapa? Abang masih ingin..." Bisik Ajis memelas.
"Zahra ambil wudhu duluan ya..."
__ADS_1
Ajis mengangguk lalu melepaskan tubuh Zahrana dari dalam kungkungannya. Mereka bergantian ke kamar mandi untuk berwudhu, lalu mengulangi aktifitas yang memberi kenikmatan itu hingga Ajis benar-benar merasa puas karenanya.
Setelah Ajis tertidur, Zahrana bangkit dengan pelan dari tempat tidur itu, lalu ia mengendap-endap ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Malam itu ia langsung mandi wajib, karena ia merasa perutnya begitu melilit dan perih.
Setelah mandi, Zahrana duduk di sofa kamar itu menghadap kearah suaminya yang tertidur pulas di kasur. Ia tersenyum melihat wajah teduh suaminya.
"Sudah beberapa hari ini aku tidak menulis. Sebaiknya aku menulis dulu sampai mata ini mengantuk. Sudah banyak hal penting yang aku lewati selama tiga hari terakhir yang ingin aku tuangkan ke dalam buku..." Gumam Zahrana seraya bangkit menuju kearah nakas samping tempat tidurnya.
Zahrana membuka laci bofet itu dengan pelan-pelan agar tidak mengeluarkan bunyi sehingga suminya akan terganggu karenanya. Namun ia tidak menemukan buku yang biasa ia pakai.
"Yaa Allah, kalau nggak salah buku itu aku bawa pulang kampung kemarin. Tapi, perasaan tadi nggak ada deh ngeluarin bukunya dari tas... Apa ketinggalan di kamar kampung ya?" Gumamnya.
Ia terus membuka laci-laci itu hingga tidak sengaja menemukan sebotol obat.
"Ini Apa?" Tanyanya sendiri sembari memungut botol itu dan melihatnya dengan jelas.
"Astaghfirullah hal 'Azhiim..." Ucap Zahrana begitu terkejut ketika mengetahui fungsi obat dalam botol yang ia temui.
Ia melirik kearah suaminya yang tertidur lelap di samping posisinya saat itu. Tiba-tiba air matanya menetes begitu saja. Ia bergegas bangkit dan menyembunyikan pil itu ke tempat lain.
Zahrana kembali ke tempat tidur setelah memastikan rambutnya benar-benar kering. Ia mencium pipi Ajis dengan begitu lama, lalu berbaring di sebelah suaminya yang tidur menelungkup disana.
.
.
.
.
__ADS_1
.