SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
HAL YANG MEMBAHAGIAKAN


__ADS_3

Beberapa hari berlalu semenjak Zahrana sudah berhenti ke lokasi syuting. Kini ia beralih meminta ikut ke kios bersama suaminya.


Entah mengapa ia tidak ingin melewatkan waktu Sedetik pun untuk bisa bersama Ajis. Ajis selalu bertanya, apa dirinya yakin untuk ikut? Sementara kios dalam beberapa bulan terakhir sangatlah ramai pengunjungnya. Dia menggangguk manja, lalu bergelayut ke lengan Ajis, setelah suaminya itu mengizinkan dirinya untuk ikut.


Sesampai di kios, kerjaannya hanya memperhatikan suaminya yang ikut bekerja dan melayani pembeli dari kursi meja kasir. Terkadang ia diminta untuk menerima uang dan mengatur pengembalian uang yang diterimanya itu.


"Gorengaaaann..." Terdengar penjaja di depan kios bersorak menjajakan dagangannya.


Zahrana tersentak. Kakinya yang semula naik di atas kursi, segera turun untuk melihat penjaja itu.


"Abaaaang..." Sorak Zahrana begitu antusias.


"Iya, iya, adik... Adik mau gorengan, kan?" Sahut Ajis cepat seraya menghentikan pekerjaannya untuk sesaat.


"Iy-yaa..." Jawab Zahrana dengan manjanya.


"Ya sudah, Adik tunggu ya..." Ucap Ajis. "Ki tolong, ya... Seperti biasa!" Pinta Ajis beralih ke salah seorang karyawannya.


"Baik, Bang..."


Setiap hari begitu. Zahrana menikmati gorengan yang dibeli banyak oleh suaminya, namun dia hanya akan memakannya beberapa biji saja, dan sisanya Ajis bersama beberapa karyawannya itulah yang menghabiskan.


Sepulang dari kios, pada malamnya mereka akan menghitung bersama hasil yang mereka dapatkan setelah seharian berada dan bekerja di kios.


"Alhamdulillah, Dik... Dalam seminggu ini kita dapat banyak ya..." Ucap Ajis begitu senang.


"Alhamdulillah, Abang... Zahra juga senang." Sahut Zahrana bersyukur mengikuti ucapan suaminya itu.


"Tiga puluh juta-nya mau Abang gunakan buat nambah barang di kios, sepuluh juta buat dikirim ke ayah dan ibu, bagi dua. Udah lama juga kita tidak ngirimkan uang kepada orang tua kita sejak kios Abang terbakar. Tiga juta buat Hidayat, dia belum mendapatkan apa-apa selama mengantarkan Adik ke lokasi syuting, bukan? Satu juta kasih belanja Faiz dan Faiza, dan alhamdulillah ada sisa tujuh juta buat simpanan kita. Adik tinggal potong buat keperluan sehari-hari kita ya..." Papar Ajis merincikan semua uang yang telah mereka hitung bersama-sama.


"Atau, ada yang Adik inginkan, hmm?" Sambung Ajis lagi.


Zahrana terdiam sembari menatap lekat wajah suaminya itu. Dia seakan benar-benar ada kemauan di dalam hati-nya. Namun sesaat kemudian, ia hanya tersenyum.


"Zahra potong satu juta ya, Abang? Zahra ingin memberikan kado buat Shinta, tetangga kita yang tinggal di perumahan ujung sana. Ia baru saja melahirkan, Bang... Jika ada sisa, Zahra gunakan buat belanja keperluan kita sehari-hari. Enam juta lagi, bisa disimpan dulu buat keperluan tak terduga nanti." Ucapnya.

__ADS_1


"Cukup sejuta?"


"Insya Allah cukup, Abang..."


"Ya sudah... Adik simpan sisanya ya... Yang mau dikirim, kita kirim sekarang..." Ucap Ajis.


"Sekarang, Bang?" Tanya Zahrana dengan wajah berbinar penuh kesenangan.


"Iya, Adik... Masih pukul delapan, kita malam ini keluar ya? Sudah lama, bukan, kita tidak pernah jalan bersama selain hanya ke kios saja?"


Zahrana menganggukkan cepat kepalanya menanggapi ucapan Ajis.


"Sekalian makan di luar, kita pun juga bisa mampir ke Alfa Kids. Buka-nya sampai jam sepuluh malam biasanya..."


"Bener, Abang?"


"Iya, Adik..." Angguk Ajis meyakinkannya.


"Yeee... Terima kasih, Abang..."


Satu kecupan mendarat di pipi Ajis. Lalu Zahrana bangkit dari duduknya seraya bersorak kepada suaminya itu. "Zahra siap-siap dulu ya, Bang... Tungguin Zahra..."


Ajis memegangi pipinya yang terkena kecupan Zahrana tadi. Ia menggeleng-geleng sembari tersenyum melihat tingkah Zahrana yang kesenangan mendengar ajakan-nya.


Tingkahnya begitu kekanak-kanakan, namun pemikirannya begitu dewasa. Paling mengerti dengan keadaan, sehingga ia tidak ingin menjadi beban.


*****


"Ya Allah... Gem-meees... Lucu-lucu sekali peralatan bayi di sini, Abang..." Seru Zahrana ketika dirinya telah berada di dalam bangunan yang memang diperkhususkan untuk perlengkapan bayi. Ia begitu kegirangan sendiri melihat semua isi toko itu.


Ajis tersenyum menanggapi ucapan Zahrana. "Sekarang Adik tinggal pilih, kado mana yang mau Adik berikan buat bayi si Shinta itu..." Perintah Ajis begitu lembut.


Zahrana mengangguk, lalu dengan setengah berlari ke arah pakaian bayi yang berjejer rapi di hadapannya untuk memilih apa saja yang hendak dibelinya.


Pelayan di sana juga sangat ramah melayani dirinya yang begitu antusias menanyai ini itu kepada mereka dengan sangat nyinyir.

__ADS_1


Sementara Ajis hanya memerhatikan gerak-geriknya dari posisi yang sedikit berjarak.


Ya Allah... Memilihkan peralatan bayi untuk anak orang saja Adik begitu senangnya, apalagi jika memilih untuk anak kita sendiri nantinya... Semoga Allah mengabulkan doa dan harapan kita ya, Dik... Gumam Ajis di dalam hatinya.


"Abang... Maafin Zahra, ya... Saking senangnya, Zahra sampai nggak sadar milih semua ini. Habis lima ratus dua puluh, deh... Abang tidak marah, kan?" Ucapnya seolah takut-takut dan terlihat merasa tidak enak.


Ajis malah tersenyum melihat wajah merasa bersalah Zahrana. Ia menggamit pipi istrinya itu sambil menghela tawa, begitu menggemaskan menurutnya.


"Abang tidak marah, Adik... Semoga berkah, juga bermanfaat buat yang menerima. Pasti tetangga kita itu senang menerima pemberian Adik ini... Abang senang memiliki istri yang juga memikirkan solidaritas antar sesama begini." Ucap Ajis.


"Bener, Abang tidak marah?" Tanya Zahrana lagi.


"Ben-neeer..." Jawab Ajis sembari mengusap lembut kepala Zahrana. "Kapan kado ini diantar?"


"Besok saja, Abang... Sekarang sudah malam. Takut ganggu..."


"Hmm... Sekarang Adik mau kemana lagi?"


"Kirim uang sudah... Makan sudah... Beli kado juga sudah... Kemana lagi ya?" Zahrana tampak berpikir-pikir untuk menjawab pertanyaan suaminya.


"Kita pulang saja, Abang... Zahra capek..." Ucapnya dengan raut benar-benar tampak seperti sedang kelelahan.


"Yakin mau pulang? Nggak mau jalan-jalan dulu?" Goda Ajis mencoba membuatnya ragu.


"Yakin! Buat apa jalan-jalan sampai larut malam, sementara orang yang membuat Zahra bahagia saja sudah ada di samping Zahra..." Sahut Zahrana seraya merangkul lengan Ajis.


Ajis tersenyum, kemudian mengusap kepala Zahrana dengan penuh kasih sayang. Mereka mulai melangkah meninggalkan toko yang hanya khusus menjual perlengkapan bayi itu menuju kearah parkiran.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2