SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
BERDAMAI


__ADS_3

Suara tawa keakraban terdengar dari dalam rumah Zahrana. Ia yang baru saja pulang dari kebun ayahnya, terpaku ketika mendengar suara orang dari dalam itu tak asing lagi di telinganya.


"Ada tamu?" Gumamnya. Ia belum berani masuk, karena suara itu membuat ia gamang.


"Benarkah itu suaranya bu Aulia?" Tanyanya berbisik pada dirinya sendiri. Lalu ia menggeleng. "Ah, tidak mungkin... Masa bu Aulia..." Bantahnya lagi.


"Hmm, dari pada penasaran begini, mending masuk saja..."


"Bismillahirrahmanirrahiim... Assalamu'alaikum..." Ucapnya ketika menampakkan diri ke dalam rumah.


"Wa'alaikum salam..." Jawab orang-orang di dalam rumah.


Deg.


Jantung Zahrana serasa berhenti seketika, tubuhnya mendadak berasa dingin dan kaku.


"Hmm ternyata benar, Zahrana pulang?" Sosok wanita paruh baya melangkah kearahnya dengan anggun. "Suamimu tidak ikut pulang, Nak?" Tanya wanita itu menampakkan senyum ketulusan di bibirnya.


"Bu-Bu Aulia?" Panggilnya begitu terkejut mendapati ibu Aridiansyah di ruang tamu rumahnya, dan dijamu baik pula oleh kedua orang tuanya.


"Kenapa kamu begitu terkejut, Zahra? Kami sedari tadi menantikan kamu, Nak..." Imbuh Miko, ayah Aridiansyah yang juga berada di rumah itu.


"Ada apa Pak Miko dan Bu Aulia menunggu Zahra?" Tanya Zahrana terlihat gugup.


"Tidak ada apa-apa. Kami hanya ingin bertamu saja, Nak Zahra... Ayo kita duduk..." Ajak Bu Aulia begitu santun.


"Nak Zahra sakit?"


"Enggak, Bu..." Jawab Zahrana cepat.

__ADS_1


"Owh... Mungkin perasaan Ibu saja ya... Soalnya kamu kelihatan kurus dan pucat." Ucap beliau.


Zahrana hanya tersenyum, ia bingung, entah keajaiban apa yang merubah sikap orang tua Aridiansyah sampai begitu lembut. Zahrana melirik Ari yang diam di posisinya. Tampak sekali lelaki itu masih canggung dan enggan membalas tatapannya.


Bu Aulia masih menatap Zahrana dengan lekat. Berbagai pertanyaan mengganggu pikiran beliau, namun beliau usahakan bersikap santai kembali ketika melihat Zahrana tampak risih dibuatnya.


"Lusa, kami akan berangkat ke kota. Karena semalam Ari bercerita bahwa kamu ada di rumah, jadi kami memutuskan untuk cepat mampir kesini, biar kita bisa bertemu." Ujar bu Aulia memulai pembicaraan.


Ya, semalam Ari sudah menceritakan kepada kedua orang tuanya tentang kepulangan Zahrana, dan juga pertemuan mereka di tepi pantai yang sama sekali tidak mengenakkan.


Orang tua Ari mencoba membuat Ari mengerti, jika memang alasan Zahrana begitu kuat untuk hal itu. Dan karena nasihat orang tuanya-lah hatinya menjadi lunak. Ia menjadi semakin percaya akan ketulusan orang tuanya terhadap siapapun, tanpa membeda-bedakan bibit, bebet dan bobot seseorang seperti yang ia pikir pada waktu-waktu sebelumnya.


"Owh... Hemm... Iya, Bu, Pak... Kebetulan suami Zahra pergi belanja keluar kota, makanya Zahra pulang bareng Hidayat yang memang berniat akan pulang kemarinnya." Sahut Zahrana sembari tersenyum menyikapi situasi pada saat itu. Ia benar-benar bingung harus menyahuti apa. Sungguh, ia tidak mengerti maksud kedatangan Ari dan orang tuanya kesana.


"Aku ingin minta maaf, Zahra..." Ucap Ari kemudian.


"Eh?" Zahrana malah melirik bingung kearah Ari.


"Iya, Bu, tidak apa-apa... Zahra malah senang karenanya." Sahut Zahrana.


"Terima kasih, nak Zahra... Semoga Nak Zahra memaafkan sikap ibu waktu kedatangan terakhir kali. Ibu sadar, ibu benar-benar keterlaluan kala itu."


"Tidak, Bu... Harusnya Zahra yang minta maaf." Bantah Zahrana.


"Yang berlalu, biarlah berlalu. Sudahi dendam dan kemarahan. Yang pasti, kami seisi rumah ini sudah melupakannya, Bu Aulia, Pak Miko. Sungguh, kali ini saya pribadi sangat senang akan kedatangan Bapak, Ibu dan Ari ke rumah ini." Imbuh Umayyah menengahi kata saling maaf yang tak berkesudahan di antara mereka.


Memang masa lalu yang pelik membuat mereka begitu canggung satu sama lain, namun kerendahan hati dan sikap tawadhu' membuat mereka kembali berlapang dada.


Mereka berbincang-bincang dengan penuh kehangatan siang itu. Zahrana juga sekalian menyampaikan bahwa sore nanti ia ditemani Hidayat akan berkunjung dan menginap di rumah mertuanya, dan berkemungkinan akan langsung kembali ke rumahnya yang bersama Ajis pada esok harinya dari rumah mertuanya itu.

__ADS_1


"Wah, sayang sekali ya... Jadi, Nak Zahra nggak main dulu ke rumah." Ucap Bu Aulia berbasa-basi.


"Tidak usah, Bu... Zahra nggak enak sama mertua Zahra, jika pulang kampung, tapi malah tidak mampir kesana." Jawab Zahrana menolak.


"Hmm, begitu..."


"Iya, Bu... Zahra senang sekali Ibu, Bapak serta Ari sudah maafin Zahra. Zahra jadi lebih tenang sekarang. Semoga Ari bisa mendapatkan kebahagiaan berlipat ganda nantinya." Ucap Zahrana.


"Aamiin... Semoga ya, Zahra. Aku sudah ridha dengan novel yang kamu tulis, dan aku akan menunggu film-nya tayang. Kami... Aku, Ayah dan Ibu, akan nonton bareng. Insyaa Allah..." Tutur Ari tampak benar-benar tulus dengan ucapannya.


Kedua orang tua Ari mengangguk dan tersenyum sembari merangkul bahu putra semata wayangnya itu.


Setelah kepulangan Ari beserta orang tuanya, Zahrana bergegas menyiapkan diri hendak ke rumah mertanya di desa sebelah. Karena pada hari itu Ajis juga pulang ke rumah mereka, sehingga Zahrana dapat bermalam di rumah mertuanya dan akan melanjutkan perjalanan mereka esok paginya ke kota tempat ia dan suaminya berdomisili.


Zahrana bergegas mengemasi barang-barangnya yang tidak seberapa, namun ia sampai melupakan sebuah buku yang selalu ia gunakan untuk menulis pada akhir-akhir itu di sofa ruang tamu rumahnya. Sementara dirinya telah berlalu ke luar rumah untuk menemui ibunya yang sedang mengajak dua anak kakaknya bermain.


Hidayat yang baru saja keluar dari kamarnya, tidak sengaja melihat buku itu.


"Kak Zah..." Ia yang tadinya hendak bersorak, malah mengurungkan niatnya.


"Ini, kan buku yang kak Zahra gunakan buat nulis novel terbarunya... Hmmm selagi Kak Zahra nggak ngeh, aku diamin aja dulu deh. Pengen jadi pembaca yang pertama dari novelnya kak Zahra." Gumamnya sembari menyeringai senang. Ia malah menyimpan buku milik kakaknya itu ke dalam ranselnya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2