SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
PULANG KAMPUNG


__ADS_3

Lusa dari perjanjian Hidayat dan Arya untuk datang ke kampungnya. Hidayat tidak berniat memungkiri, ia merasa berkewajiban memberitahukan semuanya kepada Arya tentang Zahrana. Setidaknya membuat lelaki terkenal itu mengerti cinta yang sebenarnya.


Ditambah lagi kakaknya benar-benar merasa bersalah telah dengan tidak sengaja memberi celah kepada Arya untuk merasakan benih cinta terhadap kakaknya itu. Dan ia merasa harus membereskan itu semua.


"Assalamu'alaikum,Bang... Kita berangkat sore nanti gimana? Abang masih berharap untuk pergi?" Tulis Hidayat pada applikasi chat di ponselnya untuk Arya Irawan.


"Wa'alaikum salam... Tentu, Yat... Keinginan Abang semakin besar malah. Abang sudah tidak sabaran mengetahui bagaimana indahnya kehidupan kalian disana..." Pesan Hidayat berbalas cepat oleh Arya.


"Apa Hidayat boleh membawa dua orang penumpang?" Tulisnya lagi.


"Siapa, Yat?"


"Keluarga, Bang... Nanti Hidayat kenalkan mereka kepada Abang..."


"Baiklah... Abang jemput dimana kamu, Yat?"


"Di rumah kak Zahra, Bang... Abang bisa, Kan?"


Di lain sisi, Arya tercenung. Perasaan bersalahnya pasti akan membuat ia canggung nantinya. Apalagi Ajis sepertinya telah mengetahui segalanya. Ia tampak berpikir-pikir sebelum membalas kembali.


"Tidak mengapa kah Abang kesana?" Tulisnya dalam keraguan.


"Tidak apa-apa kok, Bang... Abang tunggu di depan pagar saja. Nanti Hidayat akan menyusul..."


"Hmmm baiklah... Sampai ketemu nanti..."


Hari itu masih hari kedua semenjak Zahrana pergi untuk selamanya. Keluarga Umayyah memutuskan pada hari itu juga untuk pulang ke kampung, karena mereka berniat akan mengadakan takziah pula di kediaman mereka.


Sementara ibunya Ajis masih ingin menemani putranya yang tampak rapuh saat itu. Ia masih enggan membiarkan Ajis seorang diri disana. Apalagi dua malam ini masih akan ada acara ta'ziah di rumah Ajis yang akan dihadiri oleh tetangga dekat-dekat rumah.


Selepas Ashar, hanya tinggal Hidayat dan Ajis beserta keluarga Ajis yang masih berada di rumah mini malis itu.


"Ajis, sore ini ayah berangkat ya..." Ucap Ayahnya pelan.


"Umm..." Sahut Ajis masih lemah.


"Ibumu akan tetap menemanimu disini untuk beberapa hari. Ayah harap, kamu lambat laun bisa memulai hidupmu layaknya pada waktu sebelum-sebelumnya, Nak... Ikhlaskan nak Zahra, agar ia bisa tenang disana. Ayah yakin, Allah sangat mencintai istrimu, sehingga Dia mengambilnya lebih cepat dari kita." Tutur ayahnya lagi dengan lembut.

__ADS_1


Ajis bergeming. Ia tidak menyahuti ucapan ayahnya. Hanya Air matanya yang tampak kembali menetes menandakan ia belum kuasa dengan suasana saat itu.


"Ayah pulang dengan apa?" Ajis mulai bertanya setelah menyeka paksa air matanya.


"Bersama adik iparmu. Dia bilang akan ada temannya yang mengantar. Jadi, lebih baik Ayah dan Maira bersamanya. Biar tidak terlalu sesak. Kasihan kedua mertuamu. Mereka juga cukup terpukul saat ini."


Ajis hanya mengangguk.


"Mobilnya sudah datang, Yah... Kita berangkat sekarang ya, Yah..." Ucap Hidayat setelah menyimpan ponselnya yang sedari tadi ia genggam.


"Baiklah, Yat..." Jawab ayah Ajis. "Ayo, Maira..."


Maira mengangguk. Ia melirik kakaknya begitu lama. Perasaannya masih belum tenang saat itu.


"Maira ikut juga?" Tanya Ajis membalas tatapan adiknya.


"Iya, Kak... Bantuin ayah siapin makanan sama beberes rumah. Ayah kan ada kerjaan..." Lirih Maira.


Maira meraih tangan kakaknya lalu menciumi tangan kakaknya itu dengan lama. Ajis membalasnya dengan mengusap lembut kepala Maira.


"Hati-hati ya, Dek..." Ucap Ajis.


"Siap, Bang... Abang juga jaga diri. Yang kuat, dan yang sabar..."


Ajis hanya menyahuti dengan senyuman kecut di bibirnya. Ia sangat tahu betapa remuknya hati Hidayat saat itu, namun entah kenapa pemuda itu sungguh terlalu kuat.


"Abang antar ke depan, ya?" Tawar Ajis.


"Tidak, Nak... Biar Ibu saja yang mengantarkan ayah dan adik-adikmu ke depan." Cegat Ibunya cepat.


Hidayat hanya menatap Ajis dengan raut yang sulit diterka.


*****


Hidayat menemani Arya yang duduk di depan mengemudikan mobil. Tidak banyak bicara di antara mereka berempat, dan hal itu membuat Arya semakin merasa canggung dibuatnya.


"Emmm... Maaf, Pak... Bapak ini Ayahnya Hidayat?" Tanya Arya memulai pembicaraan. Ia sedikit menoleh kearah kaca spion di bagian depan untuk melihat ayah Ajis.

__ADS_1


Hidayat tersentak. Perasaan duka yang ia simpan membuat ia banyak melamun, sehingga ia lupa untuk memperkenalkan Arya kepada ayah mertua dan adik ipar dari mendiang kakaknya itu.


"Emmm..."


"Ayah ini adalah ayah mertua kak Zahra, Bang... Dan di sebelah ayah, adik ipar kak Zahra..." Jawab Hidayat cepat. Ia tahu ayah Ajis tampak bingung untuk menjelasakannya kepada Arya.


"Owh..." Arya mangut-mangut. "Ada acara apa ayah sama... Emm..."


"Maira namanya, Bang..." Ucap Hidayat menyahuti.


"Owh, Maira... Ada acara apa Ayah sama Maira ke rumah Ajis dan Zahra?" Tanya Arya berusaha beramah-tamah.


"Nanti saja Hidayat cerita ya, Bang..." Kilah Hidayat. "Maaf ya, Yah... Abang ini teman kak Zahra, artis terkenal yang sudah mengangkat nama kak Zahra setinggi-tingginya. Supaya tidak terlalu tegang, biar sampai di rumah saja Hidayat cerita kepada bang Arya..." Tutur Hidayat.


Arya bingung. Ia mulai melepas masker yang menutup sebagian wajahnya dari tadi. Tampaknya Hidayat juga tidak mempermasalahkan itu.


"Iya, Yat... Ayah mengerti maksud kamu bagaimana..." Jawab Ayah Ajis seperti tidak mempermasalahkannya.


"Maira... Kalau kamu ngantuk, tidur saja... Tempat duduknya nyaman, kok... Abang tahu kamu tidak tidur dari semalam." Perintah Hidayat kepada Maira yang sedari tadi hanya menoleh ke samping kaca mobil, meski ia tidak pula menikmati pemandangan jalan.


Hidayat tahu betul mood Maira belum membaik saat itu.


Maira menoleh sesaat. "Iya, Bang... Terima kasih sudah peduli kepada Maira..."


Deg.


Jantung Hidayat berdetak. Ia mengerti maksud Maira tidak terlalu dibawa ke perasaannya, tapi hatinya takut jika itu adalah kebenarannya. Ia takut Maira akan mendapatkan harapan sia-sia darinya.


Hidayat membalikkan posisinya untuk lurus ke depan. Suasana perjalanan kembali canggung. Arya juga sudah mengerti keadaan saat itu. Meski dalam benaknya banyak pertanyaan yang mengganjal, namun ia harus bisa memahami maksud kebungkaman Hidayat.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2