
"Abang, hayuuuk..." Rengek Zahrana begitu manja.
"Tapi, Adik..." tampak keraguan di wajah Ajis.
Hari itu, Zahrana mengajak suaminya untuk mengunjungi kios terbakar yang sebelumnya ditempati Ajis, dan kini telah berubah menjadi ruko kecil setelah beberapa bulan pengerjaan pembangunan kembali oleh sang pemilik tanah.
Pemiliknya sudah menghubungi Ajis beberapa hari yang lalu untuk menanyakan perihal dirinya bersedia menempati ruko itu kembali atau tidak. Kebetulan, Zahrana yang mendengar percakapan suaminya itu dengan pemilik kios lewat telepon, langsung bersikeras meminta Ajis untuk menyetujuinya.
Sebenarnya Ajis sangat keberatan. Biaya kontrakan ruko itu per tahunnya lumayan besar baginya. Belum lagi untuk modal pembelian barang pula nantinya.
"Harusnya Adik tidak perlu menggunakan uang Adik untuk modal usaha Abang. Adik sudah banyak mengeluarkan uang loh selama ini untuk keperluan kita, bahkan untuk keluarga Abang juga..." Ucap Ajis terlihat tak enak hati akan pengorbanan Zahrana.
Zahrana meraih kedua tangan suaminya itu, lalu menatap dalam mata suaminya dengan sejuta perasaan. "Abang... Ini untuk masa depan kita..." Ucapnya berusaha membujuk dan meyakinkan Ajis.
"Tapi, Adik..."
"Cobalah untuk mengerti, Abang... Seperti halnya Abang mempercayai Zahra, Zahra juga begitu sangat mempercayai, Abang... Yang Insyaallah, suami dunia dan akhiratnya Zahrana Habibah Marwan..." Tutur Zahrana begitu yakin akan harapannya.
Ajis tersenyum mendengar ucapan Zahrana. Dia menarik tubuh Zahrana ke dalam dekapannya. "Terima kasih, Adik... Abang janji, Abang tidak akan pernah mengecewakam Adik..." Ucapnya.
"Sekarang kita ke sana ya... Tidak ada lagi penolakan..." Tegas Zahrana
Ajis pun mengangguk.
"Senyum..." pinta Zahrana manja, sembari ia menarik kedua pipi suaminya itu.
Tidak hanya tersenyum, Ajis bahkan sampai tergelak karena perlakuan Zahrana yang ceria dan periang. Istrinya itu memang pintar membuatnya sering tersipu, bahkan mukanya yang berwarna sao matang itu pun memerah dibuatnya.
"Bismillah..." Ucap mereka sembari berdoa di dalam hati masing-masing.
Setelah mengendarai beberapa menit sepeda motornya, Ajis dan Zahrana sampai di lokasi. Sepasang mata Ajis menatap takjub ke bangunan baru yang ada di hadapannya itu. Sekilas, bangunan kiosnya yang padat dan ramai dulu, kembali menari di pelupuk matanya. Matanya berkaca-kaca mengingat hal itu.
Zahrana yang mengerti bagaimana perasaan suaminya, segera ia mengusap lembut bahu Ajis. "Abang... Yang berlalu, biarlah berlalu..." Ucapnya menenangkan hati suaminya itu.
"Iya, Adik... Abang hanya terkenang saja..." Sahut Ajis sembari mengedipkan matanya berulang kali, agar air matanya yang menggenang itu tidak jadi keluar.
"Kalau gitu, ayo kita masuk abang... Wak Haji Syahril pasti sudah menunggu kita di dalam..." Ajak Zahrana tak sabaran.
__ADS_1
Ajis mengangguk seraya mengikuti langkah istrinya yang menarik lengannya dengan kuat ke dalam ruko itu.
"Assalamu'alaikum..." Ucap mereka hampir bersamaan.
"Wa'alaikumussalam..." Sahut seorang lelaki paruh baya dari dalam ruko. "Ajis... Bagaimana kabarmu?" Tanya beliau sembari mendekat dan menjabat tangan Ajis.
"Alhamdulillah, Wak Haji... Saya baik. Wak Haji sendiri bagaimana, Wak?" Sahut Ajis sembari balik menanyakan kabar sang pemilik ruko.
"Alhamdulillah, Jis, saya juga baik... Mari masuk..." Ucap beliau mempersilahkan Ajis memasuki ruko itu.
Ajis dengan menggandeng tangan Zahrana, segera masuk mengikuti langkah Wak Haji Syahril.
"Ini istrimu itu ya, Jis?" Tanya beliau.
"Benar, Wak... Ini Dik Zahra, istri saya." Angguk Ajis memperkenalkan istrinya kepada lelaki paruh baya di hadapannya itu.
"Zahrana, Wak..." Ucap Zahrana memperkenalkan diri sembari mengatupkan kedua telapak tangannya.
Wak Haji Syahril mengangguk dan sedikit tersenyum menyambut perkenalan Zahrana.
"Alhamdulillah, Wak... Saya memang beruntung, dan saya pikir, tidak ada lelaki yang seberuntung saya di dunia ini..." Ujar Ajis seraya tersenyum memandangi wajah istrinya yang ceria.
Wak haji Syahril mangut-mangut mendengar pengakuan suami Zahrana. Beliau begitu terharu melihat pasangan di hadapannya saat itu.
"Jadi, kapan kamu akan mulai menunggu ruko ini, Jis?" Tanya Wak Haji.
Ajis terdiam.
"Secepatnya, Wak... Kalau bisa, besok pagi..." Ucap Zahrana yang menyahuti. Dia tahu, suaminya itu masih merasa sungkan untuk memutuskan.
"Adik!" Seru Ajis tampak terkejut mendengar jawaban Zahrana.
"Abang..." Tangkas Zahrana seperti tak mau kalah.
"Tapi itu terlalu cepat loh, Adik..."
"Lalu kapan lagi, Abang? Kita kan sudah saling sepakat antara dua belah pihak, betul kan, Wak?" Ucap Zahrana mengarah pada Wak Haji Syahril minta dukungan.
__ADS_1
"Betul sekali, Nak Zahra... Lagian, apa lagi yang kamu tunggu, Jis?" Wak Haji membenarkan ucapan Zahrana.
"Bukan begitu, Wak... Saya bahkan belum belanja, dan saya juga belum pamit kepada juragan saya tempat saya bekerja semenjak kios ini terbakar, Wak... Saya merasa tidak enak kepada beliau..." Tutur Ajis.
Wak Haji mangut-mangut mendengar penjelasan Ajis, mungkin dia dapat mengerti akan hal itu.
"Itu semua bisa diatur, Abang... Hari ini pun juga bisa Abang menemui juragan Abang. Lusa, Zahra sudah harus ke lokasi syuting." Ujar Zahrana. Kali itu, Wak Haji Syahril menoleh kepada Zahrana.
"Nak Zahra bakal main film?" Tanya beliau.
"Tidak, Wak... Cuma menulis skenario, sekaligus melihat jalan ceritanya saja..." Jawab Zahrana.
"Owh begitu..." Bibir Wak Haji Syahril membulat menanggapi penuturan Zahrana. "Itu sih keputusan kalian suami istri, sementara kesepakatan di antara kita sudah clear. Saya berharap kerja sama ini akan tetap terjaga dengan baik, dan apa pun barang yang kalian jual di sini, laris manis hendaknya..."
"Aamiin..." Sambut Ajis dan Zahrana serentak.
Setelah menyelesaikan urusan mereka, Wak Haji Syahril meninggalkan kunci ruko kepada Ajis, lalu pergi terlebih dahulu dari sana dan membiarkan sepasang suami istri itu lebih leluasa melihat-lihat dan saling beradu argument.
"Alhamdulillah... Akhirnya..." Ucap Zahrana dengan senyum merekah, mengembang di bibir tipisnya.
"Adik senang?" Tanya Ajis seraya melingkarkan lengannya di perut Zahrana.
Zahrana mengangguk. "Semoga setelah ini semua kembali membaik ya, Abang... Setelah syuting selesai, Zahra ingin fokus sama Abang aja. Zahra mau berhenti nulis dulu lah, dan Zahra mau ikut program yang sesuai dengan rencana kita semula." Ujarnya.
Ajis mengecup pucuk kepala Zahrana yang pada saat itu tepat di bawah dagunya. Dia begitu bahagia melihat senang penuh ketulusan di wajah istrinya itu.
Tuhan... Jangan cemburu kepada istriku... Sungguh, aku mencintainya karenamu...
.
.
.
.
.
__ADS_1