SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
MENGUNJUNGI SHINTA


__ADS_3

Kebiasaan Zahrana menampakkan senyuman ramah kepada para tetangga yang ia temui setiap kalinya. Pukul sembilanan pagi saat itu, ia berjalan menelusuri rumah demi rumah menuju rumah Shinta. Di tangannya, ia telah menjinjing sebuah kantong yang di dalamnya berisikan kado yang ia beli bersama Ajis semalam.


"Kemana saja, Neng? Akhir-akhir ini jarang terlihat, bukannya syuting film novelnya Neng sudah selesai ya?" Tanya salah seorang ibu-ibu yang ditemuinya pagi itu.


"Eh, Bu Indah... Iya, Bu... Akhir-akhir ini Zahra ikut Suami pergi ke kios... Bosan di rumah terus. Berangkatnya pagi, pulangnya sore hari. Bahkan ada pula sampai malam." Jawabnya begitu ramah dan tampak akrab.


"Oh begitu... Pantas saja Neng jarang terlihat, ya... Sekarang Neng mau ke mana nih?" Jiwa kepo ibu-ibu itu mulai tergugah ketika menatap jinjingan di tangan Zahrana.


"Ini Bu, Zahra mau ke rumah Shinta. Waktu Shinta lahiran, Zahra belum sempat melihatnya dan bayinya." Jawab Zahrana polos.


"Oh..." Mulut Bu Indah membulat menyahuti penjelasan Zahrana.


"Iya, Bu... Kalau begitu, Zahra duluan ya, Bu..." Pamitnya.


"Iya, Neng..."


^^^^^


Zahrana telah sampai di rumah Shinta. Ibu muda yang baru melahirkan itu terlihat senang mendapat kunjungan darinya.


"Terima kasih sekali, Kak Zahra... Kak Zahra sampai repot nyempatin untuk datang... Terima kasih juga kadonya, Kak Zahra... Semoga Kak Zahra secepatnya bisa nyusul Shinta jadi ibu, ya..." Ucap Shinta berdoa dengan tulus.


"Aamiin, Yaa Mujiib... Semoga saja ya, Shin... Terima kasih atas do'a kamu..." Ucap Zahrana mengaminkan.


Zahrana tersenyum, di dalam hatinya, ia dengan sangat mengaminkan ucapan Shinta tentang dirinya. Dia juga sudah lama mendambakan kehadiran anak dalam pernikahannya bersama Ajis.


"Dek, banguun... Aunty Zahra datang, Nih..." Panggil Shinta kepada bayi perempuan yang tertidur nyenyak di sampingnya.

__ADS_1


"Cantiknya..." Ucap Zahrana menggoda bayi mungil itu. Sang bayi menggeliat ketika mendengar suara Zahrana yang memanggilnya.


"Terima kasih, Aunty Zahra..." Jawab Shinta seolah mewakili bayinya itu.


"Boleh gendong?" Tanya Zahrana berharap.


"Tentu dong, Aunty... Dedek dari kemaren sudah nungguin kedatangan Aunty loh..." Sahut Shinta lagi. Ia memberi izin kepada Zahrana untuk menggendong bayinya itu.


"Bismillah..." Desir Zahrana seraya mengangkat dengan pelan tubuh bayi berbedung itu ke dalam dekapannya. Zahrana tak kuasa menahan perasaannya, matanya berlinangan air hangat ketika merasakan sentuhan bayi itu.


Yaa Allah... Zahra ingin punya bayi juga... Teriaknya di dalam hati. Ia mengecup lembut kening bayinya Shinta.


"Emmm... Cantiknya..." Ucapnya sekali lagi dengan nada gemas. "Semoga kelak jadi anak yang Shalehah ya, Nak... Anak yang pintar, berbakti kepada kedua orang tua, dan selalu berada dalam lindungan Allah..." Ucap Zahrana lagi seraya mendekapkan tubuh bayi itu ke dalam dadanya dengan hati-hati.


"Aamiin..." Sambut Shinta mengaminkan ucapan Zahrana.


Hati Zahrana semakin terasa tak karuan


Setelah cukup lama berada di rumah Shinta, dengan berat hati ia meninggalkan si bayi. Zahrana pamit pulang.


Di luar, ia mulai melepaskan kembali air mata yang sedari tadi susah payah ia tahankan. Melihat bayi mungil itu, harapannya untuk segera memiliki anak menjadi semakin besar.


*****


Sesuai janji Ajis pagi tadi, ia pulang untuk makan siang sekaligus menjemput Zahrana. Jika bukan untuk melaksanakan niatnya menjenguk Shinta, Zahrana tidak ingin tinggal di rumah. Akhir-akhir itu sudah menjadi kebiasaannya berada di kios bersama suaminya itu.


Setiap pagi, Zahrana akan sibuk berkutat di dapur untuk menyiapkan bekal makanan yang akan dibawanya ke kios. Selain mereka berdua, para karyawan di kiosnya juga dapat berhemat dengan memakan masakannya itu.

__ADS_1


"Adik, kok mata Adik sembab begitu? Adik habis nangis ya?" Tanya Ajis ketika melihat mata Zahrana masih memerah.


"Zahra cuma terharu saja, Bang... Bayinya Shinta cantik sekali..." Jawabnya dengan manja.


Ajis terdiam. Tampak rasa bersalah tergurat di wajahnya. "Adik pasti sedih ya? Maafin Abang ya, Abang belum juga memikirkan waktu untuk kita periksa ke dokter kandungan..." Ujar Ajis.


"Nggak apa-apa kok, Bang... Abang nggak usah minta maaf begitu. Jika sudah rezeki kita, insya Allah, lambat laun Allah pasti akan memberikan kita keturunan..." Ucap Zahrana yang mengerti perasaan bersalah suaminya itu. Ia mendekati Ajis, lalu berdiri di belakangnya. Ia memijat pelan pundak Ajis untuk menenangkan hati suaminya itu.


"Terima kasih ya, Dik..." Ucap Ajis seraya meraih tangan Zahrana yang masih bertengger di pundaknya. "Jika seandainya kita susah mendapatkan keturunan karena kesalahan pada diri Abang, apa Adik akan marah?" Ajis bertanya dengan was-was.


"Kenapa Zahra harus marah, Abang? Jelas itu sudah kuasa Allah..." Ucap Zahrana begitu tulus.


"Tapi Adik sangat menginginkannya, bukan?"


"Iya... Zahra memang menginginkannya. Tapi tidak dengan ambisi besar yang harus menyalahkan taqdir dari Allah, Abang..." Tutur Zahrana dengan begitu yakin. "Tapi, jika itu terletak pada kesalahan dalam diri Zahra, apa Abang bakalan kecewa?"


Pertanyaan Ajis berbalik kepadanya. Ajis menarik lengan Zahrana sehingga tubuh istrinya itu terduduk di pangkuannya.


"Abang tidak mengapa hidup hanya berdua dengan Adik seumur hidup Abang, karena kebahagiaan Abang sudah ada pada diri Adik. Makanya Abang tanya kepada Adik soal itu, karena Abang takut Adik akan kecewa dan pergi meninggalkan Abang jika kenyataannya begitu..." Jawab Ajis panjang lebar membuat hati Zahrana hangat dan terharu karenanya.


"Zahra juga... Zahra tidak akan marah, apalagi sampai berpikiran yang macam-macam. Abang jangan ngomong seperti itu lagi." Ucap Zahrana seraya mengalungkan lengannya ke leher Ajis.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2