
"Bagaimana hasilnya, Kak Zahra? Semuanya baik, kan?" Hidayat dengan cepat bangkit ketika melihat Zahrana keluar dari ruangan tempat kakaknya itu diperiksa.
Zahrana menampilkan wajah murung dan sendu.
"Kak? Ada apa?" Rasa cemas membuat suara adiknya itu melunak menanyai kembali keadaannya.
"Kakak baik-baik saja, hahaha... Wajah kamu sampai tegang begitu, kamu cemaskan kakak ya?" Goda Zahrana sembari mencolek pinggang Hidayat.
"Nggak lucu, Kak..." Sungut Hidayat seraya membalikkan badannya lalu melangkah meninggalkan Zahrana.
"Hey, Yat... Gitu aja kok ngambek?" Panggil Zahrana.
Hidayat tak menyahut, ia terus berjalan bahkan sampai mempercepat langkahnya keluar dari rumah sakit itu menuju parkiran. Ia sama sekali tidak menoleh.
"Yaa Allah..." Zahrana merintih, tangannya yang satu meremas perutnya, sedangkan yang satu lagi bertumpu ke dinding rumah sakit. Air mata kepedihan bercucuran deras di pipinya setelah ia memastikan adik bungsunya itu sudah tidak lagi terlihat dari sana.
"Kamu bahkan sampai marah karena taunya Kakak membual saja, Dek... Bagaimana jika kamu tahu yang sebenarnya?" Gumam Zahrana.
Ia duduk sebentar di kursi tunggu yang berjejer di depan ruangan rumah sakit itu, lalu mengusap-usap wajahnya yang basah karena air matanya sendiri.
Zahrana kembali bangkit untuk menemui Hidayat yang sudah terlebih dahulu keluar. Dia berusaha kuat untuk mempercepat langkah kakinya.
"Dek!" Seru Zahrana ketika telah mendapati sosok adiknya itu duduk di jok motor yang membawa mereka ke sana.
"Kamu beneran marah, ini?" Goda Zahrana sembari mencubit kecil lengan Hidayat.
"Maaf..." Ucap Zahrana mulai memelas setelah banyak menggoda adiknya itu, namun sama sekali tak mendapat tanggapan sedari tadi.
"Apa kata dokter?" Hidayat akhirnya menyerah. Ia tak ingin sampai melihat kakaknya itu menangis karena ambekannya.
__ADS_1
"Nggak ada apa-apa... Kata dokter, kakak sehat-sehat saja, kok..." Jawab Zahrana berlagak takut-takut menatap mata adiknya itu.
"Bener?"
"Iya..." Angguk Zahrana.
"Terus, kapan Kak Zahra bakal kasih Hidayat ponakan seperti Kak Rianur?" Tanya Hidayat masih terlihat bersungut.
"Heh?" Zahrana mendongak, Ia tak menyangka akan ditagih hal begituan oleh adiknya itu.
"Katanya, Kak Zahra tadi mau konsultasi? Terus, dokter bilang apa? Hidayat nggak disangka suami Kakak, kan?"
"Hehehe... Memangnya kenapa jika kamu disangka suami Kakak, hmm?" Goda Zahrana seraya menyenggol lengan Hidayat dengan sikutnya.
"Kartu Hidayat jadi mati, Kak... Nanti gadis-gadis tidak mau mendekati hidayat, karena mereka tahunya Hidayat sudah beristri... Kak Zahra nggak lihat, apa? Perawat di rumah sakit ini cantik-cantik tahu, tapi mereka bahkan sama sekali tidak menoleh kepada adik Kak Zahra yang tampan ini..." Sungut Hidayat.
"Huuuu... Sejak kapan adik Kak Zahra yang ini mikirin cewek-cewek cantik, hah?" Sorak Zahrana mengejek.
"Kak Zahraaa." Rungut Hidayat ketika mampu mendengar gumaman Zahrana.
"Kenapa? Beneran, kan, dugaan Kak Zahra?" Goda Zahrana denga berani.
"Sudah ah, Kak..." Sungut Hidayat seraya menyalakan mesin motornya.
Zahrana menyemburkan tawanya, lalu bersiap menaiki motor itu.
"Dek..." Panggil Zahrana dari bahu Hidayat. Dagunya yang runcing bertengger di sana.
"Hem?" Sahut Hidayat masih berlagak kesal.
__ADS_1
"Kalau kamu cinta, perjuangkan... Kamu sudah cukup dewasa untuk hal itu. Tapi, jangan seperti Kak Zahra dulu ya..." Tutur Zahrana lirih. Rasa sakit di dalam hatinya kembali bermunculan ketika ia mengenang kekeliruannya di masa lalu bersama Ari.
"Apaan sih, Kak... Tadi saja ketika diajak pulang bareng sama Kiran, Kak Zahra malah menolak..." Ketus Hidayat.
"Nggak mungkin, kan, Kak Zahra harus bawa Kirana ikut ke rumah sakit? Yang ada, dia malah bosan nantinya..."
"Hidayat maunya sama perempuan berhijab, Kak..." Cetus Adik Zahrana seolah mengungkapkan kekecewaan di dalam hatinya. Karena pada kenyataannya, Kirana bukanlah perempuan berhijab yang ia mau, meski hatinya sudah kepincut pada gadis itu.
"Kirana itu Muslim... Suatu hari nanti, dia pasti mau berhijab." Tukas Zahrana terdengar membujuk.
"Mendengar jawabannya tadi, sepertinya akan sulit, Kak..." Ungkap Hidayat terdengar jelas kecewa, dan Zahrana mengerti akan hal itu. Zahrana sendiri sebagai kakak yang perhatian terhadap adik-adiknya, benar-benar bisa menangkap bagaimana perasaan adiknya itu kepada Kirana. Dilema, antara rasa dengan harga diri.
"Perempuan itu sifatnya seperti tulang rusuk yang bengkok. Apabila kamu paksa untuk meluruskannya, maka ia akan patah. Tapi, apabila kamu biarkan saja, maka dia akan tetap bengkok. Kamu tahu hal itu, Kan?"
"Iya, Hidayat tahu, Kak..." Angguk Hidayat.
"Kirana, sosok yang lunak dan mudah memahami. Hanya saja, kita dan orang-orang di sekelilingnya-lah yang sulit memahami dirinya. Mungkin, dia punya alasan lain untuk tetap bertahan dalam kekeliruannya saat ini, Dek... Jika Kak Zahra perhatikan, Kirana rajin shalat... Dia bahkan menyempatkan diri untuk mengerjakan shalat dhuha kalau syutingnya belum dimulai loh... Kak Zahra sering keduluan sama dia..." Tutur Zahrana mencoba membuat adiknya itu mengerti, namun di lain sisi, ia juga seolah sedang mengungkapkan rasa kekagumannya terhadap pemeran Habibah di film yang diangkat dari novelnya itu.
Hidayat tak lagi menyahut, wajahnya menyiratkan seolah ia membenarkan ucapan Zahrana. Meski mereka bercakap tanpa saling tatap, tapi Hidayat bisa merasakan support dari kakaknya itu. Tekadnya seakan bangkit untuk berjuang, seperti yang diusulkan kakaknya tadi.
"Sekarang kita kemana, Kak?" Tanya Hidayat setelah cukup lama mereka terdiam.
"Pulang saja, Dek... Kakak capek banget..." Sahut Zahrana.
.
.
.
__ADS_1
.
.