
Ajis berusaha mengurai tangisnya. Ia menghirup napas dalam-dalam lalu membuangnya pelan-pelan. Ia lakukan itu berulang-ulang kali. Ia menghenyakkan punggungnya ke sandaran tempat tidur dengan kaki berselonjor bebas .
Ia mulai menatap fokus ke layar ponsel Zahrana. Ia tahu betul kata sandi istrinya itu, 'ABANGZARA'. Dia awalnya tersenyum hanya untuk satu kata itu. Ya, karena ia meresapi bagaimana istrinya selalu memainkan ucapannya hanya untuk memanggil dirinya.
Ternyata foto walpaper ponsel Zahrana telah berubah dari yang dia ketahui sebelumnya. Melihat walpaper itu, Ajis teringat kembali akan permintaan terakhir Zahrana. Pantai. Di layar ponsel Zahrana tampak foto dirinya dengan malu-malu melirik kearah lain ketika berjalan mengejar posisi istrinya itu. Dan dia ingat betul pada saat itulah Zahrana mengambil gambar dirinya.
"Maa Syaa Allah... Suami Zahra benar-benar tampan..." Sorak Zahrana dalam memorinya saat itu yang kembali pada masa mereka bersama di tepi pantai. Wajah dirinya begitu berseri dengan pakaian kemeja putih bergaris-garis vertikal lengan panjang. Rambutnya yang lebat dan dibelah tengah, serta senyum malu yang membuat Zahrana begitu gemas ingin terus memeluk dirinya waktu itu.
Air mata Ajis bergulir lagi, lalu ia mencoba hal yang sama agar hatinya kuat kembali. Ia mulai melihat yang lainnya dalam ponsel itu. Ada puluhan panggilan tidak terjawab. Ia membuka menu panggilan. Ada dua belas panggilan tak terjawab dari nomornya, lima belas panggilan tak terjawab dari Hidayat bersamaan setelah darinya. Dan juga ada tiga panggilan tak terjawab dari Arya Irawan pada malam Zahrana dibawa ke rumah sakit.
Ajis melihat beberapa pesan yang belum terbaca pada aplikasi WhatsApp. Tujuh pesan dari Arya, ia segera membukanya. Tidak ada pesan lain di sana, mungkin Zahrana sengaja menghapusnya.
"Sekarang aku mengerti, Zahra... Maaf telah egois dengan memaksakan perasaanku ke kamu. Tolong maafin aku, Zahra... Hidayat sudah cerita kalau novel kamu yang bukan salah ibu menyusui itu adalah kisah nyata kamu bersama seseorang. Dan dalam kisah itu, aku yakin rasa sakit hatiku saat kamu tolak tidak ada apa-apanya dibanding rasa sakit kamu saat itu, kan? Tapi ajaibnya, karena kamu ikhlas, akhirnya kamu bahagia bersama suami kamu. Kamu mencintai suamimu lebih dari kisah cintamu di masa lalu."
Dahi Ajis mengerut. Ia sama sekali belum tahu bagaimana kisah Zahrana di masa lalu bersama Aridiansyah. Ia merasa dirinya terlalu meremehkan perasaan istrinya. Lagi-lagi ia merasa bersalah untuk itu. Padahal dia sudah berjanji akan membacanya.
Beberapa menit dari pesan pertama pada waktu yang sama.
"Zahrana... Apa kamu benar-benar tidak ingin memaafkanku?"
__ADS_1
"Zahrana... Aku janji, aku tidak akan mengganggumu lagi... Tapi jangan pernah berhenti berkarya ya... Aku minta maaf sudah mengungkit-ungkit jasa kepadamu..."
"Oh ya, kamu jangan marah sama Hidayat karena dia sudah memberitahukan tentang masa lalumu kepadaku. Karena ceritanya itulah aku jadi paham sekarang..."
"Semoga kamu selalu bahagia, Zahrana... Terima kasih atas semua pelajaran yang sudah kamu bagi ke aku selama ini..."
"Karena kamu sekarang tidak membuka pesan dari aku, aku harap nanti, dan sangat berharap lagi kamu mau memaafkan aku. Meski kamu tidak berniat membalas pesan dari aku ini..."
"Assalamu'alaikum, Zahrana Habibah Marwan..."
Ajis berniat menulis tulisan di kolom balasan.
Setelah menulis dengan perhitungan yang cukup matang, Ajis pun mengirimkannya kepada Arya.
Dua centang abu-abu dengan cepat berganti biru. Arya telah membuka pesan dari Ajis secepat kilat.
Ajis tersenyum kecut. "Begitu penting Adik baginya, sehingga dia terlihat mengutamakan Adik... Dan Abang malah menyalahkan Adik untuk ini... Maafkan Abang ya, Sayang..." Sesalnya.
Tidak lama, telepon Zahrana berdering. Tampak nama Arya tertera di layar ponsel. Baru saja Ajis hendak mengangkat, tiba-tiba ia malah mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Nada dering berbunyi setelah getaran pertama, dan suara nadanya berupa shalawat tarafna yang dibacakan Zahrana sendiri. Ia terpana karenanya. Ia mulai tersenyum kembali. Ia juga mendengar suaranya menyambung shalawat itu. Lagi-lagi kenangan bahagia berubah menyakiti perasaannya, karena kenangan hanya tinggal kenangan. Ia tidak akan lagi pernah merasakan kebahagiaan itu selamanya.
Ajis kembali terisak sembari mendekap ponsel yang masih berdering itu ke dadanya. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur itu, lalu bergelung disana sambil mendekap kuat ponsel Zahrana ke dalam dadanya.
"Oh... Sakit, Dik... Sakit, Sayang... Abang tidak siap, sungguh... Bawalah Abang bersama Adik... Abang janji, Abang tidak akan marah-marah lagi... Abang hanya akan terus memeluk dan mengecup dahi Adik... Hal yang Adik senangi, kan?" Rintihnya mendayu.
"Yaa Allah... Ampun... Ampuuun, Yaa Allah... Hamba tidak kuat, meski hamba sadar ini adalah kehendakmu... Tolong yaa Allah... Hamba ingin bertemu istri hamba..." Pintahnya terisak-isak. Ia tersedu-sedu, bahkan mengerang kuat melepas sakit di dalam dadanya.
Waktu terus berjalan hingga mengantarkan Ajis kembali ke dalam mimpinya.
.
.
.
.
.
__ADS_1