
"Hari ini ya, Dik, syutingnya?" Tanya Ajis dengan suara datar dan wajah yang terus menghadap ke arah piringnya. Ia berusaha menyembunyikan rasa keberatan di dalam dadanya saat itu.
"Iya, Abang... Perasaan dari semalam abang nanya-nanya terus..." Ucap Zahrana heran.
"Maaf, Adik... Soalnya nggak biasa bagi Abang kalau Adik bakal kemana-mana."
"Abang doain Zahra ya, semoga pekerjaan Zahra lancar, biar cepat selesainya..."
"Iya, Adik... Hidayat gimana? Dia udah jalan ke sini?" Tanya Ajis berusaha kuat mengusir kegalauan di hatinya.
"Sudah, Abang... Katanya dia sudah OTW..."
"Oh ya?"
"Iya... Baru saja Hidayat mengirimkan pesan pada Zahra lewat WA. Untung saja Hidayat libur kuliah... Jadi, Zahra ada temennya ke lokasi syuting." Ujar Zahrana dengan wajah girang.
Ajis ikut tersenyum, namun senyuman kecut yang tak dimengerti Zahrana, bahwa suaminya itu sangat mengkhawatirkan dirinya jatuh ke dalam pelukan lelaki lain. Ajis sadar, istrinya itu adalah perempuan sempurna di matanya, yang banyak diinginkan oleh lelaki mana pun.
Selama itu, banyak lelaki lain yang memuji dirinya. Mengatakan bahwa dia hebat bisa mendapatkan istri seperti Zahrana. Namun di hatinya, ia khawatir jika pujian orang-orang membuatnya malah kehilangan istrinya itu.
"Abang mau nambah?" Tanya Zahrana ketika melihat piring suaminya itu telah kosong.
Ajis menggeleng, lalu meraih gelas berisi air putih di hadapannya. Setelah mereguk habis dalam beberapa kali tegukan, Ajis bangkit dari duduknya.
"Abang berangkat sekarang?" Tanya Zahrana menghentikan langkah Ajis. Ia mulai bingung melihat sikap suaminya yang tiba-tiba dingin pagi itu.
"Belum, Dik... Abang tunggu Hidayat saja, biar kita sama-sama berangkatnya." Ujar Ajis sembari menolah kembali.
"Owh... Ya sudah. Zahra bereskan ini dulu ya, Bang. Abang tunggu saja di depan..." Ucap Zahrana hendak mengemasi meja makan. Namun dengan cepat, Ajis malah menahan tangan Zaharana, lalu menarik tubuh istrinya itu ke dalam dadanya.
"A-abang... Abang kenapa?" Tanya Zahrana gugup dengan detak jantung yang tak beraturan. Entah Kenapa, perasaannya seolah kembali ketika ia jatuh cinta pada pertama kali dengan suaminya itu. Persendiannya terasa nyeri seketika, dan perasaannya tidak dapat ia jelaskan hanya dengan kata-kata.
"Jangan jauh-jauh ya, Sayang... Dan jangan pernah- menjauh dari Abang... Abang takut... Abang tidak bisa hidup tanpa Adik..." Ucap Ajis terdengar lirih di telinga Zahrana.
Zahrana mematung mendengar kata sayang yang sebelumnya tidak pernah diucapkan oleh suaminya itu kepada dirinya.
"Adik..." Panggil ajis lagi.
"I-iya, Bang..."
__ADS_1
"Adik bisa melakukannya untuk abang, kan?" Pinta Ajis terdengar memohon.
"Memangnya, Abang pikir Zahra akan pergi kemana, hmm? Abang tidak tahukah, bahwa Zahra hanya inging terus di dekat Abang?. Dipeluk, dicium, dan dimanja oleh Abang..." Ucap Zahrana dengan perasaan yang sulit dipahaminya. Dia tidak mengerti, mengapa suaminya yang biasa kalem, tiba-tiba malah berubah begitu manja terhadapnya.
Ya Tuhan... Ampuni hamba... Sesungguhnya hamba takut jika hamba mencintai istri hamba, melebihi cinta hamba kepada-Mu. Tolong jaga hati istri hamba Ya Allah, jika ia berada jauh dari sisi hamba. Karena, hamba melihat tatapan pria asing itu, seakan hendak mencari celah untuk mencuri hati istri hamba.
Tanpa disadarinya, ia mendekap tubuh istrinya itu lebih kuat dengan perasaan yang begitu serakah.
"Maaf, Adik... Pasti Adik heran ya? Entah kenapa, akhir-akhir ini Abang terus merindui Adik, meskipun adik dalam pelukan Abang sekalipun..." Ujar Ajis mengakui perasaannya.
"Zahra tahu, Abang... Itu tandanya Abang sangat menyayangi Zahra, bukan?" Cetus Zahrana berusaha membuat suaminya itu tersenyum. Bahkan dia sendiri tidak menyadari, mengapa suaminya sampai bersikap demikian.
Ajis menggangguk.
"Apa Zahra batalkan saja pergi ke lokasi syuting nya, Bang? Lagian, Zahra tidak terlalu penting ikut andil dalam penulisan skenarionya..." Tutur Zahrana.
"Jangan, Adik... Abang tahu itu adalah keinginan besar Adik selama ini. Abang tidak mengapa, kok... Adik tidak perlu memikirkan apa-apa. Maafkan Abang, ya..."
"Abang yakin?"
"Hem..." Angguk Ajis.
"Iya..."
Sepeninggal Ajis, Zahrana kembali merasakan kesakitan di bagian perutnya. Ia meringis dengan meremas kuat perutnya yang sakit, sementara satu tangannya malah bertumpu ke atas meja makan.
"Ya Allah... Ada apa sebenarnya dengan perut Zahra? Kenapa perut Zahra sering kali Sakit?" rintih Zahrana.
PRAAAANK
Serpihan gelas berserakan di lantai. Rasa sakit yang ditanggungnya saat itu, membuat ia tak sengaja menyenggol gelas bekas minuman Ajis tadi.
"Adik...!" Ajis kembali ke sana dengan panik ketika mendengar gelas itu terjatuh.
"Yaa Allah. Adik kenapa?" Tanya Ajis menghamburkan diri memeluk Zahrananya.
"Perut Zahra sakit sekali, Abang..." Isak Zahrana sambil membenamkan wajahnya ke dada suaminya itu.
"Kita ke rumah sakit sekarang ya?" Ajak Ajis begitu khawatir.
__ADS_1
"Tidak usah, Abang... Sepertinya Zahra mau datang bulan deh..." Elak Zahrana.
"Tapi wajah Adik pucat begitu. Abang khawatir loh..."
"Nggak apa-apa, Abang... Zahra maunya Abang ngelus perut Zahra saja. Nanti juga bakal baikan seperti biasanya." Pinta Zahrana manja.
Ajis menurutinya, ia mengusap pelan perut istrinya itu berulang kali sambil membaca surah Al-Fatihah. Dia benar-benar mencemaskan Zahrana untuk kali itu.
"Alhamdulillah... Udah baikan kok, Bang... Perut Zahra sudah tidak sakit lagi..." Ucap Zahrana dengan nafas kembali normal.
"Bener?"
"Iya, Abang... Zahra tidak bohong. Terima kasih ya, Bang..."
"Ya sudah, adik istirahat saja dulu ya... Biar Abang bereskan pecahan kacanya."
"Tidak usah, Abang... Biar Zahra saja." Cegah Zahrana.
"Tapi, Dik..."
"Abang tunggu di depan saja ya. Sebentar lagi Hidayat sampai..." Pinta Zahrana memotong ucapan Ajis yang hendak protes.
"Beneran tidak mengapa, hmm?" Tanya Ajis masih belum hilang rasa cemasnya.
"Iya, Abang... Ke depan gih... Sebentar lagi Zahra susul." Pinta Zahrana seraya mendorong pelan tubuh Ajis.
"Baiklah...Adik hati-hati ya. Nanti belingnya melukai Adik..."
"Iya, Abang... Insya Allah Zahra bakalan hati-hati..." Ucap Zahrana menyahuti pesan dari suaminya itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1