
Perasaan Arya mulai tidak nyaman ketika mobilnya ia tepikan lalu memasuki pekarangan rumah minimalis yang dia tahu kediaman Zahrana bersama Ajis. Jantungnya berdetak tak karuan. Ada pemikiran-pemikiran aneh selain rasa canggung untuk menemui Zahrana dan suaminya.
"Ayo,Bang..." Ajak Hidayat yang membuat hatinya semakin bergemuruh merasa tidak enak seketika.
"Apa menurutmu Zahrana akan memaafkan Abang, Yat?" Tanya Arya tampak gugup. Dirinya kembali ragu.
"Semua akan baik-baik saja, Bang... Kak Zahra orang yang pemaaf..." Ucap Hidayat terdengar menenangkan. Padahal Hidayat berusaha keras menetralkan napasnya yang sesak akan kerinduan terhadap mendiang kakaknya itu.
"Hufhhh...Baiklah..." Arya membuka pintu mobil di sisinya, lalu turun dengan perasaan yang membuncah tak karuan.
"Bismillaahirrahmaanirrahiim..." Ucapnya sembari menghentakkan napasnya dengan kasar.
"Hidayat?" Ibu Ajis keluar dari dalam rumah. Wajah beliau tampak sendu menyeru adik ipar putranya itu.
"Assalamu'alaikum, Ibu..." Sapa Hidayat sembari mendekat ke beranda rumah.
"Wa'alaikum salam... Sudah dari tadi, Nak?"
"Baru saja, Bu..." Jawab Hidayat. "Bang Ajis ada di dalam, Bu?"
Ibu Ajis menggeleng pelan. Kelopak mata beliau mulai memerah, wajah tuanya tampak lebih sendu.
"Ya sudah, Bu... Hidayat ke belakang saja." Pamit Hidayat yang mengerti kesedihan si ibu.
"Ibu buatkan minum ya? Sekalian Nak, tolong bujuk kakak iparmu... Emmm..." Tampak keraguan di wajah ibu Ajis ketika menyebut Ajis masih sebagai kakak ipar untuk Hidayat.
Hidayat melangkah lebih dekat. Ia menggenggam jemari ibunya Ajis. "Sampai kapanpun, Bu... Bang Ajis tetaplah kakak ipar Hidayat..." Ucapnya menenangkan.
Dahi Arya berkerut. Ia tidak mengerti maksud pembicaraan dua orang di hadapannya itu. Pikirannya lebih buruk menjurus antara pertikaian terhadap sepasang suami istri itu akibat ulah dirinya beberapa hari yang lalu.
"Ibu tidak perlu membuatkan apa-apa... Selepas dari sana, bang Arya juga akan pamit pulang ke rumahnya, Bu..." Pesan Hidayat.
Arya tetap tidak mengerti, namun tidak berniat untuk bertanya.
"Ayo, Bang..." Ajak Hidayat mendahului Arya ke belakang rumah melewati samping.
Arya pun hanya mengikut.
__ADS_1
Belum sampai ke tempat tujuan, Hidayat mendapati sesosok lelaki tengah bergeming menghadap ke belakang rumah dengan posisi memunggungi dirinya. Tubuh tegap lelaki itu tampak layu dari arah belakang.
"Permisi!" Sapa Hidayat ingin tahu siapa lelaki berpakaian serba hitam yang berdiri mengendap-endap di hadapannya.
Lelaki itu sedikit terlonjak. Ia berbalik dan menoleh cepat kearah Hidayat untuk menampakkan siapa dirinya.
"Hidayat?"
"Bang Ari?"
Mereka sama-sama terperanjat setelah saling mengetahui siapa. Arya ikut tersentak ketika Hidayat memanggil lelaki itu dengan sebutan Ari.
"Bang Ari belum kembali?" Tanya Hidayat sedikit berbisik.
"Belum, Yat?" Geleng Ari.
"Lalu, kenapa Abang ada disini?" Tanya Hidayat lagi keheranan.
"Entahlah... Hati Abang yang membawa Abang kemari. Abang masih tidak menyangka dengan semua ini, Yat... Sebagai saudara, harusnya Abang bisa lebih peka bagaimana kondisi kakakmu waktu itu. Padahal ibu sudah mengendusnya... Abang hanya sibuk berharap bahwa kakakmu tidak bahagia dengan suaminya... Tapi kenyataannya..." Ari tidak melanjutkan kata-katanya. Ia hanya menoleh ke belakang, tampak olehnya Ajis tengah bersimpuh memeluk nisan disana.
Aridiansyah terlihat sangat menyesal. Ia menekan ruas matanya yang memerah dengan dua jarinya.
"Apa yang terjadi? Kenapa semua terasa aneh dan terlihat sedang berduka? Apa kesalahan yang Abang perbuat, membuat kakak dan kakak iparmu bertengkar, lalu mereka berpisah?" Tanya Arya menggebu.
"Arya Irawan?" Aridiansyah baru menyadari bahwa yang datang bersama Hidayat adalah aktor terkenal yang juga membuat nama Zahra sempat melambung.
"Anda Arya Irawan itu, kan?" Ulang Ari begitu senang.
"Huhhh, Zahra... Kamu benar-benar disayang Tuhan. Semua keinginanmu terkabul..." Desah Ari. "Anda tahu? Saya sampai cemburu cuma karena publik figur seperti Anda. Dia selalu memuji-muji nama Anda, karakter Anda, ketampanan Anda..." Ucap Ari kepada Arya dengan bersemangat, namun masih menampakkan kegetiran di wajahnya.
"Tetap saja itu berbeda, dan tetap saja lelaki yang dicintainya adalah suaminya sendiri..." Ucap Arya masam.
"Ya, bahkan saya merasa cemburu karena itu... Tapi sekarang saya menyadari bahwa cinta mereka memanglah sejati... Sampai Zahrana tiada sekalipun..." Ucap Ari dengan tersenyum, namun air matanya berlinangan.
"Tiada???" Arya terlihat geram. Ucapan Ari serasa tidak pantas di telinganya. "Anda mengada-ada, hah?" Ucapnya bengis.
Ari tersurut. Ia lebih tidak mengerti arti kemarahan Arya.
__ADS_1
"Kenapa Anda harus mengatakan sampai Zahrana tiada segala?" Arya mulai berteriak murka.
"Apa dia belum mengetahuinya, Yat?" Tanya Ari kepada Hidayat tanpa menggubris kemarahan Arya lagi. Ia mulai mengerti saat itu.
Hidayat menggeleng. "Kak Zahra mungkin tidak menginginkan bang Arya tahu, demi pembuktian cintanya kepada bang Ajis..."
"Maksud kamu apa, Yat?" Mendadak suara Arya melemah. Dia mulai tahu arah pembicaraan dua orang di hadapannya itu, namun ia lebih memilih pura-pura tidak mengerti.
"Disana bang Ajis, Bang... Temuilah beliau... Beliau sangat tersiksa oleh perasaan bersalah kepada kak Zahra sekarang. Bantu bang Ajis untuk bangkit lagi, Bang..." Pinta Hidayat dengan bibir bergetar menahan pedih.
Tanpa babibu lagi, Arya segera melangkah kearah Ajis berada.
"Apa ini?" Tanyanya seolah tidak percaya dengan penglihatannya. Ia melihat sebuah makam dengan nisan bertulisakan nama Zahrana, dan sedang dipeluk erat oleh Ajis.
Ajis menoleh dengan perlahan. Ia tersenyum dengan mata yang basah.
"A-Arya? Arya... Anda akhirnya datang juga..." Ucap Ajis seraya bangkit.
"Apa ini?" Tanya Arya lagi dengan raut wajah yang tersakiti.
"Iya..." Ajis mengangguk lemah. "Di dalam ada dik Zahra... Tolong, tolong keluarkan dia dari sana... Biarkan saya melihatnya untuk sekali lagi, setelah itu kamu ingin mengambilnya dari saya, silakan... Tapi saya mohon, tolong keluarkan dia dari sana..." Pinta Ajis mengiba.
"Apa yang terjadi?" Tanya Arya tak kuasa menahan air matanya. Ia mendekat untuk memastikan penglihatannya ke nisan itu, lalu berlutut disana sambil memegangi nisan yang benar-benar bertuliskan nama Zahrana.
Ia menampar-nampar pipinya. "Yaa Allah, bangunkan hamba... Sadarkan hamba jika ini hanyalah mimpi, Yaa Allah..." Ucap Arya terdengar merintih. Ia terisak sesaat.
"Istri saya sakit karena saya marahi... Sekarang saya janji, saya tidak akan marah jika dia bersama Anda... Saya lebih baik melihat dia bersama Anda, daripada tidak sama sekali melihatnya seperti ini..." Ucap Ajis lagi seakan memohon.
"Cukup... Cukup... Cukuuup..." Arya berteriak marah. "Tolong jangan begini... Toloong... Seharusnya Anda bersyukur karena cinta Zahrana hanya untuk Anda sampai ia meninggal... Tidak ada tersisa sedikitpun untuk saya ataupun untuk orang lain, bahkan masa lalunya... Jangan Anda buat saya semakin merasa bersalah karena sempat membuat kalian marahan sebelum ia pergi... Anda lelaki tegar, kuat, sehingga Zahrana mencintai Anda begitu lebih... Dan ia begitu bangga dengan cintanya kepada Anda... Ia pamerkan itu kepada saya..." Arya terisak. Ia bangkit, lalu perlahan berjalan dengan lunglai melewati Hidayat dan Ari, ia meninggalkan Ajis yang masih terpaku disana.
Kak, lihatlah... Tiga lelaki yang mencintai Kak Zahra sedang berkumpul disini... Mereka semua berduka, Kak...
.
.
.
__ADS_1
.
.