
Pagi-pagi buta Ajis sudah terbangun. Ia menoleh ke sampingnya dan melihat Zahrana masih tertidur disana. Ia mendekat, lalu mencium kening istrinya itu.
"Nyenyak sekali Adik tidurnya, sampai terus bergeming dan tidak menyadari kericuhan yang Abang buat. Hemm... Pasti Adik lelah karena kelakuan Abang semalam. Maafin Abang ya..." Bisik Ajis kepada Zahrana yang masih pulas dalam tidurnya.
Ajis bangkit dari tempat tidur itu dengan perlahan lalu melangkah kearah kamar mandi. Ia sengaja belum membangunkan istrinya itu karena azan subuh masih akan lama.
Setelah mandi, Ajis masih mendapati istrinya tertidur. Biasanya selelah apa pun, istrinya itu akan terbangun lebih awal darinya.
Terdengar Azan shubuh berkumandangan, namun Zahrana masih belum juga terbangun. Deru napas Zahrana mulai terdengar kasar di telinganya. Ajis bergegas mendekati tempat tidur.
"Adik... Adik bangun dulu ya... Nanti Adik boleh tidur lagi kalau masih capek dan mengantuk..." Ucap Ajis sembari mengelus pelan dahi Zahrana.
Zahrana sama sekali tak bergerak. Wajahnya terlihat pucat bagai tak berdarah sama sekali. Ajis juga merasakan tubuh istrinya begitu dingin.
"Adik..." Panggil Ajis lagi dengan cemas. "Adik, bangun..."
"Huuuhhh... Zahra masih ngantuuuk..." Sahut Zahrana tanpa membuka matanya sedikitpun sembari membalikkan tubuhnya menghadap kearah Ajis, lalu ia malah memeluk guling.
"Yaa Allah... Abang pikir Adik tadi pingsan..." Ucap Ajis mulai lega setelah mendengar sahutan dari Zahrana.
"Adiiik... Sayaaang..."
"Haaah?" Zahrana langsung bangkit ketika mendengar panggilan sayang dari suaminya.
"Astaghfirullahaladziiiim..." Ucap Ajis begitu terkejut karena Zahrana yang bangun dengan tiba-tiba. Wajah istrinya itu sudah berada tepat di hadapan wajahnya sendiri.
"Kenapa seperti itu? Abang terkejut loh..."
"Abang tadi panggil siapa?" Tanya Zahrana dengan mata melebar.
"Panggil Adik, lah... Memangnya Adik pikir Abang manggil siapa? Kan cuma kita berdua di rumah ini..." Jawab Ajis ikut bingung.
"Tapi kok pakai sa-yang... Biasanya nggak pernah tuuh..."
"Hehe... Begitu aja dihebohin... Memangnya Adik tidak senang jika Abang memanggil Adik dengan panggilang sayang? Orang yang belum suami istri saja sudah panggil sayang-sayangan di luaran sana..."
Cup. Satu kecupan menempel di bibir Ajis.
"Yaa Allah... Adik belum mandi, cuci muka, gosok gigi..." Rengut Ajis.
__ADS_1
"Jangan berubah... Sa-yang... Begitu saja selamanya..." Protes Zahrana.
Cup. Sekali lagi Zahrana mendaratkan kecupan di bibir Ajis.
"A..."
"Sa-yang..." Potong Zahrana cepat. "Jangan berubah lagi, Abang..." Pinta Zahrana terlihat merengut.
"Iya, iya, Sayang..."
"Hemm... Makasih, Abang..." Ucap Zahrana.
"Sekarang mandi sana... Mau shalat, kan?" Titah Ajis.
"Zahra nggak mau mandi, lah... Dingin..." Bantah Zahrana sembari mengapit tubuhnya dengan menyilangkan kedua lengannya di dadanya itu.
"Ya Allah..." Ajis tercengang. "Masa nggak mandi? Kan Adik mau shalat?"
"Sa-yaaang... Uuuh..." Zahrana terlihat merengek.
"Iya, iya, Sayang... Masa sayang nggak mandi dulu?" Ajis gelagapan mendengar paksaan dari Zahrana.
"Abang terpaksa ya, panggil sayangnya?" Tuding Zahrana merengut.
"Kalau begitu, biasakan dari sekarang ya. Kalau Abang beneran sayang sih sama Zahra..." Ucap Zahrana terlihat ragu.
"Iya, Adik Sayang... Perasaan Sayang Abang tidak bisa diukur hanya dengan panggilan sayang, kan, Adik Sayang?" Tutur Ajis sembari menggamit pipi Zahrana.
"Hmm... Nggak apa-apa deh... Yang penting ada sayangnya..." Ucap Zahrana terdengar pasrah.
"Hehe... Sekarang Sayang mandi, ya..." Suruh Ajis.
"Nggak ah... Nanti saja. Sekarang dingin..." Geleng Zahrana masih bersikukuh.
"Memangnya Sayang nggak mau shalat?" Tanya Ajis begitu sabar menghadapi kekanak-kanakan istrinya pagi itu.
"Shalat... Semalam Zahra sudah mandi sebelum tidur." Ucap Zahrana.
"Semalam Adik mandi? Ups..." Ajis spontan menepuk bibirnya.
__ADS_1
"Tau ah... Terserah Abang mau panggil Zahra apa..." Rengut Zahrana seraya bangkit dari tempat tidur bersiap hendak ke kamar mandi.
"Sayang, maafin Abaaang..." Panggil Ajis. Ia geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya itu.
Shubuh itu Ajis shalat berjama'ah ke mesjid, sementara Zahrana shalat sendiri di rumah. Baru mengucapkan salam, perut Zahrana melilit perih. Rasa lapar berkecamuk membuat ia mual.
Ia membuka mukenahnya dengan tergesa-gesa lalu berlarian kearah dapur. Dia mencoba mencari sesuatu yang dapat dimakannya pagi itu.
"Yah, cuma biskuit..." Gumamnya mengeluh. "Tapi tidak mengapa lah, mudah-mudahan bisa ngilangin lapar."
Zahrana mengoyak bingkisan biskuit itu lalu memakannya dengan tidak sabaran. Tanpa ia sadari, ia telah memakan lebih dari tiga bungkus biskuit yang masing-masingnya berisi empat potong biskuit kecil-kecil.
Perutnya semakin terasa perih. Ia terus memakannya meski ia tidak terlalu menyukai makanan yang manis-manis begituan.
"Sayang... Ternyata Adik disini? Abang cari-cariin di kamar." Seru Ajis begitu heran melihat tingkah istrinya makan seperti orang kelaparan yang sudah berhari-hari tidak makan.
Zahrana terpelongo melihat kedatangan suaminya yang begitu tiba-tiba. Ia melirik ke bingkisan biskuit kosong di hadapannya. Ia juga begitu terkejut karena tidak menyadari telah menghabiskan biskuit sebanyak itu.
Zahrana menatap Ajis yang mendekat kearahnya dengan malu-malu. Ia mencubit bibirnya sendiri karena salah tingkah diketahui oleh suaminya, seperti maling yang tertangkap basah di rumah orang.
"Sayang?" Panggil Ajis lagi.
"Za-Zahraaa... Zahra..." Belum sempat Zahrana mengatakan sesuatu, ia malah terisak-isak.
"Loh, kok Adik menangis? Apa yang salah? Abang tidak marah, kok..." Ucap Ajis seraya menarik lembut tangan Zahrana dan membawa tubuh istrinya itu ke dalam dekapannya.
"Zahra tidak tahu mengapa Zahra jadi lapar, Abang... Perut Zahra perih..." Ungkapnya tersedu-sedu.
"Maafin Abang ya, Abang pasti mengejutkan Sayang... Tapi biasanya, kan Adik belum selesai berdoa setiap kali Abang pulang dari masjid. Makanya Abang langsung ke kamar." Ajis mengeluarkan Zahrana dari dekapannya lalu mengecup dahi istrinya itu lama-lama.
"Abang ridha 'kan, sama Zahra?"
"Abang Ridha, Sayang..."
.
.
.
__ADS_1
.
.