
Hari ini Zahrana meminta Hidayat menemani dirinya ke rumah Sakit. Ia begitu penasaran dengan apa yang sebenarnya ia alami. Kenapa sakit di bagian perutnya sangat menyiksa.
Setelah menangis sesenggukan mengingat kesalahannya di masa lalu, perutnya kembali perih, namun rasa panasnya sampai ke dada dan tenggorokannya. Sedari tadi ia merasa mual dan muntah-muntah di dalam toilet lokasi syuting.
Hidayat hanya menunggu dirinya di kursi panjang rumah sakit, di depan ruangan tempat ia mengonsultasikan diri.
"Kanker lambung, Dok?" Zahrana terbelalak. Raut wajahnya seolah mengatakan bahwa ia tidak percaya akan pendengarannya saat itu mengenai kondisinya.
"Iya, Bu... Sudah masuk stadium tiga. Saya harap Ibu jangan menyepelekan..." Ujar sang dokter di hadapannya.
"Saya harus apa, Dok...?" Tanya Zahrana terdengar pasrah. Air matanya menyeruak, mengalir tanpa bisa ia hentikan. Rasa takut menggerayang dalam benaknya.
"Saya menyarankan agar Ibu segera melakukan tindakan operasi agar tidak terjadi komplikasi dan penyebaran kanker ke organ lainnya." Tutur Sang dokter.
"Apa biayanya sangat besar, Dok?" Zahrana terlihat ragu, mengingat ekonominya saat itu pas-pasan. Apalagi kios yang dirintis suaminya baru berjalan.
Dokter itu mengangguk-anggukan kepala sambil mengatupkan dua jari telunjuknya di atas meja. "Memang untuk operasi pada penyakit ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Ya, sekitar lima belas sampai dua puluhan juta..."
Semangat Zahrana surut. Hatinya begitu remuk mendengar penjelasan dokter.
"Apa ada obat pereda nyeri untuk sementara, Dok? Setidaknya sampai uang saya terkumpul sebanyak itu."
"Emmm... Baiklah... Tapi sesuai saran dari saya, tindakan operasi harus cepat dilaksanakan."
"Insya Allah, Dok... Saya akan mengusahakannya..." Angguk Zahrana, lalu dokter itu mengambil sebotol obat dan menuliskan resepnya.
"Terima kasih, Dok..."
*****
Hidayat semakin menajamkan matanya. Ia juga memperlambat gerak bibirnya hanya demi mencerna kisah Zahrana yang ia baca saat itu.
"Astaghfirullahal'azhiim..." Ucap Hidayat dengan mata melebar menatap buku milik Zahrana.
__ADS_1
"Kenapa, Bang? Apa ada yang ketinggalan?" Pertanyaan sopir taxi tak membuat ia begerak. Ia masih bergeming mencoba menelaah setiap kata dalam tulisan kakaknya itu.
"Ini nggak mungkin... Ini pasti bumbu sebagai penambah seru jalan cerita kak Zahra... Kak Zahra nggak mungkin sakit. Kak Zahra sehat, kak Zahra kuat. Kak Zahra tidak pernah mengeluhkan apa pun..." Ucapnya sendiri.
Pandangannya mulai berlalih. "Loh, Pak? Kok Taxinya nggak jalan, Pak? Ini ada apa?" Tanya Hidayat mulai menyadari taxi yang ditumpanginya berhenti.
"Maaf, Bang... Macet, dikarenakan adanya perbaikan jalan di depan sana. Jadi, jalannya untuk sementara bergantian. Kalau mutar arah, akan lebih jauh lagi, dan itu juga belum tentu tidak macet disana... Setelah ini giliran jalur kita kok, Bang..." Jawab sopir taxi itu apa adanya.
"Yaa Allah..." Ucap Hidayat sembari mengusap kasar kepalanya.
Ia melirik jam tangannya. "Pasti kak Zahra sudah sampai disana. Aku harus menanyakan lansung kepada kak Zahra tentang ini." Ucap Hidayat seraya mengeluarkan ponselnya. Ia mencoba menelepon Zahrana, namun beberapa kali panggilan, teleponnya tak kunjung menerima jawaban.
Yaa Allah, kenapa perasaan hamba jadi tidak enak begini ya?~ Batin Hidayat tampak cemas.
"Pak, masih lama kah?" Tanyanya gusar.
"Ini mau jalan, Bang..." Jawab sopir itu dengan sabar. Sopir itu tampak mengerti ketergesaan penumpangnya.
Baru saja mobil itu kembali berjalan, tiba-tiba telepon Hidayat berdering. Tanpa melihat siapa peneleponnya, ia langsung mengangkatnya.
"Hallo??? Yat, kok kamu tahu ini Kak Zahra?"
"Hah?" Hidayat bingung. Ia segera menurunkan ponselnya dari telinganya, lalu melihat ke layar ponsel itu.
"Kak Zahra kenapa pakai HP bang Arya? HP Kak Zahra mana? Sedari tadi Hidayat telepon, tapi tidak Kak Zahra angkat. Kak Zahra baik-baik saja, kan?" Tanyanya panik.
"Kak Zahra baik-baik saja, kok... Kamu sekarang sudah sampai mana?"
"Masih di jalan, Kak... Sebentar lagi sampai. Kak Zahra, ada yang mau Hidayat tanyakan sama Kak Zahra..." Ucap Hidayat bernada tak sabaran mengalahkan suara kakaknya yang terdengar cemas bercampur bingung di seberang.
"Nanti saja, Yat... Sekarang kamu buruan kesini. Kak Zahra nggak mungkin hanya berduaan sama Arya. Kak Zahra risih, Yat. Kak Zahra merasa telah mengkhianati bang Ajis jadinya."
"Kak Zahra, Kak Zahra, Kak Zahra... Kenapa sih Kak Zahra hanya memikirkan orang lain... Kak Zahra kapan bisa memikirkan diri Kak Zahra sendiri, hah?" Bentak Hidayat tampak habis pikir mendengar pengakuan kakaknya itu.
__ADS_1
"Yat? Kamu kenapa marah-marahin Kak Zahra?"
Hidayat tersentak. Hatinya mulai tak karuan seketika setelah mendengar pertanyaan kakaknya. Suara kakaknya berubah serak seperti sedang menahan tangis disana.
"Kalau kamu sayang Kak Zahra, segera datang..." Tukas Zahrana. "Assalamu'alaikum..."
"Kak Zahra? Hallo! Hallo! Kak Zahra?" Hidayat menghadapkan layar ponselnya ke depan wajahnya. Ternyata telepon mereka telah diakhiri sepihak oleh kakaknya itu.
"Wa'alaikum salam..." Jawab Hidayat terlambat.
"Astaghfirullahal'azhiim, Kak Zahra... Hidayat cuma khawatir sama Kak Zahra..." Gumam Hidayat lirih. Matanya tampak memerah dan berkaca-kaca.
"Kita sudah sampai di Kampoeng Rotan, Bang..." Ucap sopir membuyarkan pikiran kosongnya.
"Ah iya, Alhamdulillah..."
Hidayat bergegas turun dan membayar argo taxi. "Terima kasih, Pak..." Ucapnya.
Setelah mendapat sahutan dari sang sopir, Hidayat berlari ke dalam caffe itu. Tak membutuhkan waktu lama, matanya memdapati Zahrana bersama Arya disana. Namun ketika ia hendak menghampiri, langkah kakinya tiba-tiba berhenti.
Dia melihat seorang lelaki di hadapannya tengah berdiri memerhatikan kakaknya. Dan lelaki itu mendengar dengan jelas apa yang ia dengar juga.
Ya, lelaki yang dilihatnya itu adalah Ajis, kakak iparnya sendiri.
Ajis berbalik dengan hati yang dipenuhi amarah. Sementara Hidayat malah berbalik pula memunggungi Ajis dan berpura-pura tidak melihatnya.
Dia gugup dan takut, karena apa yang didengarnya barusan, tidak seharusnya didengar Ajis. Dia menjadi lelaki dan adik pengecut untuk Zahrana, karena berusaha lari dari Ajis, yang seharusnya dia berusaha menenangkan kakak iparnya itu dan mencari keterangan lebih lanjut tentang percakapan kakaknya itu dengan Arya Irawan disana.
.
.
.
__ADS_1
.
.