
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..." Ucap Zahrana dengan berusaha menahan gemetar yang mengguncang tubuhnya.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh..." Ucapan salamnya serentak disahuti oleh para hadirin yang datang.
"Terima kasih untuk semua teman-teman yang menyempatkan hadir ke sini. Aku sebagai penulis novel 'Bukan Salah Ibu Menyusui', Zahrana Habibah Marwan, terharu sekali bisa berjumpa dengan teman-teman semua. Jujur, tanpa teman-teman semua, aku sebagai Penulis tidak akan ada apa-apanya.
Alhamdulillah... Banyak-banyak syukur aku ucapkan kepada Yang Maha Kuasa, karena Allah telah mewujudkan mimpi saya menjadi seorang penulis buku best seller di tahun ini.
Kemudian, rasa terima kasih yang sebesar-besarnya aku sampaikan kepada..."
Arya Irawan tersenyum di posisinya, sementara Ajis hanya memasang wajah datar penuh kepasrahan di posisinya pula.
"...Suamiku tercinta, Abang Muhammad Ajiz Andika." Sambung Zahrana seraya melempar senyum ke arah suaminya itu.
Posisi terbalik, wajah Arya berubah masam. Entah kenapa dia merasa cemburu mendengar ucapan Zahrana. Tepuk tangan meriah terdengar memenuhi seluruh ruangan Pandangan mereka tertuju kepada sosok Ajis, lelaki biasa yang dieluk-elukkan oleh idola mereka. Hati Arya semakin terasa panas olehnya.
"Abang Ajiz adalah sosok yang begitu pengertian, suami yang bijaksana, sehingga beliau memberi izin kepada saya untuk beraktivitas menjadi seorang penulis, dan tentunya dengan tujuan yang baik.
Juga untuk keluargaku di rumah. Mereka yang sudah mendukungku dan mendoakanku selalu. Terima Kasih Ayah Ibu, dan ayah ibu mertuaku...
Yang paling istimewa, terima kasih kepada idola kita semua di negeri ini, Arya Irawan..."
__ADS_1
Tepuk tangan bercampur sorak-sorai para hadirin memenuhi seluruh ruangan, bahkan ada yang menyorakkan nama Arya tanpa rasa malu.
Arya tersenyum menyambut itu, namun Siapa yang tahu di dasar hatinya, dia tidak begitu senang. Keserakahan mengisi hatinya seketika. Perasaan yang selama itu terpendam, kini membuncah semakin besar.
Semenjak matanya pertama kali beradu pandang dengan Zahrana tadi, ia mulai melupakan dunianya. Yang dia lihat, hanya Zahrana seorang.
Usai acara, pihak PH mengundang Zahrana ke kantornya. Kebetulan petinggi PH merupakan kerabat dekat Arya Irawan sendiri. Arya mulai merencanakan sesuatu untuk memenuhi hasrat keegoisannya itu. Dia ingin merebut Zahrana dari suaminya. Namun yang pasti secara perlahan dan penuh kesabaran. Karena Arya tahu, Zahrana bukanlah perempuan yang sama dengan kebanyakan perempuan yang dikenalnya, hanya mengharapkan harta, kepopuleran dan materi Semata.
Setelah berbincang-bincang dengan produser, novel Zahrana secepatnya akan diangkat menjadi film di layar lebar. Zahrana begitu bahagia sekali mendengar hal itu. Apa yang diimpikannya selama ini, tercapai dengan mudahnya berkat kesabaran dan keikhlasan hatinya dalam menghadapi segala macam ujian dari Yang Maha Kuasa.
Arya tak berhenti mencuri pandang ke wajah Zahrana. Dia berpikir, baru kali itu ia mengenal perempuan yang berbeda. Akan tetapi hatinya begitu sakit setiap kali melihat tangan Zahrana yang tak lepas menggenggam tangan suaminya itu.
Asik berbincang-bincang, Zahrana mendapatkan tawaran untuk mengikuti casting dalam memerankan tokoh utama perempuannya. Sayangnya, Zahrana menolak dengan cepat.
Ada perasaan lega di hati Ajis ketika mendengar penolakan istrinya itu. Rasa percayanya semakin kuat terhadap Zahrana, apalagi Zahrana sama sekali tidak berniat melepas genggaman tangannya di depan orang-orang.
Arya tercenung. Di dalam hatinya,dia begitu kecewa atas penolakan Zahrana untuk memerankan tokoh Habibah di film Bukan Salah Ibu Menyusui yang akan dilakukan dalam waktu secepatnya nanti. Karena tokoh lelaki dalam novel itu, dia sendiri yang akan memerankannya. Namun Arya tetap bersikap santai dan berusaha keras menyembunyikan rasa kekecewaan di dalam hatinya saat itu.
Walau begitu, Arya tidak putus asa. Dia masih memiliki kesempatan untuk sering bertemu dengan Zahrana. Dia bersiasat, memberi kode agar Zahrana terlibat dalam penulisan skenario nantinya, dan juga mengambil tanggung jawab dengan menyaksikan syuting yang akan dilakukan dalam pemfileman novelnya nanti.
Setelah mendapat persetujuan Ajis, Zahrana pun tidak lagi bisa menolaknya.
__ADS_1
Arya senang. Caranya berhasil membuat ia akan lebih sering lagi bertemu dengan Zahrana nantinya.
"Terima kasih banyak ya, kamu sudah membantu aku sampai ke titik ini..." Ucap Zahrana kepada Arya pada saat mereka sudah bersiap hendak pulang.
"Sama-sama... Loe juga udah banyak membantu gue dalam perihal agama..." Sahut Arya. Meski ia menyahuti dengan senyuman, tapi hatinya begitu dongkol melihat tangan Zahrana yang tak juga kunjung melepaskan tangan Ajis.
"Thanks ya, Bang... Loe benar-benar suami yang begitu peduli dan perhatian sama mimpi Istri loe... Sungguh, gue iri sama loe, Bang. Karena loe dikasih Tuhan berupa istri yang sempurna kayak dia..." Tutur Arya begitu tajam sambil menunjuk ke arah Zahrana.
Ajis menyahuti ucapan Arya dengan sedikit tersenyum dan anggukan kecil. Rasa curiga tumbuh di pikirannya. Ya, karena dia sangat takut kehilangan istrinya itu. Apalagi cara pandang Arya yang begitu lekat menatap istrinya, dapat ia lihat.
"Kalau begitu, kami pamit dulu ya..." Ucap Zahrana. "Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumussalam..."
.
.
.
.
__ADS_1
.