
Pintu ruangan yang dihuni Zahrana terdengar berderik pelan. Sesegera mungkin Zahrana menoleh. Penglihatannya yang mengabur, dapat menangkap bayangan orang-orang dengan ramai memasuki ruangannya.
"Assalamu'alaikum..."
Zahrana tersentak. Tanpa ia sadari, air matanya menelaga, namun senyumnya merekah ketika mendengar ucapan salam secara beramai-ramai dari pintu.
"Wa'alaikum salam..." Jawabnya dengan bersemangat. Ia merentangkan tangannya kearah bayangan yang bergerak menuju posisinya.
"Ayah, Ibu...?" Panggilnya tiada sabaran.
"Zahra!" Balas bu Zainab menyerunya seraya mempercepat langkah kaki menuju ke tempat Zahrana.
Bu Zainab memeluk erat tubuh Zahrana. Ia mencoba sebisa mungkin untuk menahan perasaannya melihat kondisi Zahrana saat itu, agar Zahrana tidak bersedih karenanya.
"Ibu kok tidak bilang-bilang mau datang? Zahra kan bisa siap-siap dulu. Sekarang Zahra belum masak, Bu... Apa Zahra minta tolong sama bang Ajis saja buat beli makanan di luar?" Tanya Zahrana berentetan. Raut wajahnya terlihat sungkan kepada ibunya sendiri.
"Tidak perlu, Nak... Kami baru saja sampai, dan kami sudah makan di jalan tadi. Kami sengaja tidak memberi tahumu tentang kedatangan kami, karena kami ingin memberi kejutan, Sayang..." Elak ibunya berusaha berkata senyaman mungkin di depan Zahrana. Padahal air matanya sudah menderas sejak dari tadi.
"Emmm... Kenapa Ibu pakai kasih kejutan segala? Kan Zahra jadi nggak enak, Bu..." Sungut Zahrana.
"Nggak apa-apa, Nak... Ini permintaan Ibu loh..." Timpal ibunya Ajis. Mertuanya itu langsung merangkulnya dan menciumi wajahnya berkali-kali.
"Ibu? Zahra kan jadi malu sama Ibu dan Ayah..." Sungut Zahrana.
"Kenapa mesti malu, Nak? Kami tahu bagaimana kamu sebenarnya kan, dari awal... Lagian kami maklum, kalian berdua pasti kelelahan." Tutur mertuanya sambil mengelus kedua pipi Zahrana dengan lembut.
"Kak Zahra!" Giliran Muslim yang mendekat. Ia menyalami tangan Zahrana dengan lama.
"Mus? Kamu nggak ngajar hari ini? Kok semuanya pada datang? Ada acara apa sebenarnya nih?" Tanya Zahrana terheran-heran.
"Jadi Kak Zahra tidak senang dengan kedatangan kami, hmm? Padahal Mus mau mengabarkan kalau Mus lulus seleksi adm. Tinggal ikut ujian saja lagi..." Rengut Muslim berlagak kecewa.
"Kamu lulus, Dek? Alhamdulillah... Selamat ya, Dek... Dan tetap semangat... Kak Zahra do'akan supaya ujian nanti kamu bisa lulus juga... Biar jadi PNS..." Ucap Zahrana begitu bahagia mendengar perkataan Muslim.
"Aamiin..." Mereka semua mengaminkan do'a Zahrana untuk Muslim.
"Zahra, Kakak juga sudah balik lagi ke rumah. Kemarin Mus udah bujuk Kakak sama ayah anak-anak... Dan Kakak mutusin untuk menyetujuinya. Besok barang-barang Kakak akan dibawa lagi ke rumah kita..." Giliran Rianur yang berkata.
"Beneran, Kak?" Tanya Zahrana tampak sangat senang mendengar pengakuan kakaknya itu.
"Iya, Kak Zahra... Mus sudah minta maaf, kan? Jadi nggak ada alasan lagi buat kak Rianur tinggal di desa seberang. Kumpul-kumpul di rumah lebih menyenangkan bukan, Kak? Benar kata Kak Zahra, kita nggak boleh terpecah belah oleh keadaan. Kita harus bersatu dalam menghadapi segala permasalahan." Timpal Hidayat membenarkan penuturan Rianur untuk meyakinkan Zahrana.
"Alhamdulillah, terima kasih yaa Allah..." Ucap Zahrana benar-benar berbahagia.
"Kak Zahra..." Maira yang sedari tadi menangis di samping ayahnya juga ikut mendekati Zahrana. Ia menyalami tangan Zahrana lalu memeluk kakak iparnya itu.
"Maira? Maira kok nangis begini?" Tanya Zahrana dengan khawatir. Ia merasakan getaran yang berasal dari tubuh adik iparnya itu.
__ADS_1
"Kak Zahra sedari tadi tidak melihat dimana Maira... Maira sedih, Kak... Kak Zahra cuekin Maira..." Sungut Maira beralasan.
"Maafin Kak Zahra, Maira... Kak Zahra baru saja bangun. Jadi, mata Kak Zahra mengabur gitu, Dek... Mungkin karena Kak Zahra terlalu keseringan main HP kali ya...?" Ucap Zahrana merasa bersalah. Ia mengucek kedua bola matanya dengan kasar.
"Sudah, Kak... Sudah..." Ucap Maira sembari menahan tangan Zahrana. "Jangan dikucek, nanti mata Kak Zahra malah semakin rusak..."
"Tapi lama kelamaan Kak Zahra kesal loh, Dek... Kak Zahra mau keluar dari kamar. Kak Zahra mau beres-beres. Kak Zahra juga mau masak. Masa sesekali keluarga Kak Zahra datang, Kak Zahra malah malas-malasan begini...?" Keluhnya.
"Nggak apa-apa, Nak... Ayah dan ayah mertuamu juga tidak ingin makan atau minum apa-apa. Kami baru saja singgah di warung lesehan sebelum sampai kesini." Ayah Zahrana juga ikut menimpali. Beliau sangat terpukul melihat kondisi Zahrana saat itu.
"Benar, Nak Zahra... Nak Zahra tidak perlu memikirkan apa-apa. Kata Ajis, Nak Zahra sangat kelelahan akhir-akhir ini. Sekarang Nak Zahra istirahatlah... Kami akan bersantai di luar." Ayah Ajis yang sedari tadi hanya menatap menantunya dengan iba, juga ikut menimpali.
"Boleh Zahra salam dulu sama Ayah?" Tanya Zahrana seraya mengulurkan tangannya kearah suara ayah dan ayah mertuanya terdengar.
Umayyah mengangguk sambil menyeka air matanya, lalu berjalan perlahan menghampiri Zahrana yang dikerumuni oleh kedua ibu dan saudara-saudaranya itu. Umayyah menyambut tangan Zahrana, dan Zahrana mengecup punggung tangan ayahnya itu.
"Sehat-sehat terus ya, Ayah... Zahra sayang Ayah..." Ucap Zahrana pelan.
Semua yang mendengar terisak karenanya.
"Pasti, Nak... Ayah akan selalu sehat..." Jawab Umayyah dengan bibir bergetar menahan tangis. Ia mengusap lembut kepala putrinya itu.
"Ini ayah mertuamu..." Ucap beliau seraya bergeser untuk membiarkan ayah Ajis mendekati Zahrana.
"Ayah... Bagaimana kabar Ayah?" Tanya Zahrana sambil tersenyum menghadapkan wajahnya kearah ayah mertuanya itu. Ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Alhamdulillah... Ayah juga harus selalu sehat ya, Yah..." Ucapnya.
"Iya, Nak... Kami semua akan selalu jaga kesehatan untuk kamu." Ucap ayah mertua Zahrana begitu lembut dan penuh perhatian. "Sekarang kamu istirahat ya... Kami tunggu di luar. Kami juga mau rehat sejenak."
Zahrana mengangguk.
"Zahra..." Suara suami Rianur baru mulai menyapa. Entah mengapa semua menjadi bisu untuk sejenak. Mereka sedari tadi tidak menyadari telah bergantian menyapa Zahrana.
"Bang Ed?" Sahut Zahrana yang mengenali suara kakak iparnya itu.
"Iya, ini bang Ed..."
"Kenapa, Bang?"
"Tidak... Bang Ed hanya menyapa. Heheh... Lucu ya? Bang Ed pun merasa ingin mengatakan sesuatu. Tapi ya sudahlah, Zahra... Hari ini Bang Ed hanya ingin mengakui kalau Bang Ed benar-benar belum mampu menjadi lelaki yang layak dalam keluarga, dan sebagai kepala keluarga dalam rumah tangga kami. Tapi Zahra tenang saja. Mulai hari ini, Bang Ed janji kalau Bang Ed akan menjadi suami dan menantu yang berguna... Zahra tidak perlu khawatirkan apa-apa lagi..." Tutur kakak iparnya itu panjang lebar. Suami Rianur tampak prihatin melihat kondisi Zahrana yang benar-benar terlihat menyedihkan.
"Terima kasih, Bang Ed... Zahra percaya semua akan baik-baik saja selepas ini."
"Iya... Kalau gitu Bang Ed keluar dulu ya... Bang Ed mau istirahat, capek semalaman nyetir mobil..." Pamit suami Rianur beralasan. Ia hanya tidak ingin ikut terlihat cengeng dalam suasana saat itu.
"Pakai mobil siapa memangnya, Bang?" Tanya Zahrana sebelum Edi benar-benar keluar.
__ADS_1
"Kami cater mobil, Zahra... Alhamdulillah muat semua..." Jawab Rianur mewakili suaminya.
"Owh... Anak-anak mana, Kak? Zahra kangen lagi sama mereka."
"Ibuuuu..." Faizah yang sedari tadi hanya diam di samping Rianur bersuara memanggil Zahrana.
"Faizah? Sini, sini, Sayang... Ibu kangen, Nak..." Panggil Zahrana sembari menepuk-nepuk pahanya agar Faizah mendekat ke dalam dekapannya.
Muslim yang berada disana segera mengangkat Faizah ke atas paha Zahrana.
"Yaa Allah... Ibu kangen sekali, Sayang..."Ucap Zahrana sambil memeluk erat Faizah.
"Faizah juga, Bu... Oh ya, Bu... Kata mama, kami akan pindah lagi ke rumah nenek... Ibu senang?" Tanya bocah itu sembari memainkan jemarinya di pipi Zahrana.
"Eh? Pasti dong, Sayang... Ibu senang sekali malah..." Jawab Zahrana sambil terus mengecup wajah Faizah.
"Dek Faiz mana, Nak? Kok Ibu sedari tadi tidak dengar suara dek Faiz?" Tanya Zahrana sambil mengedipkan matanya berulang-ulang kali kearah keluarganya.
"Ada sama Hidayat, Kak... Dia baru saja terbangun..." Hidayat yang menyahut dari sofa. Ia bangkit lalu berjalan kearah Zahrana sambil menggendong Faiz.
"Ibu atit?" Tanya bocah kecil itu.
"Eh? Tidak, Nak..." Jawab Zahrana cepat.
"Talau gitu tita pulang taghang, Nek... Ibu tudah cehat...Ibu udah tidak atit agi, Nek..." Ajak Faiz terdengar polos.
"Pulang kemana, Sayang? Kan Faiz baru sampai, masa minta pulang cepat?" Tanya Zahrana memasang raut cemberut.
"Tan Ibu bilang tudah tidak atit aji? Telus napain lama-lama dicini? Bau obat..." Celutuk Faiz tak kalah cemberut.
"Bau obat?" Dahi Zahrana berkerut seketika.
"Faiz asal bicara, Nak... Kami akan keluar..." Ucap Bu Zainab cepat. Ia memeluk Zahrana dengan erat lalu pergi sesegera mungkin sambil menggendong Faiz, dan semuanya mengikut meninggalkan Zahrana bersama Ajis. Hanya Hidayat yang masih mematung menatap iba kearah Zahrana.
.
.
.
.
.
Untuk eps berikutnya sabar ya teman2
Dan disarankan di eps berikutnya buat dengerin 'Hasbi Rabbi' yang dibawakan khai bahar. Biar lebih meresap di hati...
__ADS_1
Salam satu layar