
"Abang..." Panggil Zahrana.
"Iya, Adik..."Sahut Ajis.
"Zahra besok mau izin keluar, boleh?" Tanya Zahrana dengan bermanjaan kepada suaminya.
"Memangnya Adik mau kemana, hmm?"
"Zahra mau ngirimin buku tulis Zahra ke Arya, teman online Zahra itu loh..." Jawabnya jujur.
"Untuk apa?"
"Katanya, sepupunya pemilik penerbit buku dan majalah. Terus dia tawarin Zahra deh buat nerbitkan novel-novel Zahra. Boleh kan, Abang...?" Tanya Zahrana begitu polosnya.
"Jadi namanya Arya?" Tanya Ajis mulai memberi sedikit respon tidak enak.
"Iya, Abang... Katanya sih, dia itu artis terkenal. Dia Arya Irawan..."
"Terus, Adik percaya?" Tanya Ajis menatap Zahrana dengan tajam.
"Antara percaya atau nggak sih... Kan Zahra tidak pernah melihat wajahnya. Zahra kalau ngajarin dia cuma lewat chat dan telepon saja..."
"Kalau wajah Adik, dia udah pernah lihat?" Tanya Ajis semakin deteil.
__ADS_1
"Nggak pernah... Zahra nggak mau lah, Abang... Memangnya kenapa, Abang? Kok Abang nanya-nya begitu?" Zahrana mulai merasa tidak enak setiap kali ditanyai oleh suaminya itu.
"Tidak, hanya saja Abang sedikit cemburu mendengarnya..." Sahut Ajis terlihat jutek.
"Abang cemburu? Beneran?" Tanya Zahrana dengan wajah berbinar.
"Abang merengut loh..." Ucap Ajis ketus.
Alih-alih takut, Zahrana malah tertawa lepas sambil menggamit lengan suaminya itu.
"Cieee... Suami Zahrana Habibah Marwan cembuyuuu niiih..." Ledek Zahrana sambil memainkan dagu Ajis.
"Kok Adik malah ngeledek gitu?" Tanya Ajis masih dengan wajah seriusnya.
"Selama ini Abang tidak pernah ngucapin kata cinta pada Zahra, tapi kenapa sekarang Abang mau bilang kata cemburu? Gengsi bilang kata cinta, tapi nggak gengsi bilang kata cemburu. Padahal satu kata itu, sama-sama bermakna untuk orang yang sama. Dan sesungguhnya juga memiliki arti yang sama loh, Abang...Yaitu, Cinta!" Ungkap Zahrana sembari memeluk lengan Ajis semakin kuat.
"Terus? Kenapa Abang tidak pernah ngucapinnya? Betul kan, Abang gengsi?" Tanya Zahrana dengan mata mendelik.
"Apa dengan mengatakan cinta, itu sudah cukup bagi Adik? Sungguh, kata cemburu sudah bisa membuktikan bahwa Abang takut kehilangan Adik. Kata cinta sudah Abang buktikan dengan perlakuan Abang, bukan? Meski Abang belum bisa menyanggupi kebutuhan Adik sepenuhnya. Tapi luar biasanya, Adik selalu memberikan yang terbaik untuk Abang. Maka karena itulah Abang takut kehilangan Adik, dan perasaan itu yang Abang ungkapkan dengan kata cemburu. Adik tidak akan pernah meninggalkan Abang, meskipun hanya dengan perubahan sikap, bukan? Adik akan selalu bersama-sama dengan Abang walau apa pun keadaan kita, kan?" Ajis begitu berharap dengan jawaban Zahrana, bahwa dirinya adalah prioritas utama bagi istrinya itu.
Ajis, semenjak ia mengalami jatuh sedalam-dalamnya dengan ujian yang ia terima, hatinya selalu was-was dan takut. Lebih-lebih rasa takut itu jika istrinya mulai bosan dan berpikir akan meninggalkan dirinya.
Dia lelaki tiga puluh dua tahun yang begitu mencintai kekanak-kanakan istrinya, juga lelaki yang terkadang tidak memiliki keberanian jika membayangkan istri dewasanya suatu saat meninggalkan dirinya.
__ADS_1
Istrinya yang memiliki sifat berbeda, yang kedua-duanya ia sukai. Lucu, periang dan kekanak-kanakan ketika istrinya itu yang bermanja. Namun dewasa dan bijaksana; ketika dirinya sebagai kepala rumah tangga yang mengalami keterpurukan dan butuh dimanjakan.
"Apa Abang tidak percaya dengan Zahra? Bahwa hati Zahra seutuhnya milik Abang..." Zahrana benar-benar melihat ketakutan dari dalam mata suaminya, maka dari itu ia berusaha meyakinkan hati Ajis untuk tidak mengkhawatirkan hal itu.
"Maafkan Abang..." Ucap Ajis sendu.
"Besok, Zahra akan hubungi Arya lagi, dan membatalkan niat Zahra untuk mengirimkan buku novel itu..." Ucap Zahra.
"Jangan, Adik... Maafkan Abang... Abang sadar, Abang salah telah egois. Ini bukankah kesempatan bagi Adik untuk mewujudkan keinginan Adik menjadi penulis terkenal? Abang bahkan tidak mampu membawa Adik untuk menggapai mimpi Adik. Dan ketika mimpi Adik telah di depan mata, Abang tidak mau Adik melepasnya hanya gara-gara perasaan konyol di hati Abang ini..." Cegah Ajis.
"Zahra juga tidak ingin menggapainya tanpa ridho dan kerelaan suami Zahra. Pada dasarnya, Zahra sudah tidak membutuhkan apa-apa lagi selain Abang di sisi Zahra. Zahra tidak mau keinginan Zahra menjadi bala dalam rumah tangga kita. Tidak apa-apa bagi Zahra tidak menjadi penulis terkenal, Abang..."
"Tidak... Tidak... Abang ridha, Adik..." Potong Ajis cepat. Ia menarik kepala Zahrana ke dalam dekapannya, lalu menghujam pucuk kepala Zahrana dengan kecupannya yang banyak.
"Tapi..." Zahrana masih ingin protes.
"Abang minta maaf... Abang ingin menjadi pendamping yang selalu mensuport Adik. Abang tahu Adik bisa menjaga kepercayaan Abang..." Ajis sudah kembali yakin dengan kejujuran istrinya.
.
.
.
__ADS_1
.
.