
Ari meraih kedua tangan Zahrana, lalu menatap mata Gadis itu dengan tatapan tajam yang memelas penuh permohonan.
"Aku mau menikahimu, Zahra... Menjadi lah Istriku... Tolong jangan tolak aku, karna aku masih sama dengan Ari yang dulu, pemaksa dan sedikit egois..." pintanya benar-benar dengan nada paksaan.
Zahrana menarik tangannya dari genggaman Ari, lalu ia berjalan memunggungi lelaki itu. Mereka sama-sama telah dewasa, mampu merasakan sakit ketika perasaan mereka bertolak dengan kenyataan yang sebenarnya.
Ari tampak kecewa melihat reaksi Zahrana.
"Zahra..." Panggilnya lirih.
"Maaf, Ari... Kamu mungkin masih Aridiansyah yang sama, begitu juga dengan aku. Hanya saja, aku sudah sedikit berbeda sekarang... Aku tidak bisa menerima kamu..." Putus Zahrana. Ia berucap tanpa menoleh ke sosok lelaki itu, karena ada air mata yang ia sembunyikan di balik jawabannya yang menyakitkan.
"Tapi kenapa, Zahra? Apa yang kurang dari aku?" Tanya Ari begitu emosional mendengar penolakan Zahrana.
"Tidak ada yang kurang dari kamu, Ari... Kamu lelaki gagah dan sempurna, kamu Memiliki segalanya, kamu berasal dari keluarga kaya dan orang tua konglomerat..." Sambut Zahrana terdengar begitu pedas di telinga Ari.
"Zahra..." Panggil Ari memelas.
"Kata-kata yang pernah diucapkan Ibumu kala itu, benar, Ari... Aku tidak pantas, bahkan hanya untuk berteman dengan kamu..." Ketus Zahrana dengan suara melemah.
Ari menggeleng, air matanya berjatuhan seketika. "Aku tidak pernah menyadari sebelumnya bahwa aku secengeng ini, Zahra... Tapi penolakanmu membuat air mata yang aku pertahankan selama ini jatuh tanpa aba-aba. Apa Kamu pikir aku akan membiarkan rintangan menghalangi cintaku kepadamu, hah?" Ari berjalan cepat mengejar posisi Zahrana, lalu ia menarik lengan gadis itu hingga tubuh mereka saling berhadapan satu sama lain.
"Zahrana Habibah Marwan... Percayalah... Kamu cukup beri aku jawaban 'Iya', dan selebihnya serahkan kepadaku..." Tegas Ari begitu keras kepala.
__ADS_1
"Tdak, Ari... Masih ada Tuhan penentu segalanya. Jangan ulangi sekali lagi membentak ibumu seperti yang terakhir kali kamu lakukan, dan itu hanya demi aku. Aku tidak ingin menjadi perempuan penghalang surga untukmu. Ingat, Ari... Surga Dibawah Telapak Kaki Ibu..." Tutur Zahrana tidak lagi mampu menyembunyikan air matanya.
"Zahra... Tidak semua ibu tahu tentang kebenaran... Tidak semua ibu dapat mengerti kebahagiaan anaknya, dan salah satunya adalah Ibuku. Bahkan untuk aku saja, bagi ibuku lebih penting karirnya. Ibuku hanya mementingkan bisnis, karir, uang, glamor dan segala bentuk yang berazazkan kemewahan dunia." Papar Ari semakin menggebu.
"Tapi, Ari..."
"Zahra..." Potong Ari cepat. Ia sudah tidak lagi sanggup mendengar alasan Zahrana untuk menolak dirinya. "Aku butuh kamu... Selama ini aku hanya punya kamu, ayah dan ibu kamu, kakak dan adik-adik kamu. Hanya kalian keluargaku, Zahra... Tolong... Tolong jangan tolak aku. Aku tidak punya siapa-siapa... Sampai kapanpun, Ibuku tetap sama. Menelponku sekali sebulan hanya untuk memberitahukan uang belanja sudah dikirim, tidak lebih... Bahkan untuk menanyai kabar dariku... Aku ingin punya keluarga, Zahra... Dan keluarga ku hanyalah kalian, Zahra..." Ujar Ari semakin memelas. Wajahnya kian sendu menatap Zahrana.
Zahra terenyuh, memang tidak pernah sekalipun lelaki itu mengeluarkan air mata di hadapannya. Tapi untuk kali itu, Aridiansyah tampak begitu menyedihkan.
Lama, Zahrana masih belum menjawab. Aridiansyah pasrah, ia menjatuhkan lututnya di atas pasir pantai.
"Aku mencintai kamu, Zahra... Sungguh..." Ucapnya dalam tangisnya.
"Zahra..." Sebut Ari lirih. Ia memaksakan diri untuk berani menatap Zahrana, lalu perlahan bangkit atas tarikan lembut tangan Zahrana di bahunya itu.
"Apa setelah menikahiku, kamu tidak akan pernah menangis seperti ini lagi? Aku tidak suka..." Ucap Zahrana berlagak ketus seolah mengisyaratkan bahwa ia sudah menerima lelaki itu.
Ari tersenyum, lalu mengangguk cepat.
"Aku hanya akan bahagia bersamamu, Zahra..." Ujarnya.
"Apa aku juga akan kamu bahagiakan?" Tanya Zahrana lagi.
__ADS_1
"Aku janji, aku akan selalu membahagiakan kamu. Kita hanya akan bahagia sampai menua..." Jawab Ari berikrar. Ia bermaksud hendak memeluk Zahrana, namun dengan cepat Zahrana menahan dadanya dengan telapak tangannya.
"Kamu telah banyak menyentuhku, Ari... Untuk kali ini, tidak akan aku izinkan kamu memelukku lagi." Sungut Zahrana.
"Kenapa?" Tanya Ari kembali bingung.
"Halalkan aku dulu..." Tegas Zahrana.
"Owh... Baiklah... Akan aku segerakan. Sekarang kita ke rumahku..." Ajak Ari seraya menarik tangan Zahrana menjauhi pantai.
"Ari, tidakkah ini terlalu cepat?" Tanya Zahrana begitu terkejut dengan keputusan lelaki itu.
"Aku tidak mau menundanya lagi, Zahra... Aku sudah tidak sabar menyebut namamu dengan lengkap di depan penghulu..." Jawa Ari. Dia kemudian terkekeh.
.
.
.
.
.
__ADS_1