
Zahrana tidak mengerti mengapa suaminya sejak pulang belanja bisa menjadi lebih agresif. Tidak pernah sekalipun Zahrana merasa terbuai begitu jauh oleh kelakuan suaminya yang tiba-tiba nakal pada dua malam itu, bahkan semalam di rumah orang tuanya sendiri.
Beruntung hari itu mereka memang harus bangun lebih awal untuk bersiap berangkat ke rumah orang tua Ajis, karena travel akan menjemput mereka ke sana pukul tujuh.
Entah mengapa kali itu Zahrana merasa begitu berat berpisah dari keluarganya, seperti perpisahan mereka pertama kali setelah pernikahannya dengan Ajis.
Zahrana terlihat enggan melepas pelukannya dengan ayah dan ibunya. Bagai besi yang sangat sulit dilepas dari magnet. Ada kesedihan mendalam yang ia rasakan ketika menatap orang tuanya dan Muslim ketika ia berpamitan.
Faiz dan Faiza yang juga sudah terbangun memeluk dirinya begitu lama. Baru kali itu anak-anak menangis melepas dirinya pergi.
"Faiz dan Faiza sayang Ibu kah?" Tanya Zahrana berbisik kepada dua bocah itu.
"Sa-yang..." Angguk mereka dengan bibir mencibir menahan tangis. Jari telunjuk Faiz bergelayut di giginya sendiri. Tampak bocah itu benar-benar bersedih ketika melepasnya.
"Kalau sayang, jangan menangis begitu. Besok-besok Ibu akan pulang lagi. Kita akan ramai-ramai di rumah ini. Terus, bujuk mama sama papa kalian buat kembali tinggal di rumah ini, ya..." Tutur Zahrana menenangkan bocah itu. Dia melirik sebentar kearah Rianur yang tampak malu mendengar ucapannya.
Dua bocah itu mengangguk. Namun air mata mereka masih berderai saja.
Setelah berpamitan, mereka berempat kembali ke rumah orang tua Ajis. Mata Zahrana tidak lepas memandangi wajah Maira yang memerah menahan kesenangan diboncengi adik bungsunya itu.
Oh Maira... Seperti kak Zahra ketika sedang bersama bang Ajis saja kamu dek, jika lagi bersama Hidayat begitu...
Sesampainya mereka di rumah orang tua Ajis, mereka hanya mampir untuk berpamitan semata. Karena belum sempat mereka masuk, sudah terdengar suara klakson dari mobil gran max hitam di balik pagar rumah itu.
__ADS_1
Hal yang sama juga terjadi. Zahrana begitu sedih ketika berpamitan dengan mertua dan adik iparnya.
"Besok-besok Ibu dan Ayah main ke tempat kalian ya... Jadi Nak Zahra jangan menangis..." Bujuk ibu Ajis sambil menyeka air matanya dengan susah payah.
"Iya, Ibu... Besok kita pasti kumpul-kumpul lagi. Ada ayah dan Ibu, juga ada ayah dan ibu Zahra. Kita semua akan berkumpul bersama-sama. Janji jangan menangis ya, Bu..." Pinta Zahrana.
Ajis yang melihat istri dan ibunya begitu akrab satu sama lain, ikut menahan tangisnya. Kenapa begitu pilu? Batinnya.
"Bismillahirrahmanirrahim..." Ucap Zahrana ketika hendak menaiki mobil itu. Tubuhnya tiba-tiba bergetar, namun teredam seketika pada saat Ajis yang telah naik terlebih dahulu mengulurkan tangan kepadanya.
Hidayat duduk di depan sebelah sopir, sementara Ajis dan Zahrana duduk terpisah di belakang, karena kursi mobil itu dibuka pada bagian tengah dan belakang sebelah kanan mobil agar motor Hidayat dapat masuk.
Hari itu mereka kembali ke rumah mereka di kota, dan esoknya Hidayat juga akan mulai masuk kuliah. Maka karena itulah mereka memutuskan untuk tidak berlama-lama di kampung, apalagi langganan Ajis sudah banyak yang menelepon.
Tiga jam perjalanan sudah membuat mereka lelah. Zahrana tampak tertidur di posisinya. Sedangkan Ajis sudah mulai terkantuk-kantuk pula di belakang. Hanya gelak tawa Hidayat yang tengah asik mengobrol dengan sopir travel yang baru saja ia kenali.
Belum sempat tertidur, ledakan keras mengejutkan Ajis.
"Astaghfirullah hal 'Azhiiim..." Pekiknya begitu keras seraya bergegas bangkit dan mengalungkan tangannya ke leher Zahrana untuk menahan tubuh istrinya itu agar tidak terjerembab ke depan.
Mobil yang mereka tumpangi tiba-tiba tak terkendalikan. Sementara Zahrana yang terbangun akibat suara ledakan itu, malah menangis histeris penuh ketakutan.
*****
__ADS_1
Puluhan mobil terbakar di sepanjang jalan. Banyak korban luka-luka, bahkan ada yang tewas dan sulit dikenali.
Bermula dari sebuah truk volvo pengangkut kayu besar oleng ketika melewati tikungan yang menanjak. Kayu-kayu besar itu terlepas dari ikatannya dan mengenai mobil tangki pertamina yang berada tidak jauh dari belakangnya, sehingga mobil tangki pertamina itu pun terguling dan menumpahkan isinya di penjuru jalanan itu.
Semua panik. Ada yang berusaha melajukan mobilnya menjauhi tempat itu, dan ada pula yang keluar dari mobil mereka, karena mobil mereka yang terjepit dan susah untuk menjauh.
Entah darimana datangnya percikan api dan membuat ledakan besar, sehingga membakar puluhan mobil yang berderet disana, kanan dan kirinya.
Tak terdengar suara manusia sama sekali dikarenakan ledakan itu beruntun mengenai mobil mereka silih berganti. Meski mereka berusaha menyelamatkan diri, namun tidak semua dari mereka yang bisa keluar dari lingkaran tragedi yang memilukan itu.
Jerit tangis orang-orang yang selamat begitu heboh meratapi keluarga mereka yang terjebak dan menjadi mayat disana.
"Astaghfirullah.... Ya Allah... Mobil pemadam... Toloooong... Toloooong... Toloooong..." Tak lagi dapat di dengar ucapan dari manusia-manusia disana yang berlari ke sana kemari karena panik.
Sirine mobil juga ikut memekakkan telinga dan menambah pedih hati yang menyaksikan. Entah sirine mobil pemadam, mobil polisi, ataupun mobil ambulance. Semua sudah bersatu disana menurunkan bantuan tenaga dan medis kepada para korban. Bahkan tidak sedikit pula para reporter yang berdatangan untuk meliput berita di tempat kejadian.
Bumi berduka, entah berapa banyak kerugian yang dialami pada saat itu, namun yang jelas kepedihan hati para korban dan keluarga korban adalah kerugian terbesar yang dialami.
.
.
.
__ADS_1
.
.