
Usai shalat subuh, Zahrana, Ajis beserta kedua orang tua Ajis berkumpul di ruang tengah. Mereka berempat berbincang-bincang disana.
"Jadi kamu sampainya jam setengah tiga tadi, Jis?" Tanya ayah Ajis.
"Iya, Yah..."
"Lalu bagaimana dengan barang belanjaanmu?"
"Semingguan lagi baru sampai pakai ekspedisi..." Jawabnya.
Sementara Zahrana bersikap malu-malu di samping Ajis. Ia masih salah tingkah mengingat apa yang telah terjadi, apalagi ia tengah menyembunyikan rambutnya yang masih lembab di balik kerudungnya yang dalam.
"Kak Ajiiis?" Maira yang baru saja keluar dari kamarnya begitu gembira melihat adanya Ajis disana. Ia dengan setengah berlari menghampiri Ajis.
"Pantas saja Kak Zahra, Maira cari-cariin nggak ada. Rupanya kak Ajis pulang." Sungut Maira.
Zahrana semakin tersipu. "Maaf, Maira..."
"Jadi Kak Zahra sama Kak Ajis tidur dimana semalam?"
"Di kamar nenek. Bukannya kamar Kakak dihuni Hidayat?" Jawab Ajis.
"Owh iya... Tapi kamar nenek, kan sempit..."
Pintu kamar Ajis berderik, tampak Hidayat keluar dari sana dalam keadaan sudah rapi. Memang setiap kamar di rumah itu sudah ada kamar mandinya di dalam, kecuali kamar nenek.
"Hey, Yat..." Sapa Ajis.
Semuanya ikut menoleh, dan Maira yang mulai terlihat malu-malu juga melirik kearah adik bungsu Zahrana.
"Ini benaran Bang Ajis, kan?" Tanya Hidayat berlagak tak percaya.
"Iya lah, kamu pikir hantu?" Sahut Ajis berlagak kesal. Semua terkekeh karenanya.
"Maira, buatkan Hidayat minum, Nak..." Perintah ibu Ajis kepada Maira, dan dengan senang hati gadis itu berlenggok ke dapur.
"Nanti menjelang siang, kami balik ke rumah ayah dan ibu dik Zahra ya, Yah, Bu... Sekalian mau mampir ke rumah Ihsan." Ucap Ajis.
__ADS_1
"Iya, sebaiknya begitu, Jis... Kamu harus mampir kesana." Jawab ibunya.
"Iya, Bu... Kan Bang Ajis sekalian juga buat jemput Tengku..." Timpal Hidayat tanpa rasa dosa.
"Apaan sih, Yat? Siapa yang mau jemput Tengku?" Bantah Ajis berlagak marah.
"Siapa Tengku?" Tanya ayah dan ibu Ajis seraya menatap mereka kebingungan.
"Kucing kesayangan bang Mus di kampung, Bu..." Jawab Hidayat mengulum senyum, menahan gelaknya yang hampir berderai seketika itu juga.
"Jadi kalian mau bawa kucing?" Ibu sampai keheranan akan suasana panas saat itu.
"Nggak, Bu... Hidayat asal bicara saja. Mana bisa kami bawa Tengku, sementara Mus dan Tengku itu nggak bisa dipisah kok, Bu..." Imbuh Zahrana menengahi.
Ajis melototkan matanya kearah Hidayat. Ia tidak menyangka saja bahwa adik iparnya itu masih mengingat tantangan yang mereka buat pada malam sebelum ia berangkat.
Ketika suasana sudah mulai mencair, Maira datang dengan membawa segelas air teh panas untuk Hidayat. Gadis itu tampak tebar pesona di depan pujaannya.
"Kakak pakai motor kamu ya, Dek?" Ucap Ajis kepada Maira yang sudah duduk dan bergabung dengan mereka di ruangan itu.
"Ke rumah orang tua kak Zahra..."
"Owhhh... Iya, boleh... Tapi Maira ikut ya?"
"Bareng Hidayat mau?" Tanya Ajis yang tak tahu apa-apa.
Maira menoleh kearah Hidayat dengan malu-malu, namun sebelumnya Zahrana sudah melirik adiknya itu terlebih dahulu agar mau membawa Maira bersama dirinya.
"Boleh-kah, Bang?" Tanya Maira gugup.
"Hemmm, boleh..." Jawab Hidayat sambil memaksakan senyumnya. Ia sungguh merasa keberatan saat itu, karena sama saja secara tidak langsung ia memberi harapan pada Maira.
Sementara di dalam hati Maira begitu kegirangan. Ia bagai memperoleh kesempatan yang selama itu ia tunggu-tunggu.
*****
Sebelum berangkat, mereka berdua memutuskan untuk tidur sekejap di kamar almarhum nenek Ajis yang tadinya sudah sempat mereka huni. Mata Zahrana yang tidak tertidur sepejam pun dari semalam butuh rehat juga.
__ADS_1
Mereka tidur saling berhadapan satu sama lain di atas dipan itu.
"Abang, Zahra boleh meminta sesuatu kepada Abang?" Tanya Zahrana yang masih belum juga mampu tertidur hingga saat itu.
"Adik memangnya mau minta apa, hmmm?" Tanya Ajis pula sambil mengelus lembut pipi Zahrana.
"Jalan-jalan ke pantai..." Jawab Zahrana memanja.
"Jalan-jalan ke pantai? cuma itu?" Ajis begitu heran akan permintaan istrinya yang simpel dan terkesan biasa.
Zahrana mengangguk sembari tersenyum dengan wajah penuh harap.
"Adik, kan sering ke pantai? Kemarin telepon Abang juga buat izin ke pantai, kan? Kenapa malah minta ke pantai lagi? Adik padahal bisa loh, meminta selain dari itu. Misalnya jalan-jalan ke Monas, ke Bali... Pokoknya yang jauh lebih mengasyikkan. Insya Allah lepas kesibukan Abang nanti, Abang bakal turuti." Ujar Ajis.
"Zahra tidak mau yang lain, Abang... Zahra memang sering ke pantai. Tapi sambil bergandengan tangan, bercerita dan berlarian bersama Abang, kan Zahra belum pernah..." Rungut Zahrana. Ia semakin memelas agar suaminya itu bersedia mengabulkan permintaannya.
"Ya sudah... Nanti sampai di kampung Adik, sepulang dari rumah Ihsan, kita mampir ke pantai." Ujar Ajis mengalah.
"Benar, Abang? Abang beneran mau?" Zahrana bangkit dari baringnya karena saking bahagianya ia setelah mendengar persetujuan suaminya itu.
"Iya, iya... Ayo tidur lagi... Nanti kepala Adik sakit kalau nggak tidur-tidur." Perintah Ajis seraya menarik lembut tangan Zahrana agar kembali berebah di atas kasur.
Zahrana menurut, ia berbaring menelentang lalu meletakkan tangan suaminya itu ke atas perutnya.
"Tolong usapin perut Zahra, Abang... Biar Zahra bisa tertidur." Pintanya lirih seraya memejamkan matanya yang memang cukup berat saat itu.
Ajis malah bangkit sedikit untuk mengecup dahi Zahrana, kemudian barulah ia mengelus perut istrinya dengan pelan-pelan hingga mereka sama-sama tertidur.
.
.
.
.
.
__ADS_1