
Aridiansyah.
Pemuda itu pulang dengan langkah tergesa-gesa, bentuk luapan amarahnya setelah menerima penolakan dari Zahrana tadi. Wajahnya tampak begitu kusut dengan mata memerah.
Sesampai di rumah, ia menemukan ayahnya sedang berdiri menunggu kedatangannya di pelataran rumah.
Seperti orang tak mengenali, ia menyelonong masuk tanpa menyapa, bahkan hanya untuk sekadar menoleh.
"Darimana kamu, Nak?" Tanya lelaki paruh baya itu mengalah.
"Tumben Ayah bertanya? Biasanya Ayah tidak pernah peduli..." Ketus Ari.
"Ibumu merindukanmu..." Ucap Ayahnya lirih.
"Hah?" Ari tertawa kecil. Memperlihatkan wajah mengejek yang sulit percaya akan ucapan ayahnya itu. "Apa Ari tidak salah dengar? Dan tumben, Ayah sama Ibu ada di rumah. Biasanya hari-hari begini tidak dapat pulang, kan?"
"Cobalah untuk memahami ibumu, Nak... Begitu besar perjuangan ibumu untuk keluarga kita selama ini." Pinta ayahnya dengan wajah memelas seolah memohon ingin berdamai dengan darah dagingnya itu.
"Perjuangan semacam apa yang ayah maksudkan?" Bantah Ari. Amarahnya semakin membesar di dalam dadanya. "Seorang anak tidak terlalu dekat dengan ayahnya, namun begitu rapat dengan ibunya. Pada umumnya wajar seperti itu kan, Yah? Tapi aku tidak begitu, bahkan hanya untuk sebaliknya. Aku bagai tidak punya orang tua selama ini..." Tegas Ari.
Ayahnya terdiam. Tatapan mata paruh baya itu terlihat murka mendengar ucapan Ari yang begitu tajam, serasa bagai belati mencabik jantung hatinya.
"Kenapa, Yah? Ayah mau tampar Ari lagi? Tampar, Yah... Ari bahkan sudah tidak lagi punya harga diri di mata ayah dan ibu semenjak terakhir kali di rumah Zahrana." Ketusnya hendak berlalu meninggalkan ayahnya dengan amarah yang meletup-letup hingga ke ubun-ubunnya.
"Kamu tidak dapat menikahi gadis pilihan hatimu, bukanlah kesalahan ibumu, Ari..."
Langkah Ari terhenti. Ia kembali menghadap ke ayahnya. "Iya, memang... Tapi jika kenyataannya berbeda, Ari tetap saja tidak dapat menikahi Zahrana. Ibu dan ayah hanya memikirkan status... Sementara Zahrana hanyalah seorang gadis biasa, bersekolah rendah, juga putri dari seorang pengasuh..." Kecam Ari masih dengan egonya.
"Tidak begitu, Nak... Kasihan ibumu jika ia mendengar ucapanmu..."
__ADS_1
"Apa ibu akan peduli? Bukankah selama ini ibu hanya peduli dengan sekolah Ari, masa depan Ari yang benar menurut Ayah dan Ibu, tanpa mengerti Ari bersedia atau tidak menjadi seperti apa yang Ayah dan ibu pilihkan?"
"Yang salah Ayah, Nak... Jangan hukum ibumu..." Ucap ayah Ari, dan pada akhirnya membuat ia terenyuh lalu bergeming.
"Ayah yang tidak berguna..." Lanjut ayahnya. "Ayah yang membuat ibumu harus turun tangan, banting tulang untuk menyelamatkan status kami dalam berumah tangga.
Ibumu tidak salah... Ibumu sangat menyayangi kamu, Nak... Tapi ketidakberdayaannya terhadap kondisi dan situasi, membuat ia terluka karena cemburu, kamu lebih memilih bu Zainab ketimbang dirinya sebagai ibu yang telah mati-matian melahirkan kamu."
"Tidak-kah menurut Ayah yang salah Ayah dan ibu sebagai orang tua? Karena telah dengan seenaknya menitipkan aku kepada orang lain." Protes Ari masih tidak terima kilah ayahnya.
"Kami terpaksa, Nak..." Lirih ayah Ari seraya mengambil posisi duduk.
Ari melirik ayahnya, menunggu sebuah penjelasan.
"Dulu Ayah bekerja di sebuah perusahaan swasta besar. Sementara ibumu yang juga merupakan perempuan karier di masa mudanya, harus berhenti bekerja setelah kami menikah karena memenuhi permintaan Ayah. Gaji Ayah yang besar membuat ibumu menerima permintaan Ayah dengan senang hati.
Ibumu begitu syok mendengar hal itu, namun dia sangat menyayangi Ayah. Dia memilih bekerja dan menekan kontrak kerja selama sepuluh tahun di perusahaan tempat ia bekerja selama ini.
Baru dua minggu bekerja, ibumu baru menyadari kalau ia sedang hamil kamu. Hal mustahil jika ia mundur dari pekerjaannya. Selama mengandung kamu, ibumu tetap bekerja dengan keras untuk memenuhi kontrak dan perjanjiannya di perusahaan tempat ia bekerja itu.
Ibumu kurang istirahat dan kelelahan, ia kekurangan banyak darah ketika hendak melahirkan kamu. Tapi dalam pikirannya, ia hanya ingin melahirkan kamu dengan selamat. Karena kamu bayi pertama kami yang sangat kami nantikan, nak... Ibumu tidak peduli jika dia harus kehilangan nyawanya untuk itu."
Aridiansyah tersentak. Air mata penyesalan bergulir membasahi pipinya.
"Sebulan ibumu koma setelah melahirkan kamu, dan setelah sadar, ia hanya diberi waktu cuti selama seminggu oleh perusahaan. Dengan terpaksa dan berat hati, kami menitipkanmu kepada bu Zainab.
Sungguh malang ibumu, Nak... Ketika ia dapat pulang, ia langsung mendatangimu. Niat hati untuk melepas kerinduannya, tapi kamu malah menangis ketika ibumu menggendongmu. Dan kamu hanya mau diam jika bu Zainab yang menggendongmu.
Ibumu cemburu... Bahkan rasa cemburunya, membuat ia murka dan marah-marah kepada Ayah untuk pertama kalinya. Ia mengeluarkan kekesalannya dan menyalahkan Ayah sebagai penyebab itu semua terjadi.
__ADS_1
Usiamu dua tahun, ibumu mengambil paksa kamu dari bu Zainab yang juga sudah menyayangimu seperti anaknya sendiri. Dua hati ibu bersedih hanya karenamu. Tangisan bu Zainab melepasmu, juga derai air mata ibumu membawamu yang menangis keras dan sangat sulit dihentikan.
Ibumu berusaha menjadi seorang ibu yang berguna hingga kamu berusia lima tahun. Lalu kami menyekolahkan kamu, tapi tetap saja hatimu terpaut kepada keluarga bu Zainab.
Ibumu tidak pernah memandang status dalam bergaul, Nak... Hanya saja, rasa cemburunya yang membuat ia melarang kamu bergaul dengan mereka.
Tapi kamu sadar, kan? Kamu lebih keras dari ibumu, sehingga ia pasrah membiarkanmu tetap bergaul dengan mereka.
Sepuluh tahun berlalu, tapi tetap saja tidak mampu menebus denda itu walau Ayah juga sudah membantu, sehingga kontrak ibumu diperpanjang sepuluh tahun lagi. Dua puluh tahun pengorbanan ibumu demi keluarga kita, nak...
Kontrak berakhir, denda pun terbayar. Tapi ibumu tetap mengambil pekerjaan itu, karena memikirkan masa depanmu. Ibumu tidak ingin kamu susah seperti dirinya, dan agar kamu bisa bertanggung jawab untuk sebuah keluarga yang akan kamu bina kelak." Papar ayah Ari panjang lebar. Tampak raut lelah di wajahnya yang mulai senja.
"Sebegitu beratkah pengorbanan ibu?" Ucap Ari mulai luluh dan terenyuh mendengar cerita ayahnya tentang sosok ibunya yang selama itu tidak pernah ia kenali kenyataannya.
"Tidak, Nak... Tidak berat bagi ibumu melakukan itu semua, kecuali menanggung kerinduan terhadapmu. Merasakan kamu menganggapnya ibu. Mendengarkan cerita-ceritamu, dan melihat senyum-mu untuknya." Jawab ayahnya mulai berurai air mata.
"Oh ibu..." Rintih Ari tersadar akan kekeliruannya selama itu.
"Ibumu masih menunggumu, Nak... Temuilah ia..." Suruh Ayahnya berharap.
.
.
.
.
.
__ADS_1