SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
MALAM DUKA


__ADS_3

Sudah lewat pukul sepuluh usai acara ta'ziah malam pertama, Ajis langsung memasuki kamarnya. Tiada tempat baginya selain di kamar untuk meluahkan kesedihan dan perasaan rindu di dalam hatinya.


Ia masih belum menyangka Zahrana meninggalkan dirinya dengan begitu cepat. Dan lebih menyakitkan lagi baginya, kepergian istrinya itu terjadi setelah kata-kata kemarahan sempat keluar dari mulutnya.


Ajis paling berduka pada saat itu. Usai pemakaman saja tadinya, ia masih terus bergeming menatap pusara yang basah tempat Zahrana disemayamkan.


Jika bukan bu Zainab yang berusaha keras membujuknya, mungkin malam itu ia masih akan berada di samping pusara Zahrana.


Ajis melangkah masuk ke dalam kamarnya sendiri, seperti orang yang sedang mengendap-endap.


"Assalamu'alaikum bidadari Abang..." Ucapnya dengan tersenyum namun pipinya masih basah oleh simbahan air mata yang belum juga kunjung mengering.


"Abang yakin Sayang masih berada di kamar kita ini. Sayang tidak akan benar-benar meninggalkan Abang, kan? Iya kan, Sayang...?" Ucapnya sendiri sambil mengitari pandangan ke semua sudut kamar.


Tiba-tiba pandangan Ajis tertumpu pada onggokan mukenah yang dipakai Zahrana sebelum pergi meninggalkan kamar itu siang kemarin. Mukenah yang belum sempat dirapikan Zahrana setelah dipakainya untuk shalat zuhur terakhirnya.


Ajis perlahan mendekat kesana. Ia bersimpuh sambil mendekap mukenah istrinya itu dengan erat. Ia mulai menangis lagi sejadi-jadinya.


"Yaa Allah, hamba menyesal... Hamba benar-benar menyesal, Yaa Allah... Tolong beri hamba kesempatan untuk menebus kesalahan hamba... Hamba telah berdosa dengan menyakiti perasaan istri hamba terakhir kalinya ia bernapas di rumah ini, Yaa Allah..." Raung Ajis sejadi-jadinya.


Ia perlahan berbaring di atas sajadah lalu entah kapan mulai tertidur disana. Rasa kantuk dan lelah membuat ia bergeruh dalam tidurnya.


Kensunyian malam membuat tidur Ajis semakin nyenyak. Namun tiba-tiba telinganya sayup-sayup mendengar lantunan shalawat. Air matanya meleleh dalam tidurnya. Ia sedikit terganggu akan suara itu.


Semakin lama suara itu semakin nyata, sehingga ia berbisik memanggil Zahrana dalam mata yang masih terpejam.


"Adik... Adik..." Panggilnya seperti sedang mengingau.


Maira yang malam itu tidak sengaja melintasi kamar kakaknya pun ikut mendengar. Ia merapatkan telinganya ke daun pintu dan berusaha mencuri dengar.

__ADS_1


Hati Maira masih terasa perih atas kepergian Zahrana, namun semakin perih ketika menyaksikan bagaimana kepedihan kakaknya.


Ia menarik gagang pintu kamar itu pelan-pelan. Maira terpana seketika. Hatinya begitu remuk melihat Ajis terduduk sambil mendekap erat-erat mukenah kakak iparnya. Ia melihat bahu Ajis bergetar karena deru napas yang tidak karuan.


Maira menahan isak tangisnya dengan membekap mulutnya sendiri. Ia tidak berani menghampiri, namun tidak pula tega meninggalkan kakaknya itu sendiri.


Ajis mengitari ruangan untuk mencari sumber suara. Ketika ia hendak menghampiri nakas di samping tempat tidurnya, kakinya terasa menginjak sesuatu. Ia menghentikan langkahnya lalu menurunkan pandangannya.


"Apa ini?" Tanyanya bergumam sendiri. Ia sampai lupa tujuan awalnya, karena suara itu tiba-tiba berhenti. Ia memungut sebuah pil yang diinjaknya tadi, tapi alangkah terkejutnya ia karena pil itu tidaklah satu, melainkan sangat banyak berserakan di atas lantai.


Tidak jauh dari posisinya, matanya menampaki sebuah botol kecil. Ia dengan cepat mengambil botol itu, dan di dalam botol itu juga terdapat beberapa pil yang sama.


Ajis menajamkan penglihatannya untuk membaca tulisan di permukaan botol itu. Hanya obat untuk peredakan nyeri pada lambung, tetapi tidak dapat membantu memberikan kesembuhan kepada penderitanya.


Ia menghempaskan punggungnya ke tepi tempat tidur. Ia terduduk lemah disana, lalu tiba-tiba tersedu kuat. Ia seperti orang pesakitan setelah mengetahui fungsi obat itu.


"Sebegitu sakitnya, Sayang? Sampai Sayang harus menggunakan obat ini untuk peredam sakit itu?" Bisik Ajis. Ia kembali terkenang ketika Zahrana meminta dirinya untuk mengelus perut istrinya itu.


Shalawat yang sempat ia lupakan tadi kembali terdengar. Ia tercengang. Suara itu semakin dekat dengan telinganya. Ya, suara itu berasal dari atas nakas samping tempat tidurnya.


"Adik? Sayang..." Panggilnya begitu bersemangat. Ia bangkit dan mengarahkan pandangannya kearah suara itu berasal.


Ajis kembali terdiam. Wajahnya yang bersemangat berubah muram. Ia hanya menemukan ponsel istrinya di atas nakas samping tempat tidurnya itu.


Tangan Ajis bergetar hendak merogoh ponsel Zahrana. Rupanya suara shalawat itu terdengar dari ponsel milik istrinya.


Ia hapal betul bahwa itu suara istrinya. Ia masih mengingat dengan jelas bahwa shalawat itu diambil Zahrana ketika mereka usai berdebat membicarakan mengenai pil yang diminum Ajis beberapa malam lalu. Dan ternyata Zahrana merekam suaranya sendiri lalu menjadikannya sebagai nada alarm pada pukuk setengah tiga dini hari.


"Kenapa, Adik? Kenapa Adik meninggalkan Abang dengan begitu cepat? Abang tidak sanggup, Sayang..." Rintih Ajis sembari mendekapkan ponsel mendiang istrinya itu ke dadanya.

__ADS_1


Di luar, Maira terus memerhatikan gerak-gerik Ajis. Ia begitu terharu melihat cinta kakaknya itu kepada kakak iparnya, dan itu terlihat jelas ketika kakak iparnya telah tiada.


"Apa yang terjadi, Maira?" Hidayat tiba-tiba datang mengejutkan dirinya.


"B-bang Hidayat?" Maira terkejut. Ia mengusap kasar pipinya yang basah.


"Kamu lagi ngapain? Kenapa menangis, hmm?" Tanya Hidayat sedikit berbisik.


Maira menutup kembali pintu kamar Ajis dengan pelan-pelan. Ia berbalik menghadap kearah Hidayat.


"Maira... Maira sedih, Bang... Maira tidak pernah sesedih ini sebelumnya..." Ungkapnya sambil menyeka air mata yang terus saja mengalir.


"Maira sedih kak Zahra pergi, tapi lebih menyedihkan lagi ketika melihat kak Ajis begitu terluka atas kepergian kak Zahra, Bang... Maira tidak pernah melihat kakak Maira menangis sesenggukan begitu... Maira masih ingat betul betapa bahagianya Kak Ajis waktu lamarannya diterima kak Zahra... Dan sekarang... Sekarang..." Maira tidak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya. Ia sesenggukan.


Hidayat menggamit bahu Maira. Ia sedikit mengusapnya untuk memberikan sedikit ketenangan untuk adik dari kakak iparnya itu.


"Sudah Maira... Ini semua pasti berlalu... Lambat laun, bang Ajis pasti bisa melewati masa kesedihan ini." Bujuk Hidayat.


Maira mengangguk. Ia kembali menyeka air matanya.


"Sekarang kembalilah tidur... Kalau sesak, tidur di ruang tengah saja. Biar Abang bentangkan kasur santai disana." Ucap Hidayat. Ia begitu lembut, karena ia tahu bukan saatnya untuk mengedepankan ego dalam suasana duka seperti itu.


Maira mengangguk lalu berjalan mendahului Hidayat ke ruang tengah, tempat beberapa keluarganya tertidur disana.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2