
"Zahrana...!!"
Zahrana, perempuan itu masih gadis kala itu. Mendengar seseorang menyeru namanya dari kejauhan, ia segera menoleh dengan cepat. Suara yang tak asing di telinganya, membuat dia tampak bersemangat seketika.
"Aridiansyah...?" Gumamnya dengan tersenyum lebar menatap kedatangan pria itu ke arahnya.
"Kamu memang tidak pernah berubah ya, Zahra. Jika tidak ada di rumah, selalu saja di pantai..." Ucap pria itu meledeknya.
"Ari... Kapan kamu pulang?" Zahrana mengindahkan guyonan lelaki itu. Dia malah menanyai balik sembari menatap lekat wajah pria asing di hadapannya.
"Baru saja... Setelah melepas kerinduan dengan ayah dan ibuku, aku langsung mendatangi rumahmu. Tapi kata ibumu, kamu tidak di rumah..." Keluh lelaki yang dipanggilinya dengan sebutan Ari.
"Jadi kamu tadi sudah ke rumahku?" Ulang Zahrana.
"Sudah..." Angguk Ari dengan bibir memanyun. "Paling menyebalkan jika bertemu Ibumu..." Celetuk Ari membuat Zahrana heran dengan dahi tampak mengerinyit tipis.
"Kenapa begitu? Memangnya Ibu aku apain kamu, hah?" Ketus Zahrana berubah kesal mendengar ibunya dikatai menyebalkan.
"Ibumu dari kita kecil, selalu saja memperlakukanku seperti anaknya sendiri..." Cengir Ari cengengesan.
"Ya, baguslah... Berarti kamu punya dua ibu sekaligus. Harusnya kamu bersyukur, bukannya malah tak menyukai Ibuku seperti itu..." Sembur Zahrana masih terlihat kesal.
__ADS_1
"Tapi, kan aku mau meminang anaknya..." Lirih Ari dengan suara pelan nyaris tak terdengar. Lelaki itu tampak serius dengan ucapannya.
"A-apa? Kamu bilang apa tadi?" Tanya Zahrana dengan wajah penuh keterkejutan. Dia tidak menyangka lelaki itu akan melamarnya dengan tiba-tiba seperti itu.
*****
Aridiansyah, dia adalah teman lelaki Zahrana dari kecil. Mereka selalu bersama hampir di setiap saat. berangkat ke sekolah bersama, main bersama dan hampir setiap harinya waktu mereka habiskan secara bersama-sama.
Lelaki itu bahkan sampai berangan-angan untuk menikahi Zahrana pada suatu hari nantinya. Karena dia tidak ingin berpisah dari gadis periang yang telah menemani hari-harinya selama itu.
Ketika lulus dari SMA, Zahrana tidak mampu melanjutkan sekolahnya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Orang tua Zahrana tidak memiliki kecukupan dalam ekonomi, apalagi kakaknya saat itu juga dalam masa kuliah.
"Maafkan Ayah, Zahra... Ayah memang Ayah yang tidak berguna." ucapan Umayyah seperti itu saja sudah membuat Zahrana menyerah kalah. Matanya berembun memandangi lantai yang dipijaki kakinya saat itu. Cepat-cepat Zahrana mengedipkan matanya berulang kali, agar cairan bening di matanya tidak tumpah. Dia takut kedua orang tuanya akan merasa sedih dan bersalah melihat air matanya itu.
Sebelumnya, dia bahkan sudah mendaftar ke beberapa universitas dengan harapan dapat beasiswa, namun tidak satupun iya lulus. Zahrana sebenarnya termasuk siswi yang berprestasi di sekolahnya. Ia mendapat peringkat ke-dua sekalinya di kelas sepuluh, dan kemudian naik pada peringkat pertama hingga ia tamat. Hanya saja, beasiswa yang dia harapkan memang tidak untuk dirinya.
Zahrana benar-benar menyerah kala itu. Tapi dia tetaplah Zahrana. Gadis baik yang tidak ingin membebani orang tua dan saudara-saudaranya, yang siap mengalah dan berkorban demi kebahagiaan keluarganya.
Zahrana berusaha tersenyum, ia menyembunyikan kesedihannya dari kedua orang tuanya itu.
"Tidak apa-apa kok, Yah, Bu... Zahra juga tidak terlalu berminat untuk kuliah. Kan, Ibu tahu sendiri Zahra tidak punya impian apa-apa. Apalah perempuan, Bu...? Sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya ke dapur juga..." Ujarnya sambil menampakan tawa yang dibuat-buat nya.
__ADS_1
"Kamu tidak marah, Nak? Kamu tidak kecewa sama Ibu dan Ayah?" Tanya Zainab dengan wajah tampak iba menatap putrinya.
"Ibu dan Ayah tidak usah mikir yang macam-macam... Sebaiknya dari sekarang, kita mulai menabung untuk biaya sekolah Muslim dan Hidayat. Mereka tidak boleh putus sekolah, Yah, Bu... Mereka kalau bisa kita usahakan untuk sekolah tinggi-tinggi. Mereka bakal jadi imam nantinya..." Tutur Zahrana dengan berjiwa besar. Hatinya juga membenarkan ucapannya, meski ia sendiri sebenarnya juga berusaha keras menahan keinginannya untuk dapat melanjutkan sekolahnya lagi.
"Terima kasih ya, Nak... Ayah bangga sama kamu. Ayah selalu berdoa untuk kebaikan kamu..." Ucap Umayyah lirih. Mata lelaki paruh baya itu tampak menelaga oleh cairan bening yang keluar dari dalamnya.
"Ayah tidak perlu berterima kasih kepada Zahra..." Sahut Zahrana memaksakan senyumannya. "Oh ya, Yah... Zahra mau main ke pantai boleh? Sudah lama sekali Zahra tidak ke sana..." Zahrana menatap Ayahnya dengan tatapan harap, meminta izin kepada kedua orang tuanya itu. Dadanya sudah bergemuruh hebat menahan sesak kesedihan dan keputusasaan.
"Ya sudah, tapi kamu hati-hati ya... Kalau mau, ajak saja muslim dan Hidayat untuk ikut." Sahut Zainab, ibunya.
"Tidak usah, Bu... Zahra sendiri saja, takut Keburu sore. Mereka, kan belum pulang dari gembala..." Elak Zahrana.
.
.
.
.
.
__ADS_1