
Ya Allah...
Betapa hina nya diriku di masa lalu...
Jika meminta Engkau untuk membalikkan waktu adalah sebuah kemustahilan, maka meminta ampun kepada-Mu lah cara satu-satunya bagiku untuk menghapus dosa-dosa itu, Ya Allah...
Sungguh, aku baru menyadari perasaan malu ini... Ampuni aku Ya Allah... Aku salah... Aku berdosa...
Zahrana terisak-isak mengenang masa lalu yang ia sesali pernah terjadi dalam hidupnya. Dia merasa berdosa telah mengkhianati Ajis, jodoh dirinya yang sesungguhnya. Rasa sakit kembali menggerayangi perutnya yang seakan hendak mencabik seluruh isi perutnya itu, ketika pikiran berkecamuk membuat ia merasa menyesal seumur hidupnya.
Semua mata tertuju pada Zahrana. Perempuan itu membuat semua orang melihatnya terheran-heran. Wajar saja, semua orang memang menangis di sana, namun tidak larut seperti tangisan dirinya.
Arya yang baru saja menyelesaikan syuting part terakhir, juga tersedu-sedu tanpa dibuat-buatnya. Scene yang ia lakoni saat itu membuat ia hanyut terbawa perasaan.
"Ah, sial..." Umpatnya sembari terus mengusap kasar wajahnya. Ia seolah malu menatap siapa pun karena sikapnya yang tiba-tiba menjadi cengeng saat itu. Namun ia terpana ketika dengan sengaja hendak menoleh kepada Zahrana. Perempuan yang telah merebut hatinya itu tampak tersedu-sedu karena menyaksikan syuting part terakhir.
"Dia yang menulis cerita, dia pula yang menangis..." Dengus Arya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Di belakang Zahrana, tampak Hidayat sedang mengikutinya. Zahrana terus berlari sampai ke toilet sambil memegangi perutnya yang kembali terasa sakit sejak ia mulai melihat adegan terakhir yang dilakoni Arya bersama aktris yang sebagai Habibah nya.
Hidayat berhenti di depan toilet khusus wanita yang dimasuki Zahrana tadi. Ada rasa cemas tergambar di wajahnya kepada sang kakak.
"Kasihan kak Zahra... Pasti kak Zahra kepikiran lagi soal bang Ari..." Gumam Hidayat yang sebenarnya tidak mengetahui kondisi kakaknya itu.
"Hai, Yat..." Sapa Arya yang ikut mengejar Zahrana.
"Eh, Bang Arya..." Sahut Hidayat gelagapan.
"Apa semua baik-baik saja?" Tanya Arya juga ikut mengkhawatirkan Zahrana.
"Em... Oh, iya, Bang... Semua baik-baik saja... Kak Zahra memang begitu orangnya. Baperan..." Cengir Hidayat dengan dibuat-buatnya. Dia sudah terlanjur berjanji kepada kakaknya itu waktu pertama kali ia menemani ke lokasi syuting sebulanan yang lalu, untuk tidak menceritakan apa pun kepada Arya tentang masa lalu kakaknya.
"Oh, begitu..." Arya mangut-mangut setelah mendengar penjelasan Hidayat.
"Iya, Bang..."
"Tapi kenapa kakak Lo terlihat pucat sekali tadi, Yat?" Tanya Arya lagi tanpa mengurangi rasa cemasnya kepada Zahrana.
"Pucat? Memang iya kah, Bang?" Hidayat balik bertanya dengan perasaan mulai ikut cemas.
"Apa perasaan gue aja?" Ucap Arya berlagak kembali terlihat tidak peduli.
"Kenapa ya? Apa kak Zahra tidak sarapan sebelum berangkat ke sini tadi?" Gumam Hidayat semakin kepikiran.
__ADS_1
Sementara di dalam, Zahrana semakin terisak-isak sambil memegangi perutnya yang terasa begitu perih.
Ya Allah... Kenapa perut Zahra sakit sekali? Merintih Zahrana di dalam hatinya. Beberapa kali ia mencoba menghubungi nomor telepon suaminya, namun sama sekali tidak ada jawaban.
"Mungkinkah kios lagi ramai saat ini?" Tanya Zahrana sendirinya. Ia kembali menutup teleponnya dan menyimpan ponselnya itu ke dalam tas mini yang dipakainya.
Zahrana berangsur sedikit demi sedikit dengan memapah ke dinding toilet. Tak lama, ponselnya berdering. Ia dengan segera merogoh tas mini itu, dan alangkah senang dirinya karena yang menelepon suaminya.
"Halo, Abang... Maaf, Zahra sekarang lagi di dalam toilet..." Sapa nya tanpa mengucap salam.
Owh... Adik lagi di dalam toilet! Iya, tidak apa-apa. Ada apa Adik tadi telepon Abang? Maaf, tadi Abang lagi melayani pembeli... Soalnya kios hari ini ramai sekali, Dik...
"Sekarang Abang masih sibuk?" Tanya Zahrana berusaha menahan suaranya yang serak.
Masih, Dik... Tapi Abang sudah minta izin sebentar sama pelanggan untuk jawab telepon Adik dahulu. Adik baik-baik saja, kan? Syutingnya udah selesai?
"Em... Sudah, Abang... Maaf ya, Bang, Zahra ganggu Abang... Zahra cuma rindu saja. Nggak ada apa-apa kok..." Ucap Zahrana beralasan.
Adik rindu? Apa Abang harus ke sana sekarang?
"Tidak perlu, Abang... Abang selesaikan saja dulu kerjaannya. Gih, layani pembeli! Kasihan mereka nunggu Abang lama..."
Bener, Abang tidak perlu ke sana?
Iya, Adik, Abang izinkan... Adik hati-hati ya...
"Iya, Abang... Ya sudah, Abang jangan lupa makan ya..."
Iya... Adik juga ya...
"Iya, Abang... Dah, Abang..."
Dah, Adik...
Setelah telepon berakhir, Zahrana mengusap lembut perutnya. Entah obat apa yang ada pada suara suaminya itu, sehingga perutnya yang tadi terasa melilit, tiba-tiba kembali pulih seperti sedia kala.
Alhamdulillah, Ya Allah... Sakitnya sudah mulai berkurang sekarang... Batinnya berucap kata syukur.
Zahrana mencuci mukanya yang sembab dan terasa menghangat akibat menangis tadi, lalu ia barulah keluar dari dalam toilet itu.
"Kak Zahra..." Hidayat dengan cepat menghampiri Zahrana karena terpengaruh ucapan Arya tadi. Dia ingin memastikan kebenaran kondisi kakaknya itu.
"Hidayat? Kamu kok di sini? Ngapain?" Tanya Zahrana keheranan.
__ADS_1
"Kakak baik-baik saja, kan?" Hidayat malah tak menjawab satu pun pertanyaan Zahrana, namun ia balik mempertanyakan keadaan kakaknya itu.
"Kakak baik kok? Kenapa memangnya?" Tanya Zahrana masih terlihat bingung, lalu beralih menatap ke arah Arya yang juga masih berada di sana.
"Em... Adik Lo cemas sama keadaan Lo..." Ucap Arya merasa tertantang untuk menjawab pertanyaan Zahrana.
"Cemas kenapa, Yat? Kakak baik-baik saja kok..." Tutur Zahrana heran.
"Hehe... Iya, Hidayat ngerti perasaan kak Zahra kok..." Cengir Hidayat berlagak paham.
"Maksudnya?" Sela Arya.
"Enggak, Bang... Kak Zahra itu baper lihat akting Bang Arya tadi. Benar-benar menjiwai. Secara, Bang Arya kan aktor profesional..." Dalih Hidayat.
"Apaan sih, Yat... Banyak juga tuh yang baper..." Bantah Arya. "Tapi cerita Lo memang keren, Zahrana... Gue senang banget bisa peranin tokoh Yansyah di sini..." Puji Arya.
"Makasih, tapi semua ini nggak lepas dari bantuan kamu loh..." Sahut Zahrana sembari tersenyum bangga. "Sepertinya hari ini aku pulang lebih awal, soalnya aku ada keperluan mendadak. Tidak apa-apa, kan?"
"Owh... Ya udah..." Jawab Arya berlagak tidak peduli, namun di dalam hatinya, dia begitu tidak rela harus berpisah dengan Zahrana pada hari itu.
"Memangnya kita mau kemana, Kak?" Tanya Hidayat.
"Bukannya kamu tadi mau beli buku?" Sahut Zahrana balik bertanya.
"Iya... Tapi, kan..."
"Kakak juga sekalian mau cari buku buat inspirasi novel kakak yang baru, Dek..." Potong Zahrana cepat.
"Owh begitu... Ya sudah, kita berangkat sekarang..." Ujar Hidayat menyahuti.
"Aku pamit ya, Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam..." Jawab Arya malah berlagak cuek.
.
.
.
.
.
__ADS_1