SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
CINTANYA ARYA


__ADS_3

Pagi-pagi sekali seperti kebiasaannya, Zahrana telah terbangun, meski ia sendiri dalam keadaan berhalangan. Ia bergegas ke luar kamar menuju kamar mandi yang biasa dipakai oleh seisi rumah.


Seperti pada umumnya di kampung, rumah sederhana miliknya juga tidak memiliki kamar mandi sendiri di kamar.


Zahrana mendapati ibunya sudah terbangun subuh itu, dan sedang memanaskan air di dapur. Ibunya merupakan istri dan ibu luar biasa yang ia kenal.


"Pagi, Bu..." Sapanya sambil memeluk punggung ibunya itu.


"Walah... Walah... Pagi-pagi bukannya cuci muka gosok gigi, malah peluk-peluk Ibu... Bau, kamu tuh... Ke kamar mandi sana..." Perintah ibunya berlagak marah namun tidak sebenarnya marah.


Hati seorang ibu yang begitu merindui putrinya, apalagi putrinya itu jarang pulang sejak menikah.


"Ibu... Mandikan Zahra dong, Bu..." Rengeknya meminta.


"Sudah sebesar ini minta dimandikan juga?"


"Cuma gusuk kepala sama punggung saja, Bu... Zahra mau shalat lagi. Mau ya, Bu... Badan Zahra pegal-pegal habis naik motornya Hidayat..." Ia mulai memelas.


"Iya-iya... Tunggu sebentar, Ibu salin air ini ke termos dulu." Sahut ibunya menyerah melihat wajahnya yang mengiba.


"Yeeey, Terima kasih, Ibu..." Soraknya seraya mencium pipi ibunya itu.


"Bauuu..." Pekik ibunya.


Zahrana hanya menyengir sambil berlalu ke kamar mandi.


Usai mandi, Zahrana melakukan kewajibannya kepada sang Khalik, dan membaca sebaris dua baris ayat suci Al-Qur'an.


Ia kemudian meraih ponsel Hidayat di sebelah bantal yang ia tiduri semalam. Ia tersenyum mengingat perlakuan suaminya yang begitu memanjai dirinya lewat ponsel itu. Ia juga meraih oblong Ajis yang masih tergeletak di atas guling.


"Ya Allah, lindung suami hamba dimana pun ia berada..." Ucapnya berdo'a.

__ADS_1


Zahrana membuka aplikasi chat di ponselnya Hidayat. Berniat akan mengirim pesan kepada suaminya, karena ponselnya masih enggan untuk ia aktifkan.


"Assalamu'alaikum, Abang... Abang sudah bangun?" Tulisnya, lalu ia kirim kepada Ajis.


"Wa'alaikum salam... Ini Adik atau Hidayat?" Balasan dari suaminya membuat ia tertawa sendiri.


Baru saja ia bersiap hendak menulis balasan, tiba-tiba layar ponselnya menampakkan panggilan vidio masuk dari Ajis.


"Assalamu'alaikum, Adik..."


"Wa'alaikum salam, Abang..."


"Kenapa ponsel Hidayat belum Adik kembalikan? Memangnya hp Adik belum juga dicas?" Ajis terlihat bingung disana.


"Nanti kalau Hidayat udah keluar dari kamarnya. Tadi pas Zahra bangun, dia belum bangun kayaknya..." Jawab Zahrana. "Kok pagi-pagi Abang sudah rapi?" Zahrana berlagak curiga.


"Jangan manyun begitu. Abang sebentar lagi mau keluar, langsung ke toko lain tempat Abang belanja. Biar cepat selesainya, cepat pula Abang pulang. Kalau Abang lama, nanti Adik nggak tidur-tidur..." Goda Ajis.


"Ya sudah, Adik jaga diri jaga hati ya... Abang siap-siap dulu."


"Iya, Abang... Abang juga jaga diri jaga hati disana. Awas kalau macam-macam..." Ancam Zahrana. Sementara Ajis malah terkekeh mendengarnya.


Setelah teleponan, Zahrana melihat-lihat isi pesan adiknya itu dengan suaminya. Dia tersenyum, rupanya Ajis juga memiliki jiwa humor mengikuti jiwa adik bungsunya itu.


Isi pesan mereka banyak guyonan bermanfaat dan tengkar-tengkar kecil yang berupa candaan.


"Semoga selamanya, Yaa Allah..." Ucapnya sembari menghempas napas berat.


Zahrana hendak mengembalikannya ke layar depan, namun tercekal pada daftar pesan dari Arya tertera di bagian atas, hal yang baru ia sadari. Karena semalam ia langsung ke menu panggilan tanpa mengindahkan menu pesan di aplikasi itu.


Jiwa ingin tahunya memberontak, Zahrana membuka isi pesan Hidayat dengan artis ternama itu. Ia membacanya begitu detail tanpa satu pun tersisa. Hatinya begitu risih setiap kali topiq pembicaraan mereka hanya mengenai dirinya.

__ADS_1


Pesan Arya selalu mendahului, lalu memancing-mancing agar Hidayat menceritakan tentang bagaimana Zahrana.


"Yaa Allah... Mudah-mudahan ini tidaklah sesuatu yang aku takuti." Ucapnya terlihat begitu khawatir.


Zahrana mengambil ponselnya lalu mengaktifkannya.


Berentet pemberitahuan panggilan dari suaminya ketika ponselnya itu mati dari semalam. Tapi ia begitu senang tidak mendapati pesan dari Arya satu pun.


*****


Arya.


Dia artis ternama yang memerankan tokoh Yansyah dalam novel Zahrana yang diangkat ke layar lebar dan siap akan ditayangkan beberapa bulan mendatang. Hari itu ia terlihat gusar dan tak bersemangat. Asa yang patah dalam hatinya membuat ia menjadi begitu.


Selama itu ia mencintai gadis-gadis dalam sekejap, dan kemudian ia lupakan karena kebosanan. Tapi ketika semenjak ia mengenal Zahrana lewat dunia maya, ia mulai tertarik. Sama sekali tidak ada kebosanan baginya setiap kali ia chattingan dengan perempuan yang telah bersuami itu.


Semakin hari perasaannya semakin tumbuh, dan ia sendiri bahkan tidak pernah menyadari perasaan yang tumbuh itu pada akhirnya berbuah cinta.


Sayangnya perempuan itu sama sekali tidak merespon perasaannya. Sikap yang ditunjukkan perempuan itu begitu polos dan menganggap dirinya hanya sebatas teman yang telah berjasa, dan pantas hanya sekadar menerima ucapan terima kasih saja.


Arya tersakiti oleh perasaannya. Berbagai cara ia lakukan untuk mendapatkan empati perempuan itu, bahkan dengan menjalin keakraban dengan adik perempuan itu juga.


Keserakahan dalam dirinya semakin menjadi-jadi ketika ia mengenal Hidayat, adik Zahrana, perempuan bersuami yang ia damba. Sikap dewasa yang ditunjukkan Hidayat kepadanya, membuat ia tidak pernah merasa kesepian. Ia sering sharring dan berbagi ilmu, bahkan chattingan yang ujung-ujungnya membahas tentang Zahrana, perempuan luar biasa dalam sebuah keluarga yang dimiliki Hidayat.


"Kenapa kamu jadi menjauh? Padahal aku ingin dekat dan semakin dekat denganmu, Zahrana..." Gumam Arya ketika melihat sebuah foto Zahrana yang diam-diam diambilnya ketika Zahrana berada di lokasi syuting kala itu.


"Aku tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, bisakah aku memilikimu? Aku tidak peduli kamu telah bersuami, Zahrana. Aku akan menunggumu." Ucap Arya lagi ke foto itu.


Rasa takut pada Zahrana benar beralasan pada kenyataannya. Ia melihat sendiri sikap berlebihan Arya kepada dirinya setiap kali mereka bertatap muka.


Arya yang biasa enjoy dan terlihat sok dalam segalanya, berubah kikuk setiap kali berbicara tatap muka dengan Zahrana. Dan pada kenyataannya benar-benar memendam rasa terhadap Zahrana.

__ADS_1


__ADS_2