
"Sebelumnya pasien sudah pernah datang ke rumah sakit ini. Bukankah Anda sendiri yang mengantarkannya? Saya sudah menyarankan untuk operasi, namun ia malah tidak pernah lagi datang walau hanya sekadar untuk konsultasi..." Papar seorang dokter.
Ya, saat itu mereka berdua, Ajis dan Hidayat sudah berada di dalam ruangan dokter.
"Benar, Dok... Dan bodohnya saya, saya bahkan tidak dapat mengenali raut wajah kakak saya saat itu, bahwa dia telah menyembunyikan sesuatu dari saya..." Jawab Hidayat dengan suara garau menahan kepedihan. Sementara Ajis, ia hanya diam di posisinya tanpa tahu apa-apa. Dia begitu kebingungan mendengar pembicaraan antara dokter itu dengan adik iparnya.
"Pasien mengalami kanker lambung..."
"Apa, Dok?" Ajis ternganga mendengar perkataan dokter. Ia melirik kearah Hidayat seolah meminta penjelasan. Adik iparnya terlihat tidak begitu terkejut saat itu.
"Apa kamu tahu ini, Yat?" Tanya Ajis mendesak. Namun Hidayat hanya diam sembari menengadahkan kepalanya ke langit-langit ruangan. Hatinya juga begitu pedih karena baru saja tadi mengetahui tentang penyakit kakaknya.
"Sudah seberapa parah sekarang, Dok?" Tanya Hidayat kemudian. Ia masih kecewa dengan Ajis yang tidak pernah mengetahui apa-apa tentang kakaknya, bahkan hanya sekadar berniat untuk mencari tahu sekalipun.
"Saat ini, kanker telah menjalar ke saraf otaknya. Dan itu akan mengakibatkan kebutaan terhadap pasien, bahkan nyawa pasien juga sulit tertolong karenanya." Tutur sang dokter menjelaskan kondisi Zahrana.
Hidayat dan Ajis sama-sama terhenyak mendengar penjelasan dokter.
"Tapi... Istri saya bisa disembuhkan, kan, dok?" Tanya Ajis begitu berharap. Air matanya mengalir begitu saja dari matanya yang memerah.
"Kanker lambung ini merupakan salah satu penyakit berbahaya dan sangat sulit disembuhkan. Tapi kita tetap harus berdoa untuk kesembuhan pasien. Dia tidak boleh terlalu tertekan, dan harus beristirahat banyak." Ujar dokter tanpa memberi keringanan atas keputusaasaan yang dirasakan Hidayat dan Ajis.
Setelah mendengar penjelasan dari dokter, mereka berdua keluar dan berjalan beriringan kearah ruangan tempat Zahrana dirawat.
Ajis hanya menatap Zahrana dari luar, di balik jendela kaca yang tembus pandang ke dalam. Hatinya lebih pedih menyaksikan istrinya yang tidak berdaya saat itu. Ia terisak sambil menunduk, lalu berjalan kearah kursi panjang di sampingnya.
__ADS_1
Hidayat yang juga melihat kondisi kakaknya dari belakang Ajis, malah semakin merasa pilu ketika melihat kepedihan yang terpancar pada raut wajah Ajis. Ia mengikut untuk duduk di samping kakak iparnya itu.
"Andai Abang bukan orang yang dicintai kak Zahra, mungkin tangan yang mengepal ini sudah melayang ke wajah Abang..." Ucap Hidayat menahan kegeramannya.
"Jika itu lebih baik, maka lakukanlah, Yat..." Ucap Ajis pasrah.
"Apa yang ada dalam pikiran Abang, hah? Tidak bisakah Abang melihat kak Zahra begitu tulus mencintai Abang? Kenapa orang lain yang mencintai kak Zahra, tetapi Abang malah marahnya kepada kak Zahra?" Geram Hidayat semakin menjadi-jadi.
"Siapa yang tidak sakit hatinya ketika melihat istri yang dicintainya berduaan dengan lelaki lain, yang lebih sempurna dari dirinya, Yat? Coba saja jika kamu berada di posisi Abang... Apa kamu tidak akan marah?" Sembur Ajis seolah tidak terima disalahkan.
"Astaghfirullahal'azhiim..." Desah Hidayat.
"Tapi Abang akan ikhlas jika memang dia lelaki terbaik untuk kakakmu, asal kakakmu sembuh dan tidak sakit seperti ini, Yat. Rasanya lebih menyakitkan jika melihat kakakmu terbaring di dalam sana..." Rintih Ajis.
Hidayat menggeleng. "Susah sekali menjelaskannya kepada Abang. Abang benar-benar telah dibutakan oleh perasaan cemburu. Abang tahu? Ada lelaki yang saat ini sedang terluka atas penolakan kak Zahra demi Abang, akan tetapi Abang malah bersikap seperti ini." Ketus Hidayat seraya mengeluarkan ponselnya dari tas selempang yang bergelayut di bahunya itu.
Ajis menerima ponsel Hidayat, lalu memerhatikan apa yang ada dalam vidio itu.
Semua yang terjadi antara Zahrana dan Arya di caffe Kampoeng Rotan tadi, terekam jelas dalam ponsel itu.
Dada Ajis kembang kempis menahan sesak. Ia benar-benar merasa berdosa kepada istrinya sendiri. Namun sayang, nasi sudah menjadi bubur. Semua ucapannya yang telah menyakiti hati Zahrana dan bahkan hatinya sendiri tidak lagi bisa ia tarik. Beruntung saja Zahrana menahan mulutnya sebelum ucapan talaq keluar pula dari mulutnya tadi.
"Maaf, Bang... Hidayat juga salah karena telah menjadi pengecut dengan bersembunyi dari Abang tadinya. Hidayat terlambat selangkah dari Abang datang kesana, dan juga ikut mendengar apa yang Abang dengar. Tapi Hidayat percaya bahwa kak Zahra sangat mencintai Abang, sehingga Hidayat memilih untuk bertahan disana dan merekam kelanjutan obrolan mereka." Papar Hidayat dengan suara mulai melunak.
Hidayat mengeluarkan buku milik Zahrana dan memperlihatkannya kepada Ajis.
__ADS_1
"Buku ini berisi tulisan kak Zahra dan juga kisahnya semenjak menikah dengan Abang... Hidayat menemukannya waktu di kampung kemarin. Kak Zahra mungkin tidak sengaja meninggalkannya di rumah." Napas Hidayat tertahan, ada kepedihan di dalam hatinya saat itu.
"Banyak hal yang tidak kita ketahui tentang kak Zahra, Bang... Ia menyembunyikan penderitaannya dan menutupnya rapat-rapat dari kita. Abang pernah bertanya kan waktu itu? Mengapa bang Mus dan kak Rianur bertengkar?"
Ajis menoleh kepada Hidayat. Tatapannya seolah menunggu kelanjutan cerita Hidayat.
"Sebenarnya mereka bertengkar karena kak Rianur melakukan pinjaman online, dan ayah sampai harus menggadaikan rumah di kampung untuk menebus hutang-hutang itu, Bang..."
"Astaghfirullahal'azhiim..." Desir Ajis. Ia begitu terkejut mendengar pengakuan Hidayat. Ia sama sekali tidak pernah tahu akan hal itu.
"Dan kak Zahra mendapat berita itu tepat ketika kios Abang terbakar. Dan Abang tahu? Kak Zahra bahkan menyembunyikan musibah yang kalian alami kepada kami. Jika bukan Abang yang memberitahu waktu itu, mungkin Hidayat akan baru tahu dari buku ini..." Tambah Hidayat lagi.
"Yaa Allah... Apakah manusia yang Engkau berikan kepada hamba sebagai seorang istri? Kenapa hatinya begitu baik seperti malaikat?" Gumam Ajis dengan air mata yang berderai banyak mendengar perkataan Hidayat.
"Hidayat juga baru tahu tentang penyakit kak Zahra tadi, Bang... Ketika berada di taxi, Hidayat membaca kelanjutan kisah kak Zahra. Hidayat berharap ini hanya sekadar bumbu untuk membuat kisahnya lebih seru. Dan ketika kak Zahra menelepon Hidayat dengan menggunakan ponselnya bang Arya, karna ponsel kak Zahra ketinggalan di rumah katanya. Hidayat ingin mempertanyakan ini, tapi kak Zahra malah mengkhawatirkan Abang. Kak Zahra merasa telah mengkhianati Abang. Hidayat sempat marah dengan mengatakan kapan ia bisa memikirkan dirinya sendiri. Tetapi kak Zahra malah balas membentak Hidayat supaya cepat-cepat datang kesana. Kak Zahra merasa risih hanya berduaan dengan bang Arya..." Jelas Hidayat panjang lebar.
"Karena Hidayat khawatir dengan kak Zahra, setelah membuat bang Arya mengerti, Hidayat langsung menyusul kak Zahra ke rumah. Maaf, Bang... Hidayat mendengar semuanya tadi dari balik pintu..." Tambah Hidayat lagi.
"Pantas Abang dihukum, Yat... Pantas... Bagaimana caranya Abang bisa menebus kesalahan Abang? Abang suami yang tidak berguna, Yat... Abang tidak pernah bisa mengertikan istri Abang sendiri. Abang suami yang tidak peka... Padahal Abang seharusnya bisa mengerti apa yang kakak kamu rasakan, meskipun kakak kamu tidak pernah mengatakannya. Yaa Allah..." Tubuh Ajis terguncang hebat menahan isaknya. Ia masih ingat bagaimana perlakuannya tadi kepada istrinya sendiri.
.
.
.
__ADS_1
.
.