SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
KABAR BAIK


__ADS_3

Ada kabar baik nih, buat loe...


"Kabar baik Apa lagi nih?" Tanya Zahrana begitu antusias ketika siang itu dirinya mendapatkan telepon dari Arya Irawan, artis terkenal yang beberapa bulan itu menjadi teman online-nya.


Loe udah menerima royalti dari usaha dan kerja keras loe selama ini. Perusahaan penerbit memberikannya ke gue, karena gue yang udah ngirimin naskah loe kan... Nanti gue kirim ke rekening loe ya. Loe tinggal kirimin saja nomor rekening loe ke gue...


"Sungguh?" Zahrana tersenyum lebar mendengar kabar baik dari Arya pada hari itu.


Iya lah... Dan satu lagi, banyak penggemar novel loe yang ingin berbincang-bincang dengan loe. Jadi, kami ingin buatkan jumpa fens, Gimana? Loe setuju?


"Aaa... Aku mau banget... Tanpa pembaca, karya aku bukan apa-apa." Sahut Zahrana kegirangan. Dia begitu terharu mendengar permintaan para pembaca novelnya untuk bertemu langsung dengan dirinya, hal yang sangat ingin sekali ia gapai, bertemu dan mengucapkan rasa terima kasih secara langsung kepada mereka.


Jadi lu beneran bisa?


"Tapi, aku izin dulu ya sama suami..."


Lah... Ngapain mesti izin segala? Ya, pastilah suami loe ngizinin. Ini kan acara penting. Dan gue yakin, suami loe bakal setuju banget. Denger-denger, ada PH yang mau angkat novel loe ke layar lebar loh...


"Benarkah?"


Iya dong...


"Tapi tetap saja aku harus ijin suami."


Ah payah... Mantan gua aja waktu masih pacaran sama gue, enggak pernah tuh izin ke gua kalau mau kemana-mana.


"Ya bedalah... Kamu dan mantan pacarmu itu tidak ada ikatan apa-apa... Hanya pacaran, dan itu pun hubungan kalian cuma komitmen kalian berdua saja."

__ADS_1


Nggak kok... Nyokap Bokap kami merestui hubungan kami... Mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Gue sering ngajak dia ke rumah gua, dan begitupun sebaliknya...


"Terus kalian putus begitu saja tanpa harus melalui prosedur layaknya suami istri bercerai, bukan? Dengar ya! Pernikahan dan pacaran itu adalah dua hubungan yang berbeda. Seharusnya kamu tahu tanpa harus aku jelaskan panjang lebar..."


Tapi gue bener-bener tidak mengerti, kenapa seorang istri harus minta izin kepada suaminya terlebih dahulu untuk segala hal. Nyokap gua aja nggak gitu-gitu amat...


"Seorang istri itu sudah milik suaminya secara utuh. Bahkan ketika seorang istri dihadapkan oleh panggilan ayah dan suaminya secara bersamaan, maka seorang istri mesti menyahuti panggilan suaminya terlebih dahulu..." Tutur Zahrana.


Masa begitu? Bukannya kita harus patuh sama orang tua ya? Kan mereka yang udah berjasa terhadap kita dari kita bayi hingga kita dewasa...


"Aduh... Gimana ya, cara jelasinnya sama kamu. Mending sesekali kamu ikut pengajian gih... Kamu pun bisa nanya-nanya sama ustadz yang memberi pengajian itu." Ujar Zahrana kehabisan akal.


Ya udah deh... Loe pembosan banget! Baru aja gue nanya begituan... Ingat ya... Loe harus segera pastikan bahwa loe dapat izin dari suami loe, biar gue bisa atur jadwalnya.


"Iya, insya Allah..."


Sejak turun dari sepeda motor, Zahra tidak pernah sekali pun melepas tangan Ajis dari genggamannya. Perasaan gugup hendak berjumpa dengan para penggemar novelnya, membuat Zahrana enggan berjarak dengan suaminya itu. Zahrana percaya, bahkan perasaan gugup itu akan lebih besar jika tidak ada Ajis di sisinya.


"Zahrana Habibah Marwan?" Seru seorang pemuda seraya mendekati mereka.


"Assalamu'alaikum..." Ucap Zahrana dan Ajis bersamaan kepada orang itu. Mereka pastinya begitu mengenal pemuda yang memanggil mereka.


"Hahah..." Orang itu malah tertawa dengan muka yang memerah. "Wa'alaikumsalam..." Sahutnya.


Pemuda itu tidak lain Arya Irawan, lelaki yang telah menunggunya sedari awal pada hari itu. Keinginan Arya lebih besar ingin berjumpa untuk pertama kali dengan perempuan yang sebenarnya diam-diam ia kagumi hanya lewat benda canggih semata. Dan itu untuk pertama kalinya mereka bertemu secara langsung, juga pertama kali bagi Arya mengenali wajah teman online-nya itu.


Arya tidak berhenti menatap wajah ayu Zahrana. Pakaian Zahrana yang tertutup dan sopan tidak membuat Arya jengah, meski selama itu tipe perempuannya seksi dan terbuka.

__ADS_1


Arya Irawan menyodorkan tangannya kepada Zahrana, namun sayangnya malah tak berbalas. Zahrana melepas sebentar tangan Ajis, lalu mengatupkan kedua telapak tangannya ke dada untuk menyambut salam dari Arya.


Arya begitu malu, lalu ia memutuskan untuk beralih ke Ajis, dan Ajis menyambut tangannya. Dia belum paham, mengapa Zahrana tidak membalas jabat tangannya itu seperti Ajis.


"Arya Irawan..." Ucap Arya memperkenalkan dirinya kepada Ajis.


"Ajis..." Balas suami Zahrana dengan menampakkan wajah yang ramah. Zahrana kembali meraih tangan suaminya itu, sehingga Arya merasa hatinya begitu panas melihatnya.


"Maaf, kamu sudah menunggu dari lama kah?" Tanya Zahrana merasa tidak enakan.


"Owh, tidak juga. Ketidaksabaran gue untuk bertemu guru sekaligus idola gue, membuat gue datang lebih awal." Ujar Arya. "Mari kita masuk!" Ajak Arya lagi.


Zahrana dan Ajis menurut. Mereka bertiga berkeliling melihat-lihat buku-buku Zahrana yang terpampang di sana. Slogan yang bertuliskan BUKAN SALAH IBU MENYUSUI, menunjukkan bahwa tempat itu memang khusus dihadiahkan untuk dirinya dalam sehari itu.


Para penggemarnya sudah banyak yang berdatangan mengisi ruangan itu. Tidak hanya Zahrana, ketika mereka menyadari adanya Arya Irawan di sana, suasana semakin mereka buat heboh. Sorak-sorai suara dan tepuk tangan mereka memanggilkan nama Arya dengan begitu antusias, membuat gendang telinga siapa saja serasa akan pecah.


Ajis begitu minder, namun genggaman tangan Zahrana menguatkan dirinya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2