
Setelah mendapat izin dari Ajis, Zahrana mengirimkan buku tulisnya ke alamat yang sudah diberikan Arya lewat chat pribadi mereka.
Zahrana begitu optimis jika usahanya akan membuahkan hasil yang lumayan menguntungkan untuk kali itu. Tekadnya untuk membantu suami dan kedua orang tuanya, membuat ia bekerja lebih keras akhir-akhir itu. Ditambah lagi, suaminya juga Ridha dengan apa yang dia perbuat.
"Bagaimana kira-kira dengan novel Aku? Bakal laku atau tidak?" Tanya Zahrana ketika ia teleponan dengan Arya pada siang itu.
Nggak tahu... Tapi jika para pembaca sependapat dengan gue, mereka pasti berpikir bahwa loe penulis yang kejam...
"Loh, kok kejam?" Tanya Zahrana bingung.
Gimana nggak kejam? Setelah Lu buat mereka saling jatuh cinta, terus lo malah pisahin mereka tanpa memberi kesempatan untuk bisa bersama kembali. Benar-benar skakmat untuk hubungan mereka...
"Itu sudah menjadi takdir bagi mereka untuk terpisah..." Ucap Zahrana tanpa rasa dosa.
Tapi loe yang nulis takdir mereka... Gue pikir dari awal, entah apa yang membuat hubungan mereka begitu sulit untuk disatukan. Gue juga nggak habis pikir ada alasan apa dengan kedua orang tua mereka sampai menghalangi hubungan mereka yang saling mencintai. Gue bahkan tidak pernah menyangka bakal sepelik itu permasalahan di antara mereka. Malah berakhir skandal lagi... Terus gimana psikis nih cewek, heh?
"Dia sudah bahagia bersama pasangan barunya..." Jawab Zahrana enteng.
Ada sekuelnya kah? Kalau ada, gue mau baca dong!
"Enggak... Itu sudah over... Aku hanya menulis kisah mereka berdua, tidak untuk kehidupan setelah hubungan mereka berakhir, ya..." Tutur Zahrana benar-benar tak berminat.
Ya, terserah elu... Tapi ini kisah, the best banget... Gue suka... Bahkan seakan-akan gua ngerasa, bahwa diri gue sendiri yang meranin karakter nih cowok. Meski karakter ni cowok tiga ratus enam puluh derajat bertolak belakang dari sifat asli gue...
"Hahaha... Kamu sampai ngehalu gitu?" Ledek Zahrana.
Gimana, enggak? Cerita loe seakan-akan ada di kisah nyata. Gue seolah ngerasain kepedihan nih cewe, ketika dia mutusin buat ninggalin cowoknya... Ya Ampun... Meski berat, tapi dia tetap ngelakuin itu demi ketaatannya kepada Tuhan dan kasih sayangnya terhadap keluarganya.
Zahrana mendengus kasar. Ucapan Arya lewat telepon tadi membuat dia tersenyum kecut.
Ini kisah aku... Aku benar-benar merasakannya dulu. Tapi ternyata memang benar, sesungguhnya apa yang baik menurut kita, belum tentu baik di mata Allah...
__ADS_1
Bagaimana mungkin ada squelnya, jika mereka tak lagi dipersatukan? Sedang si ceweknya sudah bahagia dengan pasangan pilihan Tuhan untuknya.
Kehadiran Bang Ajis, membuatku mampu melupakan dirinya dan semua kenangan itu sebagai yang terindah sekaligus menyakitkan ketika aku melepasnya... Aku tidak menyangka, Tuhan memberiku seorang suami melebihi apa yang aku minta darinya.
Sekarang, aku bahkan tidak pernah peduli bagaimana dia. Aku hanya menyesali, mengapa aku pernah terjerat dosa, mengatai taqdir ini tak memihakku.
Jika aku kembali mengingat bagaimana kondisiku dulu setelah memutuskan dirinya, aku akan terus merutuki kebodohanku. Bodoh telah larut meratapi seseorang yang sebenarnya bukan siapa-siapa, dan aku malu kepada Tuhanku karena kebodohan itu...
Zahrana berdiri dari tempat duduknya di atas tempat tidur, lalu perlahan melangkah ke arah jendela kamar yang menghadap ke pelataran belakang rumahnya. Pikiran Zahrana kembali menerawang ke masa lalunya itu.
*****
"Jika cinta aku katakan..
Jika benci aku perlihatkan...
Itulah aku,,, Aku bukan org lain yg bisa bersikap romantis, Yank..."
Andai kamu bukan pungguk, atau setidaknya aku bukan bulan seperti kamu ibaratkan kita...
Apa kita akan tetap terpisah seperti ini???
Bawel.. Aku merindukan kamu. Semenjak kamu pergi, hebat ku runtuh...
Andai benar orang tuaku ridha... Atau setidaknya dunia tidak menolak hubungan kita, mungkin aku tak akan terombang-ambing seperti ini...
Tawaku tertelan ludah kasat...
Air mataku tertahan isak...
Aku menangis dalam pura-pura tawa..
__ADS_1
Bisakah aku beli waktu???
Kalau bisa, aku akan beli semua waktu agar selalu dapat menghabiskannya bersamamu...
Aku tak pernah menyesal mencintaimu, Pungguk,,,
Namun kenapa aku harus jadi bulan???
Pungguk... Kembalilah...
Bulanmu merindukan...
Tidakkah kamu iba???
Katamu, hanya kamu yang mampu membuat bulanmu ini bahagia...
Zahrana menangis di peraduannya, memeluk guling meratapi kepedihan hatinya setelah mengambil keputusan terberat dalam hidupnya. Hanya sekali dan pertama kali ia merasakan jatuh cinta, tetapi kenapa ditentang?
Tidak hanya orang tuanya dan orang tua kekasihnya, tetapi Tuhan juga ikut menentang hubungan mereka.
Tidak ada pilihan lain bagi Zahrana, dia harus mengakhiri hubungannya dengan kekasihnya itu jika tidak ingin melihat ibunya terus menangis dan merasa bersalah.
Kasih sayang Zahrana terhadap orang tuanya lebih besar dari apa pun, hingga egonya runtuh dan lebih memilih untuk meninggalkan kebahagiaannya bersama lelaki yang sangat dicintainya pada saat itu.
.
.
.
.
__ADS_1
.