
Wajah Zahrana terlihat pucat. Bibirnya begitu kering dan memutih, namun masih bergerak-gerak kecil melafazkan do'a usai shalat zuhur siang itu.
Kedua tangannya yang berselimut mukenah, ia usapkan ke wajahnya dengan begitu lama.
"Astaghfirullah..." Ucapnya berdesir sembari bangkit dari bersimpuh di atas sajadah panjang itu.
"Yaa Allah..." Kekuatan Zahrana mendadak lenyap. Ia terduduk kembali, lalu meremas perutnya yang mulai terasa ngilu. "Ah, sakiiit..." Ringisnya.
Zahrana membuka mukenanya perlahan-lahan dan membiarkannya berserakan di atas sajadah itu. Ia berusaha bangkit kembali dan berjalan dengan terseok-seok ke tepi tempat tidurnya.
Ia membuka laci nakas samping tempat tidurnya pada bagian bawah sekali, lalu tangannya mengeruk sampai ke belakang laci itu. Ia mengeluarkan sebuah botol obat dari dalamnya. Ketika ia baru saja mereguk obat itu bersama segelas air yang ada di atas nakas, tiba-tiba perutnya kembali terasa perih dan melilit hingga ke jantungnya.
Botol obat yang dipegangnya dan belum sempat ia tutup kembali itu pun malah terjatuh, sehingga semua obat-obatan itu berserakan di lantai kamarnya.
"Yaa Allah..." Rintih Zahrana sambil berangsur duduk di tepi tempat tidurnya. Air matanya mengalir dengan deras. Ia membaringkan tubuhnya perlahan dan menghadap kearah kanan. Ia mengusap pelan perutnya hingga rasa perih itu mulai berangsur hilang.
Zahrana bangkit kembali. Dia melihat kamarnya begitu berantakan, namun ketika ia berniat membereskannya, ponselnya berdering sekali.
Ia meraih ponsel itu lalu membukanya.
"Kamu jadi datang, kan? Aku sudah di jalan..." Sebuah pesan singkat dari Arya membuat ia dilema, memilih membereskan kamarnya atau malah bersiap hendak pergi.
Zahrana malah memilih untuk menghubungi suaminya terlebih dahulu. Namun beberapa kali menelepon, nomor suaminya selalu saja sibuk.
Zahrana gelagapan, ia malah meletakkan ponselnya dan berjalan dengan bergegas keluar kamarnya sembari menjinjing ransel mini yang sempat ia rogoh dari belakang pintu kamarnya itu.
Mudah-mudahan bisa pulang lebih awal untuk membersihkan kamar. Hari ini cukup, tidak akan ada lagi lain hari untuk bertemu Arya. Aku harus bisa membuat Arya mengerti bahwa aku tidak lagi ingin masuk dalam dunia hiburan seperti ini. Aku ingin mengabdi seutuhnya dalam keluarga kecilku bersama bang Ajis...
"Bismillahirrahmanirrahim... " Zahrana berjalan keluar rumahnya, ia sama sekali tidak menyadari bahwa ponselnya tertinggal di kamarnya.
Ketika ia berada di luar pagar, ia mendapati tukang ojek yang biasa ia sewa untuk mengantarnya ke kios apabila Ajis berangkat lebih awal.
"Pak, bisa antar Zahra ke Kampoeng Rotan?"
"Kampoeng Rotan? Ada acara apa neng Zahra ke sana? Kok tumben?" Tanya tukang ojek seperti sudah hapal betul tentang Zahrana.
"Iya, Pak... Zahra ada janji disana. Biasanya Zahran kalau pergi-pergi ke suatu tempat, kan sama Hidayat, adiknya Zahra. Tapi sekarang motor Hidayat masih di bengkel, Pak... Jadi, ketemunya nanti disana saja sama Hidayat..." Jelas Zahrana.
"Owh begitu... Ya sudah, Neng naiklah... Biar Bapak antar ke sana. Ini helmnya..." Ucap tukang ojek itu seraya menyodorkan helm lainnya kepada Zahrana.
"Bismillah..." Zahrana naik ke atas motor dengan posisi duduk yang menyamping. "Pelan-pelan ya, Pak..." Pesannya.
Ia benar-benar tidak menyadari ponselnya tertinggal di atas nakas samping tempat tidurnya, dan ponselnya itu berdering banyak sepeninggalnya.
Sesampainya ia disana, matanya sama sekali belum menemukan Hidayat. Perasaan ragu mulai menggerayangi di hatinya. Ia merogoh tas jinjingnya, namun ia tampak kebingungan.
"Yaa Allah, Hp Zahra ketinggalan..." Gumamnya begitu cemas. Jika ia urungkan pertemuan itu, maka ia benar-benar manusia tak berperasaan, pikirnya.
"Bismillahirrahmanirrahim..." Zahrana mulai melangkah masuk. Matanya celingak-celinguk mencari dua orang yang akan ditemuinya hari itu.
"Zahrana, aku disini...!" Terdengar seruan seseorang dari sudut ruangan. Orang itu memakai switer yang menutupi hingga ke kepalanya, dan juga memakai kaca hitam dan topi. Ya, dia Arya Irawan. Dia begitu agar tidak ada seorang pun yang mengenali dirinya.
Zahrana mendekat dengan perlahan.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum..." Sapa Zahrana.
"Wa'alaikum salam..." Jawab Arya begitu antusias.
"Emmm... Maaf sudah membuat kamu menunggu terlalu lama..." Ucap Zahrana.
"Aku tidak akan bosan menunggu perempuan sepertimu, Zahrana..."
Deg. Jantung Zahrana kembali berdebar tak karuan, rasa takut yang membuatnya begitu.
"Emmm, apa Hidayat sudah sampai?" Tanya Zahrana berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Belum..."
"Boleh aku pinjam ponselmu sebentar untuk menelepon Hidayat?"
"Hmmm... Ya, sudah..." Arya merogoh kantong switer nya dan mengeluarkan ponselnya.
"Aku nggak tahu sandinya..." Ucap Zahrana sembari menghadapkan ponsel itu kepada Arya lagi.
"Pertemuan kita pertama kali..." Jawab Arya tampak mesem-mesem sendiri.
"Hah? Kapan ya? Aku tidak ingat..." Geleng Zahrana.
"Masa kamu tidak ingat? Itu juga hari bersejarah loh dalam hidup kamu..."
"Eh?" Dahi Zahrana mengerut.
"Owh... Iya ya... Aku baru sadar..." Cengir Zahrana. Lalu ia menekan tombol sesuai angka yang diingatnya.
Astaghfirullah, kebuka... Batin Zahrana. Ia semakin merasa takut dengan perlakuan Arya terhadapnya.
"Aku ke belakang dulu ya... Kamu percaya, kan?"
"Hahaha... Maksudnya Hp aku di kamu? Aneh-aneh saja. Memangnya kamu akan kemanakan Hp-ku?" Tanya Arya sembari tertawa melihat keluguan Zahrana.
Zahrana hanya menyeringai, lalu berjalan kearah belakang.
*****
Ajis kembali masuk ke kiosnya setelah melewati beberapa saat jam istirahat siang bersama karyawannya. Ia merogoh ponselnya yang sengaja tidak dibawanya ke masjid tadinya.
"Ya ampun... Ada panggilan yang terlewat dari pak Baron. Apa beliau sudah sampai?" Gumam Ajis. Ia segera menelepon balik kepada orang yang meneleponnya tadi.
"Assalamu'alaikum, Pak Baron..." Sapa Hidayat.
"Wa'alaikum salam, Jis..."
"Maaf, Pak Baron... Tadi ketika Bapak menelepon, hp saya tinggal di kios, sedang saya pergi ke masjid sekalian makan siang... Apa Bapak sudah sampai di kota ini?" Tanya Ajis dengan akrabnya.
"Nah itu dia, Jis... Sebenarnya tadi saya menelepon untuk mengabarkan, bahwa hari ini saya berhalangan datang kesana. Mobil saya rusak di jalan, Jis... Jadi, saya mampir di rumah saudara istri saya yang kebetulan ada di kota ini juga. Saya undur sampai besok kedatangan saya gimana, Jis?"
"Owh, begitu, Pak... Tidak masalah, Pak..." Jawab Ajis dengan ringan. Ia begitu lega mendengar penjelasan langganannya itu.
__ADS_1
"Terima kasih, Jis... Maaf ya..."
"Iya, Pak... Tidak apa-apa, Pak..."
"Kalau begitu, sampai ketemu besok ya, Jis... Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam, Pak Baron..." Ajis menutup teleponnya.
"Hmmm, bisalah siang ini temani dik Zahra..." Gumam Ajis. Ia segera menelepon istrinya itu lewat panggilan vidio.
Panggilan terhubung, namun tidak kunjung menyambung. Ajis terus mencobanya, bahkan melewati panggilan seluler biasa pun, namun Zahrana tak kunjung menjawabnya.
"Astaghfirullah... Kenapa dengan hati hamba ya Allah? Kenapa diliputi dengan perasaan tidak nyaman begini?" Dengus Ajis. Wajahnya terasa panas memikirkan istrinya.
Ia kembali ingin mencoba menelepon. Sudah dua belas kali panggilan keluar sedari tadi, tetap saja hasilnya sama.
Apa dik Zahra sudah berangkat? Ah, mending saya susul saja ke sana... Kata dik Zahra, kalau nggak salah tempatnya di kampoeng rotan. Sebaiknya saya langsung saja ke sana... Batin Ajis. Perasaan yang membuncah di dalam dadanya, membuat ia lupa segalanya, bahkan sekadar menelepon adik iparnya sendiri.
"Rizki, titip kios sebentar ya... Abang mau keluar... Tapi kalau Abang lama, kamu tutup seperti biasa, dan pegang kuncinya..." Pesan Ajis tergesa-gesa.
"Baik, Bang..." Sahut karyawannya.
Ajis bergegas keluar menuju arah motornya terparkir. Ia segera berangkat ke tempat Istrinya dan artis terkenal itu janjian.
Setelah setengah jam dalam perjalanan, ia sampai di sebuah Caffe bernuansa klasik dengan tumbuhan rotan di sekelilingnya. Di dalamnya, semua furniture terbuat dari bahan rotan. Bahkan untuk menambah kesan, piring rotan pun juga mereka gunakan untuk menyajikan makanan yang tidak berkuah.
Perasaan Ajis semakin tidak terbendung, ia melangkah masuk ke dalam bangunan itu dengan gugup. Matanya begitu liar mencari kesana-kemari keberadaan istrinya.
Tidak membutuhkan waktu lama, ia akhirnya dapat juga menemukan Zahrana disana hanya berdua dengan Arya. Ajis hanya memerhatikan mereka dari kejauhan dan pendengarannya berusaha menangkap apa yang sedang dibicarakan oleh istrinya itu bersama Arya.
"Zahrana... Sebenarnya, aku sudah lama menyukaimu..." Ungkap Arya.
"Menyukaiku?"
"Iya, Zahra... Maukah kamu menjadi kekasihku? Aku siap menunggumu sampai kapanpun, Zahra... Sampai kamu bisa meninggalkan suamimu demi aku..." Terang Arya tanpa keraguan.
"Aku sudah menduga itu, Arya..."
Deg.
Jantung Ajis terasa sakit bagai disayat sembilu. Ia menggeleng keras, tangannya mengepal kuat, dan kakinya perlahan berjalan mundur. Setetes air bening jatuh dari matanya.
Sakit, hatinya terasa pedih menyaksikan itu. Ia melengos begitu saja tanpa ingin mendengar lebih banyak lagi. Ia keluar dari cafe itu dengan perasaan yang telah hancur berkeping-keping.
.
.
.
.
.
__ADS_1