
Ajis.
Selesai ia belanja barang kios, ia memutuskan untuk mampir ke sebuah rumah sakit di kota itu sebelum kembali ke tempat tinggalnya. Entah mengapa, ia begitu ingin memeriksakan kesuburannya.
Setelah melewati beberapa prosedur, dokter menjelaskan bahwa kesuburannya memang bermasalah.
"Apa Anda merokok?"
"Dulu iya, Dok. Tapi istri saya sangat terganggu karenanya, sehingga saya memutuskan untuk berhenti tanpa dimintanya. Awal-awal memang sulit, tapi Alhamdulillah niat saya tercapai. Saya sudah tidak lagi menyentuh yang namanya rokok, Dok..." Ujar Ajis dengan bangga.
Dokter itu mangut-mangut. "Kenapa istri Anda tidak sekalian dibawa kesini?"
"Sebenarnya saya datang ke kota ini hanya untuk belanja barang dagangan saya saja, Dok. Dan istri saya tidak ikut bersama saya. Kebetulan uang saya berlebih, makanya saya memberanikan diri untuk datang ke rumah sakit ini."
"Hmmm, begitu. Saya cukup salut dengan keberanian Anda. Kebanyakan para lelaki malu untuk memeriksakan diri, dan bahkan tidak sedikit juga dari mereka yang menyalahkan pasangannya apabila belum kunjung memperoleh keturunan." Papar sang dokter.
Ajis hanya tersenyum menanggapi hal itu.
"Sudah berapa lama menikah?"
"Hampir tiga tahunan, Dok..." Jawab Ajis begitu malu sebenarnya.
"Hmm sudah bukan hal yang bisa dimaklumi ya..."
Ajis menunduk sembari tersenyum bias mendengar pernyataan sang dokter.
"Jika istri Anda bagaimana? Maksudnya, apa siklus bulanannya lancar?"
"Setahu saya lancar, Dok. Hanya saja istri saya sering mengeluhkan sakit perut..." Jawabnya betul-betul yakin.
"Hmmm, baiklah. Mungkin tentang istri Anda, jika Anda bawa periksakan juga, maka kita akan tahu keluhannya. Namun jika dilihat dari hasil pemeriksaan labor, Anda mengalami kekurangan hormon testosteron." Ungkap dokter di hadapannya itu.
"Apa itu, Dok?" Tanya Ajis mulai menatap dokter itu dengan serius.
"Setelah usia 30 tahun, pria akan mengalami penurunan kadar testosteron secara berkala. Seharusnya tidak menimbulkan perubahan fisik maupun penurunan libido yang signifikan. Akan tetapi, hal ini masih mungkin terjadi dan bisa menghambat apabila Anda sedang merencanakan kehamilan untuk istri Anda.
Sebab, gangguan ini memiliki gejala rendahnya dorongan seksual. Bahkan gangguan ini memiliki banyak dampak termasuk pada kenyamanan pasangan Anda di saat sedang berhubungan." Jelas dokter itu.
__ADS_1
Ajis terpana. Ia bahkan tidak menyadari selama tiga tahunan itu Zahrana tertekan oleh kekurangannya.
Cukup panjang waktu yang digunakan Ajis untuk berkonsultasi dengan dokter di rumah sakit itu, dan bahkan ia juga meminta saran serta obat-obatan untuk keluhannya.
*****
Menjelang waktu maghrib, Zahrana dan Hidayat sampai di rumah mertuanya. Ia dan adiknya itu disambut baik oleh keluarga suaminya itu, meski suaminya sendiri tidak ikut datang bersama mereka.
Maira yang telah begitu akrab dengan Zahrana malah bersikap manja dan terus menempel kepadanya. Tampak gadis itu curi-curi pandang kearah Hidayat.
Usai bercengkrama pada malam itu, ibu Ajis meminta Maira untuk mengajak Zahrana tidur di kamarnya, agar Hidayat malam itu bisa beristirahat di kamar Ajis.
Hidayat yang memang kelelahan karena dua hari itu mengendarai motor, dengan cepat dapat terlelap di kamar kakak iparnya yang cukup nyaman. Ia mengurungkan niatnya untuk membaca buku Zahrana yang diam-diam ia pungut tadinya di rumah orang tuanya.
Sementara Zahrana dan Maira, mereka masih saja mengobrol ringan. Maira begitu sibuk menanyai kepribadian adik bungsunya itu.
"Apalah si Hidayat itu, Maira... Kuliah saja belum tamat." Celetuk Zahrana berusaha membuat adik iparnya itu ragu.
"Tapi bang Hidayat ganteng benget, Kak Zahra... Bang Hidayat nggak seperti kebanyakan cowok-cowok pada umumnya." Puji Maira begitu ambisi menceritakan sosok Hidayat.
"Tidak..." Geleng Maira.
"Hahaha... Ada-ada saja kamu, Dek... Mungkin Maira belum menemukannya. Lagian, fokus sama kuliah dulu ya. Jangan pikirkan cowok-cowok. Kasihan bang Ajis banting tulang buat Maira juga." Ujar Zahrana menasehati adik iparnya itu.
"Maira nggak mikirin cowok-cowok, Kak... Maira cuma mikirin bang Hidayat doang kok..." Ucap Maira dengan wajah terlihat bersemu mengakui isi hatinya.
"Masa Maira sukanya dengan Hidayat?"
"Memangnya nggak boleh ya, Kak?" Maira terlihat kecewa.
"Boleh... Asal jangan hilangkan Tuhan di hatimu ya, Sayang. Soalnya, cinta itu tidak mesti memiliki."
"Maksud Kak Zahra gimana? Apa Maira nggak cocok sama adik Kak Zahra?" Tanya Maira semakin terlihat kecewa.
"Sayang... Bukan begitu maksud Kakak. Begini, Kak Zahra senang sekali jika kalian bisa bersama suatu hari nantinya. Kak Zahra sudah hapal betul bagaimana Maira. Dan bisa saja Allah mempersatukan kalian. Tapi siapa yang tahu dengan hari esok, kan?" Tutur Zahrana berusaha mengambil pengertian adik iparnya.
Dia tahu betul bahwa Maira semenjak kali pertama bertemu Hidayat, diam-diam menyukai adik bungsunya itu. Hanya saja, Hidayat pernah mengakui bahwa ia hanya menganggap Maira sebatas adiknya saja. Apalagi Hidayat tidak ingin Ajis sampai salah paham dengannya suatu hari nanti.
__ADS_1
Zahrana juga tahu, Hidayat tampak menaruh rasa pada Kirana, artis lawan main Arya dalam film bukan salah ibu menyusui. Bahkan Zahrana bisa melihat bagaimana cara adiknya itu menyikapi perasaannya yang membuat semua orang tidak mengetahui kecuali dirinya sendiri sebagai kakak yang mengenali betul bagaimana Hidayat.
"Awas saja, Kak Zahra... Akan Maira curi Bang Hidayat di sepertiga saban malam..." Ucap Maira.
Zahrana tersenyum, ia lalu mengambil tangan adik iparnya itu dan menggenggamnya dengan penuh perhatian.
"Semoga Allah ijabah ya, Dek... Kak Zahra ingin sekali adik-adik kakak bahagia. Kakak tidak ingin adik-adik kakak hancur hanya karena patah hati." Ucap Zahrana.
"Iya, Kakak... Memangnya Zahra seperti tokoh Habibah di novel kakak apa?"
"Memangnya kamu pikir Habibah itu bagaimana?" Dahi Zahrana sampai mengerut mendengar pernyataan Maira.
"Di depan Yansyah dia kuat begitu, pasti sebenarnya dia menderita dan terluka, kan, Kak?"
"Tidak..."
"Oh ya? Ada sekuelnya kah?"
"Ada... Tapi nggak dipublikasikan..."
"Ah, Kak Zahra... Lihat dong, Kak... Maira mau baca, penasaran banget, Kak..." Maira merengek sembari menggoyang-goyangkan tangan Zahrana.
"Nanti, ya... Kalau ceritanya sudah usai. Yang jelas, Zahra... Eh, Habibah nya sudah bahagia sekarang..." Ucap Zahrana. Ia hampir saja keceplosan.
"Beneran, Kak Zahra? Gimana ceritanya? Ah penasaran..."
Zahrana hanya tersenyum lalu mengapit pipi Maira dengan manja.
.
.
.
.
.
__ADS_1