SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
MASA LALU 2


__ADS_3

"Zahrana..." Ardiansyah datang menghampiri Zahrana yang tengah duduk memandangi laut lepas sambil memeluk lutut di atas pasir pantai.


Perempuan itu dengan cepat mengusap air matanya sebelum menoleh untuk menyahuti panggilan Ardiansyah.


"Hei, kamu mengagetkanku saja..." Celetuk Zahrana mencoba menyembunyikan kesedihannya dari lelaki itu.


Aridiansyah yang tadinya bersemangat, tiba-tiba memudarkan senyuman di bibirnya dengan perlahan. Dia menatap bingung wajah Zahrana sambil terus berusaha menetralkan deru nafasnya yang sempat tersengal.


"Kamu menangis, Zahra?" Tanya nya tampak khawatir.


"Tidak... Siapa yang menangis, heh?" Elak Zahrana dengan cepat, lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke depan memunggungi Ardiansyah yang masih menunggu penjelasan darinya.


"Ada apa sebenarnya, Zahra? Jangan coba-coba menyembunyikan apapun dari aku. Aku sudah mengenalmu dari sejak lama, Zahra..." Ucap Aridiansyah tak percaya akan jawaban gadis itu. Dia mengejar posisi berdiri Zahrana.


"Aku tidak apa-apa, tidak usah berlagak cemas begitu lah, Ri..." Zahrana menyemburkan tawanya. "Kamu kenapa di sini? Kamu membuntutiku, kan? Ayo, ngaku..." Tuduh Zahrana mengalihkan pertanyaan Aridiansyah.


"Tadi aku ke rumahmu, tapi kamu tidak ada di rumah... Ya sudah, aku langsung saja ke pantai..." Jawab Ari yang termakan sikap kepura-puraan gadis itu.


"Ada apa mencariku, heh?"


"Rindu..."


"Hah? Rindu?" Mata Zahrana melotot.


"Jangan pernah bertanya, mengapa aku mencarimu, Zahra... Karena tubuh Aridiansyah tidak akan pernah sempurna tanpa Zahrana-nya..." Terang Ardiansyah mencoba memaparkan isi hatinya.


"Huuuu..." Sorak Zahrana mengejek.


"Lagian kamu pakai tanya segala sih..." Rungut Ari dengan wajah memerah padam ulah tingkah Zahrana yang sama sekali tidak peka dengan ucapannya.

__ADS_1


"Tadi aku lihat kamu bahagia sekali, Ri... Ada berita apa nih?"


"Coba tebak! Ada apa-nya..."


"Nggak tahu..." Sahut Zahrana tidak menanggapi suasana hati Ari.


"Ah, nggak seru kamu, Zahra..." Ucap Ari bersungut kecil. "Sebenarnya kamu kenapa sih? Pasti kamu lagi sedih, kan? Ayo cerita..." Paksa Ari lagi.


"Enggak ada masalah apa-apa kok, Ri..." Tukas Zahrana bersikukuh menyembunyikan suasana hatinya saat itu. "Apa ibumu hamil lagi?" Gurau Zahrana kembali mencoba berolok-olok.


"Apa?" Ari melotot mendengar pertanyaan Zahrana yang begitu menjengkelkan baginya.


"Kamu kelihatan bahagia sekali. Apa ibu hamil lagi? Kalau iya, selamat ya, Ri... Kamu bakal punya adik bayi deh..." Sambung Zahrana semakin membuat Ari jengkel.


"Apaan sih kamu? Jangan ngada-ngada ya... Bikin darah tinggiku kumat saja..." Geram Ari berlagak marah.


"Iya, itu dulu, Zahra... Sekarang aku sudah besar, malu tahu..." Ucap Ari bersungut.


"Kenapa harus malu?"


"Ah, sudahlah, Zahra... Kamu ini ada-ada saja. Jadi kamu tidak tahu kenapa aku senang, kan?" Tanya Ari mengembalikan topiq pembicaraan mereka tadi yang sempat hilang karena guyonan Zahrana.


"Tidak tahu, Ari... Aku tidak punya indra ke-enam..." Sungut Zahrana mulai jengah menebak jawaban atas kebahagiaan temannya itu.


"Aku lulus di Universitas xxx, Zahra...!" Seru Ari begitu bersemangat memberitahukan kabar mengapa hatinya begitu bahagia saat itu.


"Waaah... Hebat kamu... Alhamdulillah... Selamat ya, Aridiansyah..." Ucap Zahrana terlihat ikut senang mendengarnya. Tangannya berkatup menampakkan bahwa dia benar-benar bahagia atas keberhasilan Aridiansyah.


"Kamu sendiri gimana, Zahra? Kamu jadinya kuliah dimana?"

__ADS_1


"A-aku... Aku nggak jadi kuliah, Ri..." Jawab Zahrana kembali Murung. Kali itu dirinya tidak lagi mampu menyembunyikan kesedihannya.


"Loh, kenapa? Bukankah kamu ingin kuliah seperti kak Rianur?" tampak kekecewaan pada wajah Aridiansyah setelah mendengar pengakuan Zahrana.


"Iya, itu dulu. Sekarang sudah tidak lagi. Aku ingin nganggur saja dulu. Capek belajar terus, otakku rasanya buntu..." Ucap Zahrana beralasan.


Aridiansyah lebih dekat dengannya daripada siapapun, sehingga Ari tahu bahwasanya saat itu Zahrana tengah berbohong kepada dirinya.


"Apa karena biaya?" Terka Ari lirih.


"Hah?" Zahrana tercengang. Iya menatap mata Ari yang juga sedang menatap matanya dengan perasaan yang begitu dalam. "Kamu apaan sih, Ri? Aku saja yang malas kuliah. Perempuan itu ujung-ujungnya bakal jadi ibu rumah tangga, mengurus rumah, mengurus suami, dan kalau ada rezeki, ya ngurus anak... Lagian di antara kita berdua, kamu bisa meraih mimpi kita. Itu sudah lebih dari cukup bagi aku... Kamu sudah mewakilkan mimpiku untuk bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi..." Papar Zahrana mengoceh panjang.


"Zahra..." Panggil Ari seraya mencengkram kedua bahu Zahrana. "Tatap mata aku... Berbagilah sedikit saja untuk masalah yang kamu hadapi. Coba kamu ingat, siapa yang paling sedih jika kamu bersedih, hmm?" Aridiansyah mulai paham, saat itu Zahrana berucap banyak hanya untuk menutupi kepedihan di dalam hatinya saja.


Zahrana terdiam. Sejenak hening, lalu ia terisak-isak di hadapan Aridiansyah.


"Aku... Aku ingin sekali kuliah, Ri... Aku ingin..." Tangisnya pecah, membuat suasana pantai berubah mencekam karena suara tangisannya itu. "Tapi untuk apa jika keinginanku itu hanya memberatkan beban kedua orang tuaku, Ri? Aku enggak bisa melihat ayah dan ibuku susah... Aku nggak mau biaya sekolah adik-adikku dan biaya kuliah kakakku terlantar hanya karena aku menuruti keinginanku sendiri..." Ucap Zahrana di sela-sela isaknya.


Ari terpaku. Hatinya ikut perih mendengar nasib gadis di hadapannya itu. Ia menarik kepala Zahrana ke dalam dadanya, lalu membiarkan Zahrana menangis sejadi-jadinya di dalam sana.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2