SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
POBIA


__ADS_3

Ternyata ban mobil yang mereka tumpangi meletus. Tidak terjadi apa-apa yang membahayakan, hanya saja Zahrana masih terlihat begitu syok dan menggigil karenanya.


Sedari tadi Ajis menenangkan Zahrana, namun cairan bening itu tidak juga kunjung berhenti keluar dari matanya.


"Adik, ada Abang disini. Adik jangan takut..." Bisik Ajis sembari mengelus lembut bahu istrinya itu.


Hidayat yang membantu sopir travel mengganti ban, sesekali melirik kearah Zahrana dengan cemas. Namum ia percaya bahwa kakaknya itu akan baik-baik saja jika bersama Ajis.


"Maaf, Jis... Perjalanan kita jadi terganggu..." Ucap sopir itu ketika ia telah selesai mengganti ban mobilnya.


"Ah, tidak masalah... Itu hal biasa, Jar... Namanya juga buatan manusia..." Jawab Ajis sesantai mungkin.


"Hehe... Thanks, Broo... Nanti kita berhenti di bengkel mobil terdekat dulu ya. Kalau ban ini nggak ditambal, takutnya ada ban bocor lagi di sawangan sana... Bakal berabe kita jadinya..." Ucap sopir itu lagi.


"Oke, Jar... Santai... Kami juga tidak buru-buru..." Sahut Ajis.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan, dan ketika mendapati bengkel, perjalanan mereka kembali tertunda selama lebih kurang setengah jam.


Zahrana sudah terlihat baik-baik saja. Ia kembali terlelap di dalam mobil itu setelah ditenangkan Ajis sedari tadi.


Perjalanan kembali terasa aman bagi mereka. Mengingat kondisi Zahrana, Ajis tidak mampu tertidur lagi. Entah mengapa ia menjadi begitu mengkhawatirkan istrinya itu. Ia mulai nimbrung percakapan antara Hidayat dan sopir travel yang berada di depan.


"Ada apa lagi ini?" Oceh sopir ketika mendapati jalanan begitu macet panjang.


Suara sirine terdengar memekakkan telinga. Mobil Ambulance silih berganti datang dan pergi dari arah depan mereka.


Zahrana terbangun. "Ada apa disana?" Tanyanya sambil mengucek kedua bola matanya.


Sopir travel itu begitu penasaran, ia terus melajukan mobilnya ke arah depan. Padahal kendaraan yang melewati jalanan itu sudah dialihkan ke jalan lain.


"Ada kecelakaan kah?" Sontak Hidayat berseru. Guratan kecemasan terlukis kasar di wajahnya. Ia melirik Zahrana yang ketakutan menyaksikan suasana di sekeliling mereka.


Begitu mencekam. Suara sirine semakin membuat sesak dada Zahrana. Wajahnya berubah tegang.


"Bang Ajis!!! Kak Zahra, Bang...!" Seru Hidayat seraya mencondongkan tubuhnya ke belakang lalu meraih tangan Zahrana.


Ajis terkejut mendengar teriakan Hidayat. Ia segera mendongakkan tubuhnya untuk melihat keadaan istrinya itu. Tampak mata Zahrana membulat melihat kearah tandu pembawa mayat yang telah hangus terbakar.


Tangan Zahrana begitu dingin. Wajahnya terlihat pucat.


"Maaf, jalanan ini ditutup untuk sementara. Silakan berbalik dan mengikuti arahan..." Ucap seorang berseragam mendekati mobil yang mereka tumpangi.


"Apa yang telah terjadi, Pak?" Tanya sopir itu masih penasaran dengan situasi disana.


"Sejam yang lalu terjadi ledakan besar mobil tangki pertamina akibat tumburan dari kayu-kayu besar yang dibawa mobil volvo. Puluhan mobil terbakar, dan banyak korban jiwa yang belum terevakuasi." Papar petugas itu menjelaskan.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Zahrana meraung sehingga membuat Ajis berpindah ke posisinya dan memeluknya dengan sangat erat.


"Bang Fajar, tolong segera berbalik. Kita lewat alternatif lain saja, Bang..." Pinta Hidayat dengan nada panik kepada sopir travel. Dia yang paling mengerti mengapa kakaknya begitu.


Tanpa pikir lagi, sopir itu mengikuti permintaan Hidayat dan segera melajukan mobilnya kearah jalan lain.


Zahrana masih tersedu-sedu dalam tidurnya, meski mereka sudah jauh dari tempat kejadian. Perjalanan mereka menjadi lambat akibat jalan yang mereka tempuh begitu macet karena sempit.


Waktu zuhur datang. Mereka memutuskan untuk berhenti sebentar di masjid yang mereka temui saat itu.


"Kamu tidak ikut, Jar?" Tanya Ajis.


"Duluan saja, Jis... Aku lagi nunggu Hidayah..." Jawab sopir itu sembari menyeringai menyembunyikan malunya.


"Ahahaha... Bang Fajar bisa saja. Hidayat padahal sudah naik mobil Abang loh hari ini, kenapa masih ditunggu lagi? Apa jangan-jangan Bang Fajar nunggu kejadian tadi dulu ya?" Gurau Hidayat ikut menyahuti.


"Ah, kamu bisa saja, Yat..." Ucap Fajar dengan wajah mulai menegang.


"Beneran loh, Bang... Jangan sampai terlambat. Hidayah yang Abang tunggu bisa saja lewat tanpa sepengetahuan Abang loh..." Tambah Hidayat lagi.


Setelah berucap begitu, Hidayat kembali tertawa agar tak terlalu tegang dan serius di mata Fajar, sehingga sopir itu tidak berpikir bahwa Hidayat menggurui dirinya. Lalu Hidayat turun dan mengejar posisi kakaknya yang telah terlebih dahulu keluar dari mobil itu dengan tubuh sempoyongan menuju ke tempat berwudhu wanita.


"Kak Zahra sudah tidak apa-apa, Dek... Shalat sana..." Perintah Zahrana.


"Beneran Kak Zahra sudah tidak apa-apa?" Tanya Hidayat masih belum yakin.


Hidayat bergegas ke toilet pria. Disana ia berpapasan dengan Ajis yang telah selesai mengambil wudhu.


"Abang duluan, Yat..." Sapa Ajis.


"Iya, Bang..." Sahut Hidayat.


Usai shalat, Ajis dan Hidayat berbarengan memasang sepatu.


"Bagaimana kak Zahra 'mu, Yat?" Tanya Ajis masih mencemaskan istrinya itu.


"Tadi kata kak Zahra sudah tidak apa-apa, Bang..."


"Pasti kakakmu sangat syok melihat mayat-mayat tadi... Abang jadi merasa bersalah karena sudah lengah, Yat..." Ucap Ajis.


"Iya, Bang... Ditambah lagi trauma pada diri kak Zahra sepertinya sama sekali belum hilang..." Timpal Hidayat.


"Trauma?" Dahi Ajis mengernyit. Ia ternganga mendengar penuturan adik iparnya itu.


"Abang tidak tahu kalau kak Zahra memiliki phobia jika naik mobil?" Balas Hidayat bertanya.

__ADS_1


"Tidak..." Jawab Ajis dengan wajah menegang.


"Kak Zahra pernah mengalami kecelakaan bis waktu melakukan studi banding bersama teman-teman sekelasnya di SMA dulu, Bang... Akibat kecelakaan itu, setiap kali kak Zahra naik mobil, ia akan menggigil dan ketakutan." Tutur Hidayat. Ajis dibuat ternganga karenanya. Ia sama sekali tidak pernah mendengar hal itu dari istrinya sendiri.


"Tapi memang tidak heran. Kak Zahra memang begitu... Selalu saja menyembunyikan perasaan dan deritanya dari siapapun." Ucap Hidayat. "Hidayat pikir Abang tau, soalnya selama ini kak Zahra selalu bilang kemana-mana naik motor, bahkan pulang kampung yang jauh pun juga naik motor..." Tambah Hidayat.


"Kakakmu tidak pernah cerita, Yat... Abang bawa motor, karena memang cuma motor yang Abang punya." Ucap Ajis merasa bersalah tidak mengenali perasaan istrinya sendiri.


"Banyak yang tidak kita tahu tentang kak Zahra, Bang... Tapi yang jelas, kak Zahra melakukan itu semua agar kita tidak terbebani karena dirinya." Jelas Hidayat yang sudah hapal bagaimana sifat asli kakaknya itu.


Baru saja mereka bangkit hendak menuju ke mobil, Fajar datang.


"Mau ke toilet, Jar?" Tegur Ajis.


"Iya, Jis... Sekalian mau shalat." Jawabnya malu-malu.


"Owh.. Alhamdulillah... Kami tunggu di depan ya." Ujar Ajis sembari menepuk pelan pundak Fajar.


.


.


.


.


.


Hari ini up nya satu aja...


Kemarin up 2, tapi likenya kebanyakan satu aja...


hehehe


Bercanda, nggak mampu up banyak. Soalnya sambil jualan...


Makasih teman2 yang udah suka Ajis-Zahra...


Apa habis di angka 80-an saja kisah mereka?


Komentar ya...


Jangan marah dengan kejutan yang bakal terjadi...


Karya ini belum kontrak dikarenakan levelnya nggak naik2.

__ADS_1


Sekali lagi terima kasih buat teman2 yang udah ngedukung karya2 Radetsa...


Salam satu layar...


__ADS_2