
Zahrana tercenung. Seumur-umur dalam hidupnya, baru kali ini ia mengeluarkan suara bentakan terhadap adik bungsunya itu. Ia hanya gelisah, sehingga adrenalinnya tak sejalan dengan hatinya. Takut bahwa pertemuannya kali itu dengan Arya hanya menimbulkan fitnah.
Sungguh, sebenarnya ia ingin agar suaminya-lah yang menemaninya dalam pertemuan itu. Ia ingin memperlihatkan kemesraan dan rasa cintanya kepada Ajis yang begitu besar, sehingga tidak ada seorang pun yang bisa berharap agar mereka dapat berpisah hidup-hidup, termasuk Arya Irawan sendiri.
"Maafkan Kak Zahra, Yat... Kakak tidak bermaksud membentak kamu. Nanti akan Kakak jelaskan, bahwa sesungguhnya Kakak sedang cemas." Gumamnya sembari mendekapkan ponsel Arya yang baru saja ia gunakan untuk menelepon Hidayat ke dalam dadanya.
Rasa mual tiba-tiba membuatnya terguncang. Ia muntah-muntah hebat di westafel toilet tempat ia saat itu berada.
Setelah rasa mualnya hilang, tubuhnya malah menjadi lemas. Ia berusaha menguatkan tubuhnya untuk berjalan kembali ke tempat Arya.
Pandangan Zahran tiba-tiba mengabur, lalu ia mengedip-ngedipkan matanya itu berulang kali, barulah ia dapat melihat Arya dengan jelas di tempatnya semula bertemu.
"Zahrana? Bagaimana? Apa Hidayat jadi datang?" Tanya Arya ketika Zahrana telah berada dekat dengannya.
"Sebentar lagi dia datang. Ini ponsel kamu, terima kasih, ya..." Ucap Zahrana seraya menyodorkan ponsel Arya yang dipinjaminya tadi, lalu duduk di hadapan Arya.
Ia melirik ke sekelilingnya, pandangannya kembali mengabur. Semua wajah hanya membayang dalam penglihatannya.
"Zahrana, kamu kenapa? Kamu baik-baik saja, kan?" Arya memerhatikan wajah Zahrana dengan seksama.
"Aku baik-baik saja kok..."
"Tapi kenapa wajah kamu pucat begitu?" Tanya Arya lagi dengan tatapan semakin intens.
"Aku risih, Arya... Perasaanku mulai tidak enak. Katanya, kamu mau bicara... Sekarang bicarakan saja..." Desak Zahrana masih dengan nada yang ditahannya. Ia juga tidak ingin terlalu percaya diri tentang apa yang diduganya terhadap pandangan Arya kepadanya, sehingga pada akhirnya ia hanya akan menyakiti perasaan Arya nantinya.
__ADS_1
"Oh... Hemmm... Ini tentang perasaanku ke kamu, Zahrana..." Arya menunduk malu, sementara Zahrana terus menatapnya menunggu kelanjutan ucapannya yang menggantung.
"Zahrana... Sebenarnya, aku sudah lama menyukaimu..." Ungkap Arya.
"Menyukaiku?"
"Iya, Zahra... Bahkan ketika aku masih membayangkan bagaimana sebenarnya wajah teman onlineku ini dulu. Maukah kamu menjadi kekasihku? Aku siap menunggumu sampai kapanpun, Zahra... Sampai kamu bisa meninggalkan suamimu demi aku..." Terang Arya tanpa keraguan.
"Aku sudah menduga itu, Arya..." Ucap Zahrana mulai menampakkan ketidaknyamanan di hatinya.
"Ka-kamu tahu perasaanku?" Arya membelalak tak percaya.
"Iya, dan aku minta kamu melupakannya..." Cetus Zahrana datar.
"Karena aku yakin kamu keliru, Arya... Aku sudah bersuami..." Ucap Zahrana penuh amarah namun masih dengan suara yang mampu ia tahankan. Ia masih sadar bahwa saat itu ia berada di keramaian.
"Kamu memberiku rasa nyaman, Zahrana... Dan bagaimana mungkin aku bisa melupakannya? Itu sama sekali tidak semudah membalikkan telapak tangan, Zahrana..." Protes Arya seperti tak mau tahu.
"Astghfirullah... Jadi, selama ini aku yang salah... Dengan mudahnya aku memberi kesempatan terhadap orang lain untuk masuk ke dalam hidup rumah tanggaku..." Cetus Zahrana setengah berbisik. Dia menekan-nekan keningnya dengan telapak tua tangannya sendiri.
"Apa, Zahra? Kamu menyesal?" Tanya Arya terlihat kecewa mendengar ucapan Zahrana.
"Bukan begitu, Arya... Tapi..."
"Jadi selama ini kamu hanya memanfaatkan aku di saat kamu terpuruk? Tapi setelah perekonomian kamu naik kembali, kamu malah mencampakkan aku? Begitu?" Potong Arya seperti orang yang tidak mau menerima kenyataan.
__ADS_1
"Arya... Kamu memang bermanfaat selama ini bagi aku... Kamu bagai malaikat yang diturunkan Tuhan kepadaku dan keluargaku. Meringankan segala beban ku, menghapus gundah dan Kepedihanku. Tapi sungguh, aku tidak pernah berniat memanfaatkan kamu, Arya. Bagiku, kamu hanya teman, lalu berangsur menjadi sahabat. Tapi akhir-akhir ini, kamu seperti Hidayat bagiku. Kamu sudah aku anggap sebagai saudaraku, tidak lebih..." Jelas Zahrana memelas.
"Please, Zahrana... Aku tidak suka penolakan... Tolong jangan tolak aku... Kamu tidak tahu rasanya patah hati berkali-kali, dan saat ini patah hati karena aku mencintai sebelah pihak. Setidaknya berpura-puralah, sampai kamu tidak sadar bahwa kamu sedang berpura-pura dalam mencintaiku, dan sampai kamu mau meninggalkan suamimu demi aku... Aku siap menunggu waktu itu, Zahrana..." Arya masih keras kepala memohon agar Zahrana mau menerima dirinya.
"Aku mencintai suamiku, Arya... Maaf... Aku hanya mencintai suamiku hingga aku tiada di dunia ini. Jika memutuskan silaturahmi itu tidak baik, maka aku memilih berdosa memutuskan ikatan pertemanan di antara kita, daripada aku harus meninggalkan suamiku... Cinta tidak seegois ini, Arya... Dan tidak ada yang namanya patah hati dalam mencintai, karena dalam mencintai itu hanya ada bahagia. Bahagia melihat orang yang kita cintai bahagia, meski bukan bersama kita..." Tegas Zahrana bersikukuh menolak perasaan Arya.
Mata Arya memerah. Hatinya begitu sakit mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Zahrana.
"Maaf Arya... Aku rasa sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Aku harap kamu bisa mengerti. Dan maaf, karena tidak ada lain kali untuk pertemuan kita, kecuali ketidaksengajaan." Ucap Zahrana sembari mengemasi tas jinjingnya lalu segera berdiri.
"Zahrana..."
"Assalamu'alaikum..." Potong Zahrana cepat. Ia berjalan meninggalkan Arya yang masih terlihat berharap kepadanya.
"Zahrana..." Panggil Arya lagi. Ia ikut bangkit dan berlari mengejar Zahrana.
.
.
.
.
.
__ADS_1