SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
PENGAKUAN HIDAYAT


__ADS_3

Hy Arya Irawan... Aku salah seorang penggemar beratmu, Zahrana Habibah Marwan...


Andai suatu hari nanti aku bertemu denganmu, aku ingin mengucapkan terima kasih banyak karena telah menginspirasiku tentang keikhlasan...


Lewat film kamu yang berjudul 'hati seorang saudara', aku bisa ikhlas mengorbankan pendidikanku demi kakak dan adik-adikku... Kenapa kamu bisa terlalu menjiwai begini setiap memerankan tokoh dalam film?


Tidak salah jika kamu begitu digilai di seluruh Negeri ini, bahkan di beberapa Negara juga mengendus namamu sebagai aktor profesional...


Arya terpana. Hatinya dilema antara senang atau sakit saat itu. Seutas tulisan Zahrana yang diberikan Hidayat kepadanya, nyata untuk dirinya. Bahkan tidak hanya tulisan, poster-poster bergambar dirinya, diakui Hidayat adalah milik Zahrana dulunya.


Baru kali itu ia merasa tersanjung oleh sesuatu. Tetapi ia belum mengerti, mengapa ada tulisan Zahrana untuk dirinya. Padahal dahulunya Zahrana mengatakan sama sekali tidak tahu tentangnya.


"Cinta kak Zahra begitu besar untuk suaminya, Bang... Sehingga dia sengaja berbohong kepada Abang dengan mengatakan hal itu..." Ucap Hidayat.


"Terakhir kali pertemuan Abang dengan kak Zahra, membuat kak Zahra merasa tidak nyaman, meski waktu itu Abang bahkan belum mengungkapkan perasaan kepada kak Zahra. Kak Zahra sampai membentak Hidayat, hal yang membuat kak Zahra merasa bersalah karenanya..." Sambung Hidayat lagi.


"Lalu, bagaimana dengan masa lalu Zahrana, Yat? Masa dengan secepat itu ia melupakannya?" Tanya Arya masih tidak mengerti.


"Bismillah... Kak Zahra percaya dengan kalimat itu, Bang... Kak Zahra mengucapkannya ketika ia hendak menemui bang Ajis yang datang untuk melamarnya waktu itu. Dan kak Zahra percaya bahwa Allah yang menggerakkan hatinya untuk menerima bang Ajis sebagai suaminya. Perlahan-lahan cinta tumbuh di hati kak Zahra, hingga ia menyadari cintanya kepada bang Ari adalah sebuah dosa. Abang ingat, kan? Usai syuting kala itu kak Zahra sampai menangis tersedu-sedu. Itu semua karena kak Zahra menyesali kekeliruan di masa lalunya, Bang... Dia hanya mencintai bang Ajis seorang... Dan dia merasa telah mengkhianati bang Ajis sebagai jodohnya..." Cerita Hidayat begitu panjang mengenai kakaknya kepada Arya.


Arya tercenung. "Bisakah Abang menemui kakakmu, Yat? Abang ingin minta maaf kepadanya, kepada suaminya juga..." Pinta Arya penuh harap.


"Istirahatlah dulu, Bang... Abang belum tidur sepicing pun dari semalam..." Ucap Hidayat.


"Memang Abang sulit tidur sejak malam kemarin. Abang menerima pesan dari suami kakakmu lewat ponsel kakakmu sendiri. Mungkin kakakmu masih marah sama Abang, Yat. Sehingga suaminya yang membuka pesan dari Abang..." Keluh Arya.


"Tidak, Bang... Bahkan bang Ajis juga menyesali kemarahannya kepada kak Zahra... Bang Ajis sempat mendengar ucapan Abang waktu mengungkapkan perasaan Abang kepada kak Zahra waktu itu. Bang Ajis marah dan pergi tanpa mendengar semuanya. Sesampai di rumah, kak Zahra hampir saja ditalaq bang Ajis... Hal yang paling menyakitkan dan disesali bang Ajis sampai saat ini." Bantah Hidayat tentang dugaan Arya.


"Astagaaa... Sampai segitunya, Yat? Yaa Allah... Pasti Zahrana begitu terluka dan sangat-sangat marah pada Abang, Yat..." Sesal Arya. Wajahnya memerah dipenuhi rasa bersalah.


"Abang tidak akan bisa tenang jika belum menemui mereka, Yat..." Ucap Arya terdengar merengek.


Hidayat menekan ruas matanya dengan dua jarinya. Ia menahan pedih yang saat itu ia rasakan.

__ADS_1


"Istirahatlah dulu, Bang... Masih pukul dua malam... Kalau Abang cukup istirahat, kita berangkat esok pagi." Ucap Hidayat seraya bangkit dari tepi tempat tidurnya itu.


Ya, mereka sampai disana jam sebelas malam tadinya, ketika rumah keluarga kecil milik orang tua Zahrana itu pun juga sudah mulai sepi dari para tetangga yang mengadakan takziah untuk Zahrana.


*****


Pagi-pagi Arya sudah terbangun. Sejak ia mengenal Zahrana, dan diajarkan tentang agama oleh kakak Hidayat itu, ia begitu rajin menunaikan ibadah shalat lima waktu. Bahkan ia juga sempatkan membaca qur'an walau sedikit terbata-bata.


Masih terasa mimpi baginya bisa berada di rumah perempuan yang ia cintai, meski hanya sebatas menjadi tamu semata. Tapi baginya itu telah lebih dari cukup.


"Kok sudah rapi, Nak?" Tanya bu Zainab masih terlihat lesu pagi itu.


"Hidayat dan bang Arya mau berangkat sekarang, Bu..." Jawab Hidayat seraya duduk di samping ayah dan ibunya.


"Apa nak Arya tidak lelah?" Tanya ibu beralih kepada Arya.


"Tidak, Bu... Sudah biasa begini. Kadang Arya harus tidur di dalam mobil demi pekerjaan." Sahut Arya sedikit tersenyum.


"Sarapan dulu ya... Tadi kak Rianur sudah masak..." Perintah ibunya lagi.


"Ibu dan Ayah tidak ikut?" Tanya arya tampak sungkan.


"Ayah dan ibu nanti saja. Nak Arya duluan saja sama Hidayat." Jawab Umayyah.


Mereka langsung menuju meja makan. Disana Arya hanya mememukan lontong sayur, hal yang tidak biasa ia makan sebelumnya.


"Cuma ada ini, Bang... Kalau Abang tidak suka, biar nanti Hidayat belikan roti di warung..." Ucap Hidayat ketika melihat ekspresi wajah Arya yang sulit dimengertinya.


"Tidak perlu, Yat... Abang ingin sekali memakam ini. Pasti enak..." Cegat Arya cepat, lalu Arya duduk dan menyendoki lontong sayur di hadapannya ke dalam piring kosong.


"Bagi kami ini sangat enak, Bang... Entah bagi Abang..." Ucap Hidayat seraya ikut duduk di samping Arya.


"Bismillaahirrahamaanirrahiim..." Desir Arya pelan lalu menyuap lontong yang sudah disirami kuah itu ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Ia mengunyah dengan pelan menikmati apa yang dimakannya saat itu.


"Yaa Allah, Yat... Ini sangat enak..." Ucap Arya sembari menyuap lagi. Ia terus menyuap dengan cepat hingga lontong sayur dalam piringnya habis, bahkan kuahnya pun tak tersisa.


"Kapan lagi Abang bisa menikmati sarapan seenak ini, Yat?" Tanya Arya seolah belum puas, namun perutnya telah kenyang jika harus menambah lagi.


"Kapanpun Nak Arya mau, Nak Arya bisa datang lagi kemari..." Terdengar bu Zainab yang menyahut dari belakang mereka.


"Eh, Ibu..." Ucap Arya malu-malu.


"Tidak menyangka Ibu bisa bertemu langsung dengan Nak Arya... Dari gadis, Zahra seringkali menonton film-filmnya nak Arya. Dan setelah bersuami, Allah mempertemukan kalian dengan cara-Nya... Terima kasih ya, Nak Arya... Zahra sudah menceritakan semuanya kepada kami..." Tutur bu Zainab. Air matanya kembali bergulir, dan sesegera mungkin ia seka.


"Saya juga senang, Bu... Karena Ibu yang memberi saya harapan, maka saya akan sering datang kesini..." Ujar Arya sembari tersenyum. Ia tidak mengerti kenapa harus ada air mata pada ibunya Zahrana. Pikirnya hanya sejauh bu Zainab merasa terharu akan hal itu.


"Ibu dan ayah pasti senang karenanya. Ibu tunggu kedatanganmu lain kali ya, Nak..." Ucap bu Zainab dengan membalas senyum Arya, dan Arya pun menganggukinya.


.


.


.


.


.


Hallo teman2


Radetsa tahu ada yang kecewa akan keputusan Radetsa terhadap taqdir mereka.


Tapi dua eps lagi bakal Radetsa tamatkan ya... Tentunya akan membuat teman semua penasaran bagaimana tamatnya...


Tetap ikuti terus SCDB sampai tamat, dan sampai ada pengumuman karya baru lagi.

__ADS_1


Terima kasih teman2


Salam satu layar🤗


__ADS_2