SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
ARYA IRAWAN


__ADS_3

Sumpah! Kok loe bisa buat cerita penuh bawang begini sih? Gue yang nggak biasa nangis, gue yang notabennya pantang ngeluarin air mata, malah sampai berderai deras air mata gue pas baca novel lu... Untung aja nggak ada siapa-siapa pas gue baca novel loe itu...


"Begitukah?" Zahrana sangat senang mendengar pujian dari teman online-nya itu. Keinginannya untuk menolong orang itu dalam belajar agama membuat Zahrana tidak berpikir panjang untuk memberikan nomor ponselnya. Dan saat itu pun mereka sedang teleponan berdua.


Oh iya, gue mau video call dong... Pengen lihat wajah lu... Pinta orang itu


"Untuk apa?" Tanya Zahrana dengan dahi mengerinyit. Entah kenapa hatinya merasa gundah setelah mendengar permintaan orang yang sebenarnya sama sekali tidak dikenalnya.


Ya, apa salahnya? Kita jadi bisa lebih leluasa ngobrolnya, dan gue juga bisa lebih mudah memahami Ucapan lo ketika belajar salat dan mengaji.


"Kayaknya enggak usah dulu deh... Aku belum siap mengenal kamu lebih jauh." Tolak Zahrana dengan halus. Sungguh, dia hanya tidak ingin orang itu salah paham dan mengira dirinya terlalu Naif dan munafik.


Kenapa? loe jelek ya? Ledek orang itu bergurau.


"Mungkin, tapi bukan itu alasannya..." Jawab Zahrana ragu.


Lah, terus apa dong? Loe malu ya? Padahal gua baru aja mau jujur pada loe, tentang siapa diri gue yang sebenarnya.


"Memangnya penting bagi aku kamu itu siapa? Sekarang yang paling penting, kamu itu cepat-cepat bisa shalat dan mengajinya, biar kamu nggak terus-terusan bayar aku..." Tutur Zahrana masih kekeh terhadap pendiriannya.


Zahrana mulai risih, perasaannya seakan ia merasa bersalah terhadap suaminya. Namun di sisi lain, ia mulai merasa nyaman dengan situasi yang terjadi pada saat itu.


Gue ini artis terkenal loh... Dan gue yakin, loe pasti mengenali gua...


"Artis? Hehehe... Bisaan kamu ya? Lagian aku tidak begitu peduli tuh..." Ketus Zahrana terdengar acuh.


Yakin nggak peduli? Gua artis terkenal yang beberapa tahun ini banyak penggemarnya loh...

__ADS_1


"Oh ya? Siapa memangnya? Mungkin aku ada tahu tentang kamu, kalau memang benar jika kamu adalah seorang artis terkenal..." Ucap Zahrana terdengar menantang.


Gua, Arya Irawan...


"Arya Irawan?" Bisik Zahrana terkejut. Ekspresi wajahnya tampak sulit untuk dibaca setelah mendengar pengakuan orang itu.


Ya, Arya Irawan adalah artis terpopuler semenjak lima tahunan terakhir. Namun akhir-akhir itu namanya memang sering terekspos media mengenai skandal percintaannya dengan seorang perempuan cantik yang berprofesi sebagai model. Isu miring membuncah namanya sebagai artis playboy yang sering menykiti banyak wanita.


Kenapa loe mendadak diam begitu, heh? Loe kaget kan? Masih nggak peduli? Atau jangan-jangan, Loe termasuk penggemar berat gua lagi? Ujar Arya begitu percaya diri.


"E-nggak tuh... Aku pernah denger sih tentang Arya Irawan, tapi aku nggak terlalu tahu. Aku nggak terlalu suka nonton TV..." Ujar Zahrana.


Masa sih? Zaman sekarang masih saja ada orang yang nggak suka nonton TV? Setidaknya loe bisa buka di HP juga tuh...


"Aku mah nggak peduli. Aku terlalu sibuk sama novel-novel aku, dan juga rumah tangga aku..."


Hahaha... Gua pikir gua memang sudah terkenal di seantero Negeri ini. Eh, rupanya masih ada manusia katrok kayak loe yang enggak kenal gue... terdengar tawa Arya menggelegar dari seberang


Hahaha Arya masih tertawa.


"Ah, sudah ah... Aku mau lanjut nulis Novel. Mana tahu aku dapat kesempatan meraih reward, aku lagi pusing mikirin uang. Hidup kita jelas berbeda jika kamu beneran seorang artis terkenal. Pantasan saja kamu bisa bayar aku mahal, padahal cuma buat ngajarin kamu sholat dan mengaji doang..."


Etet, tunggu dulu... Loe lagi butuh uang? Berapa? Untuk apa?


"Ngapain kamu nanya-nanya? Bukan urusan kamu tuh..." Ketus Zahrana.


Iya, gue tahu itu bukan urusan gue... Tapi, mana tahuan saja gue bisa bantu. Ujar Arya dengan suara kembali datar dan terdengar serius.

__ADS_1


"Nggak usah lah... Aku enggak butuh uang percuma-cuma dari kamu. Aku Bukan pengemis..." Ujar Zahrana menolak tawaran Arya.


Ya sudah... Gini aja, gue kemaren sempat lihatin novel loe ke sepupu gue. Dia penerbit buku-buku dan majalah, dan dia tertarik sekali buat mencetak novel loe. Tapi sayangnya, novel loe sudah dikontrak sama aplikasi tempat loe menulis, kan?. Nah, loe buat novel baru gih, nanti langsung aja kirim ke alamat gue. Biar gue minta sepupu gue buat nerbitkannya. Keuntungannya bisa berlipat ganda jika peminatnya banya loh....


"Masya Allah... Benar kamu bisa bantu aku?" Tanya Zahrana kembali bersemangat.


Akan gue usahakan yang terbaik buat loe sebagai ungkapan terima kasih gue... Jadi, kapan loe bisa serahin naskahnya ke gue?


"Emmm... Sebenarnya aku punya satu novel yang masih tertata rapi dalam buku tulisku. Tapi aku ragu ada atau tidak peminatnya nanti..." Ujar Zahrana tampak kurang yakin.


Ah loe... Belum mencoba saja sudah menyerah. Optimis dong... Padahal loe sering banget ngelarang gue supaya tidak pesimis dalam belajar agama...


"Iya deh, aku coba..."


Ya sudah, nanti gue kirim alamat gue ke inbox ya... Gue mau baca dulu novel loe, sebelum orang lain yang baca...


"Iya iya... Terima kasih ya..."


Zahrana kembali harap-harap cemas. Setelah telponnya berakhir, ia mengambil buku tulis di dalam laci nakas samping tempat tidurnya. Lama Zahrana memandangi buku itu sambil membukanya lembar demi lembar.


"Maaf, Aridiansyah... Aku tidak berniat sama sekali memanfaatkan masa lalu kita. Tapi aku butuh..." Ucap Zahrana sendu.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2