
Malam kedua bagi Zahrana tanpa Ajis di sisinya. Berkali-kali ia mencoba menghubungi suaminya usai Maira tertidur, namun tidak sekalipun yang menyambung.
Zahrana cemas. Ia menjadi gusar dan semakin sulit untuk tenang. Karena takut membuat tidur adik iparnya terganggu, ia memilih duduk di sofa ruang tamu sambil memerhatikan ponselnya menunggu bunyi notif pesan terkirim kepada suaminya itu.
Zahrana menguap menahan kantuk. Matanya memerah dan berair. Akan tetapi tidak bisa ia bawa untuk tidur barang sepejam pun. Kepalanya mulai terasa berat akibat rasa kantuk itu. Sesekali ia melirik ke arah jam dinding.
"Sudah pukul dua pagi, tapi kenapa nomor bang Ajis belum aktif juga?" Gumamnya. Ia mulai menangis. Rasa khawatir semakin menyakiti hatinya.
"Abang dimana sih?" Isaknya sambil memeluk kedua lututnya.
Ia menyeka paksa air matanya yang terus saja mengalir. Tiba-tiba rasa lapar juga menggerayang pada malam itu. Ia bangkit dan berjalan mengendap-endap kearah belakang untuk mengambil sisa makanan semalam yang masih ada di dalam tudung saji di atas meja makan.
Rasa lapar yang berlebihan membuat perutnya semakin terasa perih ketika ia isi. Perasaan mual ikut mengganggu suasana hatinya yang buruk saat itu. Ia berlari ke dalam kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya tanpa tersisa.
Zahrana kembali ke ruang tamu dengan sempoyongan. Suasana hatinya semakin memburuk, ia menangis dan terisak-isak.
"Bang Ajis kemana?" Bisiknya di sela-sela isak tangisnya. Ia seperti anak kecil yang kehilangan ibunya. Ia menangkupkan wajahnya ke sandaran sofa dan menangis sejadi-jadinya.
TING TING TING
Suara notif pesan terkirim terdengar berkali-kali dari ponselnya. Tiada sabar, ia segera menelepon Ajis.
Ketika telepon menyambung dan bahkan belum ada ucapan salam, ia sudah melubruk Ajis dengan banyak pertanyaan.
"Abang kemana saja? Kenapa nomor Abang tidak aktif? Apa Abang sudah sampai di rumah? Kata Abang, Abang kan berangkatnya sore tadi..."
"Assalamu'alaikum, Adik..." Bukan menjawab pertanyaan Zahrana, Ajis malah mengucapkan salam.
"Wa'alaikum salam..." Jawab Zahrana sambil merengut. Perasaannya perlahan-lahan mulai terasa baik ketika mendengar suara suaminya itu.
"Adik kok marah-marah?"
Zahrana tidak menjawab, ia semakin terisak.
"Kok Adik menangis?" Tanya Ajis terdengar khawatir.
"Abang ja-hat..." Ucap Zahrana sesenggukan.
"Loh, kok? Adik baik-baik saja, kan? Adik nggak lagi sakit, kan?" Ajis terdengar semakin khawatir.
"Abang jahat... Abang buat Zahra khawatir..."
"Yaa Allah... Maaf, Adik..." Ucap Ajis mulai menyadari mengapa istrinya itu menangis.
__ADS_1
"Adik di kamar Maira, kan?"
"Tidak, Zahra di sofa ruang tengah..."
"Ngapain?"
"Zahra nggak bisa tidur, Abang... Zahra takut ganggu Maira tidur karena Zahra gusar sedari tadi..." Sungut Zahrana masih terdengar kesal.
"Hemmm... Maafin Abang ya..."
"Ummm..."
"Jangan cemberut gitu, nanti cantiknya hilang..." Bujuk Ajis lewat telepon itu.
"Biarin..."
"Padahal Abang mau kasih kejutan loh..."
"Nggak mau kejutan..."
"Yakin nggak mau? Ntar nyesel loh..."
"Nggak mauu... Zahra mau-nya Abang..."
"Coba Adik buka pintu..." Perintah Ajis.
Zahrana sungguh berbahagia, suaminya ternyata benar-benar telah berdiri di hadapannya saat itu.
"Abang..." Panggilnya lirih. Air matanya mengucur dengan begitu saja dari pelupuk matanya yang menyembab.
"Adik kok menangis begitu?" Ajis bertanya sembari mengusap lembut pipi Zahrana yang basah.
"Pokoknya Zahra nggak mau lagi ditinggal." Dengus Zahrana dengan merengut. Ia meraih tangan suaminya itu, lalu mengecupnya.
Ajis terkekeh.
"Jangan tertawa. Awas saja, Abang... Abang juga bakal merasakannya nanti." Kecam Zahrana.
"Merasakan apa?"
"Zahra tinggalin Abang..." Ucapnya terdengar mengancam.
"Memangnya Adik akan kemana?" Tanya Ajis seraya masuk dan mengunci pintu. Ia menggandeng tangan Zahrana menuju ke kamar almarhum neneknya yang sudah lama tidak terpakai, namun tetap bersih dan terawat.
__ADS_1
"Zahra pulang kampung, trus Zahra tinggalin Abang di rumah kita..." Sungut Zahrana sembari bergelayut di lengan suaminya itu.
Ajis terkekeh lagi. "Ditinggal sebentar saja Adik sudah nangis-nangis begini, ketahuan saja Adik tidak bisa jauh dari Abang. Sekarang malah berpikir buat ninggalin Abang." Ejek Ajis.
Zahrana semakin merengut. "Cuma Zahra yang merindu di saat jauhan, Abang tidak... Iya-lah..."
Ajis terkekeh lagi lalu ia mendekap Zahrana begitu erat. "Siapa bilang, hmm? Abang juga tersiksa jika lama jauh-jauh dari Adik... Abang sangat rindu, makanya Abang langsung kesini." Ungkap Ajis terdengar begitu lirih. Ia mengecup pucuk kepala Zahrana begitu lama dengan perasaannya yang sangat dalam.
Zahrana terbuai akan perlakuan Ajis. Ia membalas pelukan suaminya itu dengan erat pula.
Perlahan-lahan Ajis mengeluarkan Zahrana dari dekapannya, lalu ia menatap wajah cantik itu lama-lama. Ia menangkupkan wajahnya dan menarik tengkuk Zahrana dengan pelan hingga bibir mereka bersatu.
Nafas mereka turun naik hingga lama-lama terdengar suara yang semakin bergairah.
Ajis membawa tubuh Zahrananya ke atas dipan berukuran sedang di dalam kamar itu. "Abang rindu, Adik... Sungguh, Abang rindu..." Ungkapnya berbisik di telinga Zahrana.
Tangan Ajis begitu liar meraba setiap jengkal tubuh perempuan miliknya itu, lalu melepas satu persatu pakaian yang membalutinya.
"Abang...?" Desah Zahrana merasakan perasaan bergemuruh di dalam dadanya. Meski bingung, namun nalurinya tak bisa menolak. Ia tidak pernah terbuai seperti itu sebelumnya, tapi saat itu berbeda, Ajis begitu buas menurutnya.
"Bismillah, allahumma jannibnas-syaithaan wa jannibis-syaithaana maa razaq-tanaa." Desir Ajis lalu diikuti Zahrana. Bahkan Zahrana sendiri tidak menyadari aksi suaminya itu sudah sampai kesana. Dalam pikiran sadarnya, ia bingung karena melakukan hal itu di rumah mertuanya.
*****
Zahrana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia begitu malu saat itu untuk melihat wajah suaminya. Ia begitu yakin bahwa rona wajahnya bahkan mengalahkan warna tomat masak.
"Orang rumah belum bangun, Dik... Yuk kita mandi bareng..." Ajak Ajis berusaha menenangkan kecemasan istrinya itu.
"Zahra malu... Nanti kalau ada yang bangun gimana? Sudah hampir jam empat loh, Bang..." Ucapnya masih dengan menutupi wajahnya.
"Nggak apa-apa... Namanya juga suami istri..." Goda Ajis berusaha menahan perasaan malunya dan menyembunyikannya dari Zahrana.
"Abang kenapa jadi seberani ini sekarang?" Tanya Zahrana sembari melebarkan jemarinya mengintip Ajis.
"Tapi Adik kali ini senang, kan? Ayo pakai baju... Kita ke kamar mandi bareng."
Mau tidak mau Zahrana bangkit dan merogoh pakaiannya. Entah berapa kali ia melirik kearah jam dinding sebelum keluar dari kamar itu, berharap waktu lama berjalan, agar ia bisa mandi tanpa diketahui oleh orang-orang di rumah.
.
.
.
__ADS_1
.
.