SURGA CINTA DALAM BISMILLAH

SURGA CINTA DALAM BISMILLAH
CINTA YANG EGOIS


__ADS_3

Adakah cinta seegois yang gue rasa? Dia sudah bersuami, namun bagaimanapun caranya, gue mesti dapatin dia...


Pagi ini Arya tampak begitu bersemangat melajukan motornya. Hari ini adalah hari yang sangat ditunggu-tunggunya sejak dari semingguan lalu ia mengabarkan kepada Zahrana tentang konferensi pers film yang diangkat dari novel 'Bukan Salah Ibu Menyusui' milik Zahrana sendiri.


Ia sudah lebih awal datang ke lokasi, namun perempuan cantik yang ditunggu-tunggunya belum juga kunjung datang. Waktu terus berjalan hingga acara pun siap dimulai.


"Kemana dia? Bukankah katanya dia akan datang?" Gumam Arya harap-harap cemas sembari celingak-celinguk memerhatikan orang-orang yang datang.


Arya mengeluarkan ponsel pribadinya dan mencoba menghubungi nomor Zahrana.


"Halo, Assalamu'alaikum..." Terdengar sahutan dari Zahrana.


"Wa'alaikum salam... Kamu jadi datang, kan?" Tanya Arya begitu gugup.


"Iya, ini sudah ada di depan..."


Arya yang berdiri di loby melirik ke luar gedung. Ia mendapati sosok Zahrana bersama Hidayat memang sudah disana dan berjalan hendak masuk. Dia segera mengakhiri panggilan teleponnya dan bergegas menghampiri mereka.


"Aku pikir kamu tidak akan datang..." Ucapnya begitu kikuk.


Dahi Hidayat berkerut. Mungkin pertanyaan dalam benaknya sama dengan Zahrana pertama kali mendapati Arya memanggilnya dengan sebutan 'kamu'.


"Maaf, apa aku sudah sangat terlambat? Tadi motor Hidayat tiba-tiba mogok di jalan..." Ujar Zahrana beralasan yang sebenarnya.


"Ah, tidak juga... Acaranya baru saja akan dimulai." Bantah Arya. "Oh ya... Ngomong-ngomong suami kamu benar-benar tidak bisa ya menemani kamu? Apa pekerjaannya begitu sangat penting?"


"Oh... Hemm... Iya, suami aku baru saja belanja, dan hari ini kemungkinan ekspedisi pengangkut barang itu datang. Jadi, suami aku harus menerima surat resinya sebagai bukti bahwa barang sudah diterima oleh kios kami." Jawab Zahrana tanpa menyudutkan suaminya kepada Arya.


"owh... Ya sudah, ayo kita masuk..." Ajak Arya begitu lunak.


Zahrana mengangguk, lalu mereka berjalan ke dalam ruangan yang sudah disewa khusus untuk acara tersebut.


"Hidayat tunggu di luar ruangan saja ya, Kak Zahra... Nanti kalau Hidayat sudah jadi wartawan, Hidayat barulah mau masuk..." Ucap Hidayat menghentikan langkahnya ketika sudah berada di depan pintu.


"Masuk sekarang juga tidak apa-apa kok, Yat..." Sela Arya yang mengerti perasaan sungkan adik dari perempuan yang ditaksirnya itu.


"Nggak apa-apa kok, Bang... Nggak enak juga. Lagian saya malu, Bang..." Elak Hidayat.


"Ah, ada-ada saja kamu, Yat... Pakai malu segala..." Ketus Arya sembari menyeringai kecil.


"Ya, sudah... Kak Zahra masuk dulu ya... Nggak lama kok. Iya kan, Ar?" Tanya Zahrana beralih kepada Arya.


"Iya, palingan sejam lah..." Jawab Arya sambil melirik jam di tangannya.


"Hah?" Zahrana tercengang.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, Kak Zahra... Kakak nggak usah khawatirkan Hidayat. Ada kesibukan yang membuat Hidayat nggak bete kok, Kak..."


"Bener?" Zahrana masih belum yakin untuk meninggalkan adiknya disana.


"Iya, Kakak... Ayo, kak Zahra buruan masuk... Orang-orang pasti sudah nungguin Kak Zahra dan Bang Arya..." Suruh Hidayat yang mengerti perasaan bersalah Zahrana.


Pada acara kali itu Zahrana terlihat risih. Cahaya kilat kamera tak berhenti menerpa wajahnya. Beberapa pertanyaan pun mengarah pada dirinya.


Dia cukup gugup ketika ditanyai dari mana dapat ide cerita seperti itu.


"Di zaman sekarang sangat banyak remaja-remaja keras kepala yang tidak patuh akan larangan Tuhan. Mereka berikrar atas nama cinta tanpa memikirkan Sang Pemberi cinta itu sendiri.


Menikah dengan pasangan satu susuan sama saja menikahi orang yang sedarah dengan kita. Dan apabila kita baru mengetahui itu setelah kita saling mencintai, maka keteguhan iman yang akan menjadi tantangannya.


Cinta yang sebenarnya adalah, berani meninggalkan demi sebuah kebaikan. Tidak ada yang namanya egois dalam sebuah cinta, karena cinta dan egois itu sendiri tidak akan pernah dapat dipersatukan sampai kapanpun..."


Arya Irawan, lelaki yang sedari tadi memerhatikan Zahrana dengan perasaan yang begitu dalam, merasa bagai tertampar oleh kata-kata Zahrana.


Ia menatap sendu wajah Zahrana yang sama sekali tidak menoleh kepadanya.


Arya menggeleng keras. Ia tidak peduli dimana ia saat itu. Wajahnya yang berseri-seri berubah menjadi kusam.


Gue harus secepatnya mengungkapkan perasaan gue ke Zahrana. Gue nggak mau perasaan ini lama-lama menggila dan membunuh gue dengan perlahan-lahan... Batin Arya. Ia begitu Frustrasi saat itu.


Ketika acara usai, Zahrana bergegas keluar setelah berpamitan dengan seluruh orang yang terlibat dalam film, yang juga ikut datang ke sana.


Zahrana menghentikan langkahnya. Suasana semakin membuat ia terdesak dan takut. Tapi ia tetap menyiapkan senyumannya, berpura-pura tidak memahami kondisi yang kasat mata terjadi di antara mereka berdua.


"Ada apa, Arya?" Tanya Zahrana bersikap seolah tidak merasakan apa-apa terhadap perubahan cara pandang Arya kepadanya.


"Aku perlu bicara sama kamu, Zahrana..."


"Bicara apa?" Tanya Zahrana tetap berusaha sesantai mungkin.


"Pribadi sih? Kalau bisa cuma kita berdua..."


"Kalau gitu, lewat telepon saja..."


"Tidak, Zahrana... Aku perlu bicara serius... Bisakah?" Arya bahkan terlihat memelas menunggu jawaban darinya.


"Hmmm, baiklah... Lusa, mungkin aku bisa... Tapi aku tidak bisa hanya berdua, Ar..."


"Terserah kamu. Jika kamu mau bawa Hidayat juga tidak apa-apa. Aku tunggu kamu di 'Kampoeng Rotan', bagaimana?" Tanya Arya pasrah. Yang penting baginya dapat bicara dan mengutarakan perasaannya kepada Zahrana pada saat pertemuan mereka nantinya.


"Baiklah... Kalau gitu aku balik duluan ya, Ar... Aku mau langsung ke kios soalnya." Pamit Zahrana setelah mengiyakan permintaan Arya Irawan.

__ADS_1


Zahrana berjalan menghampiri Hidayat. Tampak adik bungsunya itu sedang berbincang dengan Kirana. Gadis yang disukai Hidayat dari pertama kali ketika gadis itu memakai Hijab pada saat memerankan sosok Habibah.


"Ternyata kamu disini, dek? Sudah selesai ngobrolnya? Bisakah kita pulang sekarang?" Tanya Zahrana begitu tidak sabaran.


"Kenapa buru-buru, Kak Zahra? Kita bahkan belum lepas kangen. Sudah lama juga kan, kita tidak bertemu..." Sela Kirana.


"Iya, maaf, Kiran... Kak Zahra harus ke kios. Kebetulan ada barang masuk hari ini..." Jawab Zahrana beralasan.


"Owh, begitu... Tapi kata Hidayat motornya ada di bengkel. Apa Kiran antar saja kalian?" Tawar Kirana.


"Tidak perlu, Kiran... Kak Zahra sebenarnya phobia naik mobil." Tolak Hidayat.


"Kak Zahra phobia naik mobil? Kok bisa?" Tanya Kirana terlihat tidak percaya mendengar penuturan Hidayat.


"Lain kali aku ceritakan... Boleh kan, Kak?"


"Iya, boleh... Sekarang kita pulang dulu ya..."


"Bawa motor Abang saja, Yat... Biar Abang ikutin pakai taksi..." Tiba-tiba Arya menyela pembicaraan mereka.


"Memangnya tidak apa-apa, Bang? Motor Abang kan keren, nanti kenapa-napa lagi..." Hidayat tampak senang ketika Arya menawarkan memakai motor miliknya. Hidayat sendiri sudah lama berangan-angan bisa membawa motor seperti motor miliknya Arya.


"Iya, tidak apa-apa kok, Yat..."


"Tapi..." Zahrana terlihat keberatan.


"Nggak apa-apa kok, Kak... Kan sama saja jika kita naik ojek. Kakak tetap suruh Hidayat yang bawa motornya, sementara si tukang ojek dua ngikutin kita dari belakang. Untung tukang ojek tadi percayaan. Nanti kalau nggak ada yang percayaan kayak tadi gimana?" Bujuk Hidayat agar Zahrana mau menerima tawaran Arya. Sementara Arya sendiri terlihat berharap.


"Hmmm... Baiklah kalau gitu..." Jawan Zahrana pasrah.


.


.


.


.


Assalamu'alaikum teman2...


Maaf, ya... Baru up. Handphone mulai rada2 rusak. Mau nulis, layarnya kek kepencet sendiri. Eh, tiba-tiba kebuka novel ENDRO SANG PENGAWAL. Jadi nangkring dulu deh disitu. Entah kenapa jadi tersentuh lagi pas baca kisah Endro. Jadi lupa waktu...


Kalau teman2 ada yang belum baca ENDRO SANG PENGAWAL, Radetsa rekomend deh novel yang itu.


Mampir ya

__ADS_1


Salam satu layar🤗


__ADS_2