
Beberapa bulan setelah kepergian Zahrana untuk selamanya, dua keluarganya tengah berkumpul di rumah Ajis. Mereka semua diundang oleh Arya untuk menonton film yang ia perankan di bioskop. Ya, film 'Bukan Salah Ibu Menyusui' yang diangkat dari novel Zahrana hari itu ditayangkan di berbagai bioskop di seluruh Tanah Air.
"Ayo, kita berangkat sekarang... Sebagian naik mobil saya saja... Kalau bisa dua Ibu, ya?" Ajak Arya dengan bersemangat.
"Eits tidak bisa..." Tiba-tiba muncul Ari bersama kedua orang tuanya dari depan. "Ibuku akan bersamaku..." Ucapnya tegas seraya mendekap bahu bu Zainab seolah memberitahukan tanda kepemilikannya yang tidak boleh diganggu gugat.
Bu Zainab terdiam. Ia melirik kearah bu Aulia dengan raut sungkan.
"Ayo, Bu Zainab... Ari begitu merindukan bu Zainab, katanya..." Angguk bu Aulia seraya mendekati ibunya Zahrana, lalu menarik lembut lengan beliau.
"Yaa Ampun... Baiklah, biar Hidayat, Maira dan Ibu bersamaku ya...?" Rayu Arya kepada ibunya Ajis. Semuanya terkekeh melihat wajah merengut Arya.
Mereka semua berangkat ke bioskop dengan beramai-ramai dan penuh suka cita. Ajis juga terlihat menikmati kebahagiaannya saat itu. Namun siapa yang tahu? Di dalam hatinya begitu remuk karena merindukan istri tercintanya.
Ia terus mengucapkan istighfar di dalam hati untuk menjadi penenang, juga agar Tuhannya tidak cemburu dengan perasaannya. Ia sungguh tahu, taqdir Tuhan tidaklah sia-sia untuknya. Dia juga paham, bahwa di dunia ini semuanya akan pergi menghadap Illahi. Karena semuanya tidak akan luput dari dua perkara itu, ditinggalkan atau meninggalkan.
Ketika menonton, film itu, Ajis begitu tenang. Ia telah terlebih dahulu membaca tulisan Zahrana untuk dirinya. Durasi demi durasi ia hayati sambil mengenang tulisan pesan dari mendiang istrinya.
Teruntuk suamiku tercinta, Abang Muhammad Ajis Andika...
Zahrana bahagia berjodoh dengan Abang... Demi Allah dan rasulullah, Zahrana mencintai Abang dengan kemengertian yang sangat tentang cinta.
Andai suatu hari Abang mengetahui cerita Zahrana di masa lalu, Zahra harap tidak ada kesalahpahaman serta keraguan di hati Abang untuk istri yang sangat mencintai Abang ini.
Masa lalu Zahra penuh dengan penyesalan untuk sekarang, Abang... Hanya saja Zahra belum berani untuk menceritakannya kepada Abang...
Abang lelaki baik yang mampu membuat Zahra jatuh cinta untuk kedua kalinya kepada lelaki, setelah mencintai ayah... Jangan salah paham ya, Bang... Zahra hanya mencintai Abang hingga napas Zahra terhenti...
Salam cinta untuk Abang seorang...
Semoga cinta kita selamanya, hingga bersambung ke season Jannah...
*****
Waktu terus berlalu. Ajis belum juga mampu menikmati hidup kembali seperti sebelumnya. Ia masih saja suka melamun dan mengurung diri di kamarnya.
Hari ini usai shalat shubuh, entah mengapa kerinduannya begitu dalam kepada Zahrana. Ia menggigil menahan rasa sakit yang berkobar di dalam jiwanya.
Ia berlari ke luar rumah menuju halaman belakang, tempat istrinya bersemayam untuk selamanya.
Ajis menjatuhkan dirinya dan memeluk nisan yang bertuliskan nama istrinya itu dengan sangat erat.
"Abang rindu, Sayang... Abang rindu..." Ucapnya dengan bibir bergetar. Air matanya telah menderas tanpa ia minta. Dadanya semakin sesak. Ia menangis tersedu-sedu ia hingga tertidur disana.
^^^^^
"Abang..." Panggilan halus terdengar memanggil dirinya. Ajis terjaga dari tidurnya. Ia tidak memerhatikan dimana dirinya saat itu.
"Adik?" Lirihnya. Ia berusaha menoleh ke semua arah untuk mencari sumber suara.
"Adik, Abang tahu itu Adik... Tapi Adik dimana?" Tanyanya. Ia melangkah kesana kemari untuk mencari keberadaan istrinya itu.
"Sayang, Abang rindu..." Rintih Ajis merasa lelah. Ia mulai pasrah dan berhenti mencari.
"Abang..." Suara Zahrana kembali terdengar, bahkan seolah nyata.
Ajis terpana. Bayangan istrinya telah berada tepat di hadapannya, namu penglihatannya begitu buram.
"Zahra juga rindu, Abang..." Ucap Sosok itu terdengar persis seperti suara Zahrananya.
Ajis mengulurkan tangannya hendak menembus bayangan itu, namun bayangan itu malah menghilang dari pandangan matanya.
^^^^^
__ADS_1
"Adik... Adiik... Adik..." Ajis terbangun dari tidurnya. Ia terlihat begitu terkejut dengan napas terengah-engah. Peluh membasahi seluruh pelipis matanya.
"Astaghfirullah hal 'Azhiim..." Ucapnya. "Ampuni hamba ya Allah..."
Ajis menatap lama makam istrinya sebelum memutuskan untuk beranjak dari sana. Pakaiannya terlihat kucel dan kotor, tapi ia tidak memerdulikannya.
Ia memasuki rumah dan mengambil kunci motornya beserta ransel mini yang biasa ia pakai, lalu ia kembali keluar rumah. Ia mengunci pintu rumahnya itu rapat-rapat, kemudian perlahan berjalan mundur seolah memberi kata perpisahan kepada rumah itu.
"Nak Ajis? Nak Ajis mau kemana?" Terdengar seruan bu Yanti dari balik pagar samping rumah.
"Bu Yanti... Saya mau ke kios, Bu... Titip rumah ya, Bu..." Sahutnya.
"Owh... Iya, Nak... Nak Ajis hati-hati, ya..."
"Iya, Bu... Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam..." Bu Yanti tersenyum. Ia tampak begitu lega saat itu ketika melihat Ajis lebih baik dari hari-hari sebelumnya.
Ajis mengendarai motornya menuju kios yang selama itu tidak pernah ia kunjungi.
Hanya beberapa menit, ia sampai di kios. Bayangan Zahrana menari di pelupuk matanya. Istrinya yang begitu ceria tengah berjalan masuk sambil menggandeng tangannya ke dalam kios mereka.
"Bang Ajis?" Hidayat yang baru saja keluar dari dalam kios menyerunya dengan gembira.
"Hai, Yat...Bagaimana? Kamu sudah paham ilmu berdagang?" Tanya Ajis seraya mendekati Hidayat.
"Alhamdulillah, Bang... Tapi sekarang, Abang sudah mau masuk lagi, Kan?" Tanya Hidayat menampakkan wajah yang begitu senang akan kehadiran kakak iparnya itu.
"Tidak, Yat... Abang hanya mau pamit sama kamu..." Bantah Ajis.
"Pamit?" Dahi Hidayat berkerut.
"Abang merindukan kakakmu... Abang ingin pulang kampung... mudah-mudahan saja Abang bisa lebih tenang disana..." Ujar Ajis.
"Sekarang, Yat... Tolong kamu tekuni hasil jerih payah kakak kamu ini, ya... Sering-sering juga berkunjung ke rumah Abang di kampung. Lihat ayah, ibu dan Maira..."
"Iya, Bang... Terus, kapan Abang kembali? Hidayat kan harus kuliah juga, Bang..." Tanya Hidayat seolah ingin protes.
"Kamu bisa sambil kuliah, Yat... Abang belum juga pergi, kamu sudah tanya kapan kembali." Sungut Ajis.
"Hehe... Ya sudah, Abang hati-hati... Titip salam buat keluarga di kampung, Bang..." Ucap Hidayat Sambil cengengesan.
Ajis hanya tersenyum. Ia merogoh kantong bajunya dan menyerahkan kunci rumahnya kepada Hidayat.
"Abang pulang, ya... Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam..."
Ajis siang itu langsung berangkat ke kampung menggunakan motor miliknya. Ia merasakan sosok istrinya sedang memeluk dirinya dari belakang, dan perasaan itu benar-benar menghangatkannya.
Setelah mampir di rumah orang tuanya, usai maghrib ia langsung ke rumah mertuanya. Hujan petir tidak membuatnya menghentikan laju motornya. Ia terus mengendarai motornya itu meski tubuhnya telah kuyup dibasahi hujan.
Di dalam rumah orang tua Zahrana, keluarga itu tampak merisaukan sesuatu. Namun mereka hanya bergeming di posisi mereka masing-masing, di ruang keluarga.
Beberapa kali ketukan dari luar rumah tidak dapat mereka dengar karena suara hujan yang begitu keras menimpa atap rumah tak berplafon itu.
"Mama.... Ada oghang..." Seru Faiz yang melihat sekelabat bayangan di depan pintu rumah.
"Dimana?" Tanya Rianur.
"Di lual... Itu tetok-tetok pintu..." Tunjuk Faiz kearah pintu rumah.
"Mus, tolong kamu lihat siapa yang datang... Hujan-hujan begini kok bertamu sih...? Kak Nur takut..." Pinta Rianur dengan menggidikkan bahunya.
__ADS_1
"Biar Ibu temani, Mus..." Ucap bu Zainab seraya bangkit mengikuti Muslim.
Muslim membuka pintu rumah setengah bagian.
"Bang Ajis?" Ucapnya seolah tak percaya.
"Nak Ajis? Yang datang kakak iparmu, Mus? Ayo suruh masuk..." Pinta bu Zainab yang tidak dapat melihat sosok Ajis.
"Assalamu'alaikum..." Ucap Ajis dengan gigi bergemelatuk menahan kedinginan.
"Wa'alaikum salam..." Ucap seluruh penghuni rumah. Semua merapat ke pintu karena terkejut akan kedatangan Ajis yang begitu tiba-tiba.
"Kenapa hujan-hujanan, Nak? Nanti kamu sakit..." Tanya Umayyah tampak mengkhawatirkan.
"Maaf, Yah, Bu... Ajis hanya ingin tidur di kamar dik Zahra... Ajis sangat merindukan dik Zahra, Yah, Bu..." Ucap Ajis terlihat memohon. Tubuhnya yang basah kuyup menggigil di depan pintu.
"Ambilkan kakak iparmu handuk, Mus..." Perintah bu Zainab dan diangguki Muslim, lalu ia bersegera mengambil handuk.
"Ayo, Nak... masuklah..." Ajak bu Zainab.
"Rianur, tolong bersihkan kamar Zahrana, Nak..."
"Tidak perlu, Bu... Tidak usah... Ajis mau langsung masuk saja..." Cegat Ajis.
"Tapi, Nak... Pasti banyak debu..."
"Tidak apa-apa, Bu..."
"Tapi..."
"Biarkan Nak Ajis masuk, Bu... Kasihan dia kedinginan..." Potong Umayyah cepat.
"Terima kasih, Yah, Bu... Kak Nur, Bang Ed, saya masuk dulu..." Pamit Ajis. Ia melangkah ke kamar Zahrana setelah mendapat sahutan dari keluarga itu.
Ajis membuka pintu kamar Zahrana dengan hati-hati, kemudian ia menghidupkan lampu kamar itu dari sisi sampingnya.
Ia berjalan perlahan ke tempat tidur. Disana ia menemukan oblongnya tengah menyelimuti guling. Ia tersenyum. Bayangan ketika ia vidio call malam itu kembali menari dalam ingatannya.
Ajis tidak mengganti pakaiannya, ia langsung merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur itu, di samping guling Zahrana.
"Adik tidur disini ya waktu itu?" Ia tersenyum. Lalu mengeluarkan pasmina milik Zahrana dan menyelimuti tubuhnya dengan itu.
Ia memejamkan matanya, tampak buliran bening mengalir dari tepi matanya. Ia masih tersenyum, namun matanya telah terpejam untuk menemui Zahrananya yang ia rindukan.
^^^^^
Zahrana berdiri menunggui dirinya. Dan ia malah tersenyum sambil terus berjalan kearah istrinya itu.
Mereka bergandengan tangan, lalu melenggang pergi bersama-sama.
.
.
.
.
.
.
Tamat...
__ADS_1