
Di depan ruko yang ditempati Ajis, terdapat banyak potongan barang berderet. Ekspedisi langsung yang menurunkannya disana, karena memang letak rukonya yang mampu dijangkau kendaraan besar.
Ajis menghentikan pekerjaannya sesaat ketika ia melihat Zahrana dan Hidayat telah kembali. Ia berniat menghampiri, namun urung di saat matanya mendapati Arya Irawan juga turun dari sebuah Taksi, lalu lebih dahulu menghampiri istri dan adik iparnya kesana.
"Jadi disini ruko kalian?" Tanya Arya sembari celingak-celinguk melirik deretan ruko yang berjajar disana.
"Iya, benar... Kamu mau mampir dulu?" Tanya Zahrana setelah membenarkan ucapan Arya.
"Sebenarnya sih pengen, tapi lain kali saja. Tampaknya di dalam benar-benar sibuk. Aku takut ganggu nantinya..." Jawab Arya dengan sebenarnya tampak ingin.
"Iya, Bang... Ditambah lagi mereka akan rame jika tahu Abang yang datang. Ini untung saja Bang Arya memakai kaca mata hitam dan topi begitu." Timpal Hidayat.
"Kamu bisa aja, Yat... Apa hubungannya coba?" Tepis Arya yang merasa dirinya mendapat pujian.
"Beneran loh, Bang... Secara, Abang kan aktor terkenal di seluruh Negeri ini." Cerocos Hidayat.
"Benar kata Hidayat, Arya..." Imbuh Zahrana. "Kalau begitu aku masuk duluan ya... Terima kasih atas pinjaman motornya."
"Iya sama-sama, Zahrana. Jangan lupa untuk lusa ya..."
Zahrana terdiam sesaat. Lalu mengangguk sembari tersenyum kecil menyahuti ucapan Arya.
"Ada apa dengan lusa, Bang...?" Tanya Hidayat begitu penasaran.
"Kepo kamu, Yat..." Ketus Arya sembari menyeringai.
"Kamu ikut masuk, Yat?" Tawar Zahrana.
"Tidak usah, Kak Zahra. Hidayat langsung ke kos saja. Ada pekerjaan yang harus Hidayat selesaikan..." Tolak Hidayat. "Bang Arya, Hidayat nebeng ya?"
"Siap..." Jawab Arya cepat.
"Kalau gitu Kak Zahra masuk ya... Sekali lagi, terima kasih, Arya..." Ucap Zahrana, lalu ia berjalan masuk ke kiosnya tanpa lagi ingin menoleh kepada Arya dan Hidayat yang masih memerhatikan dirinya. Ia begitu merindukan suami tercintanya meski hanya berpisah untuk beberapa saat saja.
Setelah ia benar-benar masuk, barulah Arya dan adik bungsunya itu pergi dari sana.
"Bagaimana acaranya, Sayang? Lancar?" Ajis tiba-tiba datang menghampiri Zahrana yang diam-diam mengintip kepergian Arya dan Hidayat dari dalam kios.
"Eh? A-abang?" Zahrana gugup. Ia dengan cepat mengambil tangan Ajis dan menyalami suaminya itu.
"Alhamdulillah lancar, Bang..." Jawab Zahrana berusah menepis kegugupannya saat itu.
__ADS_1
"Ada apa? Ngintip-ngintip apaan? Terus, Hidayat mana?" Tanya Ajis pura-pura tidak tahu.
"Oh... Hem... Hidayat sudah pulang bareng Arya tadi, Bang..." Jawab Zahrana semakin gugup. Perasaan bersalah membuncah di hatinya. Takut jika suaminya itu akan salah paham dengan situasi antara dirinya dengan Arya.
Ajis mengerutkan dahinya agar kepura-puraan yang ia lakukan terlihat nyata. "Arya? Jadi, tadi ada Arya?"
"Emm... Iya, Bang... Kami pakai motor dia, soalnya motor Hidayat tiba-tiba rusak ketika kami hampir sampai disana tadi paginya. Sekarang motor Hidayat malah di bengkel..." Jawab Zahrana dengan mengatakan yang sejujurnya.
"Hmmm begitu... Sekarang Sayang istirahat ya... Sayang pasti lelah..." Suruh Ajis sambil menarik lembut tangan Zahrana ke meja kasir. Di dalam hatinya, ia berusaha menepis rasa curiga yang terus saja tumbuh jika ia melihat wajah Arya, bahkan hanya sekadar ketika Zahrana menyebut nama aktor itu di depannya.
"Abang tadi belikan Zahra gorengan, Nggak? Zahra kepingin makan gorengan..." Tanya Zahrana mulai memanja.
"Tadi Abang beli gorengan, Sayang. Tapi karena Sayang lama, takutnya gorengan itu keburu dingin. Jadi, Abang suruh saja mereka memakannya." Tutur Ajis melirik ke karyawannya seraya membelai lembut kepala Zahrana.
"Hemm... Padahal Zahra kepengen banget... Buat kali ini nggak apa lah, tapi besok harus ya, Bang..." Ujar Zahrana tampak bersungut manja.
"Iya, Sayang... Besok pasti Abang belikan lagi. Maaf ya..."
"Iya... Zahra maafin... Hehe bercanda, Abang... Zahra tidak marah kok..." Seringai Zahrana.
"Ya sudah, Sayang disini saja. Abang balik kerja lagi ya. Alhamdulillah udah mau selesai. Cuma tinggal beberapa potong lagi, dan itu semua sudah ada pemiliknya langsung. Besok dan lusa akan dikirim ke alamat pelanggan..." Jelas Ajis seolah membujuk istrinya itu.
Ajis mengangguk. Ia tersenyum kecil sembari mengusap lembut pipi Zahrana.
Maafin Abang ya, Dik... Rasa ini tidak mudah untuk Abang tepis. Abang seolah merasa bahwa Adik saat ini tengah menyembunyikan sesuatu dari Abang. Semoga saja Abang salah telah menduga-duga itu semua...
*****
Malamnya, Zahrana mengatur rekaman suara di ponselnya. Ketika ia mendengar suara pintu kamarnya dibuka oleh Ajis, ia langsung mengaktifkan rekaman di ponselnya itu.
Ia malah menyambut kedatangan suaminya dengan melafadzkan shalawat tarafna dengan irama lagu yang begitu merdu.
"Ya robbana a’tarofna bi annan aqtarofnaa
Wa annanaa asrofna ‘ala lazho asyrofna
Fa tub ‘alaina taubatan tagsilu kulli haubatan
Wastur lanal ‘aurootii wa aaminirrou’atii."
Ajis begitu terpana ketika Zahrana mendekatinya lalu menggenggam tangannya. Zahrana juga memeluk dirinya dengan penuh kehangatan dan cinta.
__ADS_1
Ajis kemudian malah menyambung shalawat yang dibacakan Zahrana.
"Waghfir li waalidiinaa robbi wa mauluudiinaa
Wal ahli wal ikhwaani wa saairil khillani
Wa kulli dzi mahabbah aw jiirotin aw shuhbah
Wal muslimiina ajma’ aamiina robbiyasma’
Fadhlaw wa juudammanna laa bik tisaabim minnaa..."
Mereka saling tatap lalu bersama-sama mengakhiri shalawat tersebut.
"Bil mushtofar rosuuli nuhzho bi kulli suuli..."
Ajis mengecup dahi Zahrana begitu lama.
"Zahra cinta Abang selamanya..." Ucap Zahrana di dalam dekapan Ajis.
Ajis tak menyahut, pandangannya kosong ketika membalas pelukan Zahrana. Ada rasa takut di dalam hatinya jika Zahrana sedang bermain di belakangnya.
Zahrana kemudian melepaskan dirinya dari dekapan Ajis, lalu menatap suaminya itu dengan raut bingung.
"Abang tidak berniat membalasnya? Abang tidak cinta juga ya sama Zahra...?" Sungut Zahrana.
"Eh? Hmmm Abang cinta, Adik... Sangat menyayangi Adik hingga Abang takut kehilangan cinta Adik untuk Abang..."
"Sudah, cukup... Zahra tidak ingin mendengar lagi... Dan Abang tidak boleh berpikir yang bukan-bukan tentang Zahra... Zahra hanya mencintai Abang seorang..." Potong Zahrana. Lalu ia menyimpan rekaman yang baru saja ia buat tanpa sepengetahuan Ajis.
.
.
.
.
.
Biar bisa menikmati, putar juga shalawat tarafna yang 3 menit itu ya teman2... Dijamin baper mendengarnya.
__ADS_1